Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Balasan


__ADS_3

Paling nyaman memang melakukan perawatan di spa. Delilah memilih treatment seluruh tubuh. Selesai dipijat, dilulur, dan berendam air rempah, ini saatnya Delilah melakukan perawatan untuk tangan kakinya.


Empat orang tenaga ahli tengah mengerumuninya. Masing-masing dengan bagian yang akan membentuk kuku yang indah dan kuat.


"Mau pilih cat kuku warna apa?" salah satu wanita dari empat orang bertanya.


"Aku ingin yang bening saja," jawab Delilah.


Itu sebabnya ia tidak ingin membawa Kyomi karena perawatan di salon, membutuhkan waktu yang lama. Ini saja sudah sore, tetapi Delilah belum juga selesai.


"Loh, Delilah!"


Yang dipanggil namanya menoleh. Delilah tersenyum sinis melihat Chika dan Fely. "Oh, kalian di sini juga rupanya."


"Ini, kan, salon langganan kita." Chika menyahut.


Drema spa and salon, memang tempat langganan Delilah dan teman-temannya memanjakan diri. Wajar saja mereka bisa bertemu.


"Hai, Fely." Delilah mencoba menyapa sahabat lama yang sudah putus komunikasi dengannya.


Fely tidak menanggapi sapaan Delilah. Ia duduk di kursi yang telah tersedia. Begitu juga Chika. Mereka saling duduk berhadapan.


"Del, kau sungguh telah menikah dengan Nayaka?" Chika mulai dengan kekepoan dirinya.


"Kau tentu sudah melihat medsos-ku, kan?"


"Aku percaya jika kau sungguh telah menikah bersama Nayaka. Yang aku ragukan adalah, kau yakin, Nayaka, anak dari pengusaha itu?"


Delilah menarik sebelah sudut bibirnya. "Apa masih kurang jelas foto ayah mertuaku?"


Chika menyengir. "Rupanya Nayaka anak orang kaya."


"Bukan kaya saja, tapi kaya banget." Delilah mengatakannya dengan begitu angkuh.


"Kau tidak mengundang kami, Del." Chika terus bertanya, sedangkan Fely hanya menyimak.


Dalam hati, Delilah mengutuk Chika. Saat ia kesusahan membayar tagihan restoran, temannya ini malah pergi saja. Lalu, untuk apa ia harus mengundang sahabat seperti itu? Bagi Delilah, hubungan pertemanan ini telah putus.


"Kami hanya mengundang kerabat dekat saja. Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau aku traktir perawatan kalian? Terserah mau ambil paket apa," ucap Delilah menawarkan.


"Sungguhan?" Chika semangat mendengarnya.


Delilah mengangguk. "Tentu saja."


"Aku ingin kuku-ku dihias. Kemarin Mbak Sisi, menawarkan kalau ada hiasan dari emas dan berlian. Aku ingin yang berlian."


"Sungguh?" Delilah bertanya pada karyawan yang tengah mengecat kukunya.


"Iya, Nona. Namanya manikur es. Berlian yang ditawarkan dari 0,5 sampai 10 karat."


Delilah mengangguk. Ia memandang Chika. "Boleh, kau ambil paket itu saja. Biar aku yang bayar. Kau mau juga Fely?"

__ADS_1


"Aku tidak butuh." Fely menjawabnya dengan sinis.


Delilah mengedikan bahu. "Terserah kalau tidak mau. Mumpung aku lagi baik."


"Jangan dipaksa, Del. Biar aku saja yang kau traktir."


Karena terbiasa, Chika tidak tanggung-tanggung memilih berlian yang tinggi. 5 karat untuk sepuluh kuku tangannya.


"Aku sudah selesai perawatan, aku pergi duluan, ya," pamit Delilah.


"Kau hati-hati di jalan. Terima kasih traktirannya," ucap Chika.


Delilah hanya menanggapinya dengan senyuman. Ia keluar dari ruang perawatan kaki tangan, menuju kasir untuk membayar semua perawatannya.


"Berapa?" Delilah meminta bill tagihannya.


"250 juta, Nona."


"Heh, bagaimana bisa tagihannya 250 juta? Kalian ingin memerasku?"


"Bukannya perawatan Nona Chika, Anda yang bayar?" wanita yang menjabat sebagai kasir, tampak heran.


"Apa aku bilang padamu kalau aku akan membayar biaya perawatannya? Tidak, kan? Kenapa aku harus membayar tagihannya? Aku hanya bicara pada Chika dan dia mengganggapnya serius. " Delilah mengulurkan kartu debit yang Nayaka berikan untuknya. "Aku bayar perawatanku saja."


Kasir itu bingung. Perawatan manikur es memang diambil atas nama Chika. Tapi karyawan menyampaikan kalau Delilah yang harus bayar. "Baik, Nona. Totalnya hanya satu juta lima ratus."


Delilah tersenyum. "Terima kasih atas pelayanan kalian. Aku pergi dulu."


Sampai di kediaman Omar, yang pertama ia temui adalah putrinya. Kyomi sudah pasti tengah marah saat ini.


"Sayang!" seru Delilah yang langsung masuk ke kamar Kyomi. "Sayang Mama sudah mandi?"


Kyomi memalingkan wajahnya ke arah lain. "Ngapain Mama kemari. Pergi sana!"


"Maafin Mama, ya. Bukannya Mama mau ninggalin Kyomi. Mama cuma takut Kyomi bosan di sana."


Kyomi diam saja. Tetap saja ia marah lantaran sang ibu yang pergi begitu saja. Delilah berjalan mendekat.


"Kita ke rumah Kakek Reyhan saja, yuk!"


Mendengar nama Reyhan, wajah Kyomi berubah. "Ayo! Kyomi kangen Kakek Reyhan."


"Tunggu bentar, Mama ajak Papa dulu."


"Kyomi juga ikut."


Keduanya berjalan bersama menuju kamar. Saat Delilah dan Kyomi masuk, Nayaka juga baru keluar dari bilik mandi.


Kyomi berlari menghampiri Nayaka. "Papa, ayo, kita ke rumah Kakek Reyhan."


"Sekarang?"

__ADS_1


"Iya, Papa. Ayo, kita ke sana," ucap Kyomi seraya menarik lengan Nayaka.


"Iya, Sayang. Papa pakai baju dulu."


"Beneran, ya?"


Nayaka mengangguk. Kyomi lekas keluar, dan Delilah menutup pintunya. Ia berjalan menuju lemari, mengambil pakaian dalaman dan ganti untuk sang suami.


"Kau menjanjikan ini pada Kyomi?"


Delilah mengangguk. Ia melepas handuk dari pinggang Nayaka, lalu menggantinya dengan pakaian. "Kau bilang kita harus pamitan dulu."


"Kau bilang perlu waktu."


"Waktunya sekarang saja. Lebih cepat lebih bagus. Kau sendiri yang mengatakannya."


Nayaka mengangguk. "Ya, sudah kita pergi saja malam ini."


Makan malam bersama Omar harus dilewatkan Nayaka, karena ia tengah membawa keluarga kecilnya ke kediaman Reyhan.


Saat akan berangkat, Nayaka sempat menghubungi Anna kalau mereka akan datang, dan tentu Anna sangat senang mendengarnya.


45 menit perjalanan, mereka tiba di rumah megah bercat putih. Karena orang rumah sudah tahu, Nayaka akan tiba bersama keluarga kecilnya, pelayan pun sudah ada di luar untuk menyambut.


Ketika mereka masuk, Reyhan serta lainnya pun telah menunggu. Dari semua anggotanya, Reyhan dan Kiano masih tak acuh pada Delilah. Hanya si kembar dan Anna saja yang antusias menyambut mereka.


"Kakek rindu sama Kyomi?"


Rey tersenyum. "Kakek sangat rindu pada Kyomi."


"Tapi Kyomi akan pergi ke Dubai. Nanti kita video call saja setiap hari."


Reyhan terkekeh. "Iya, nanti Kyomi harus telepon Kakek setiap hari."


Seorang pelayan menyodorkan bingkisan pada Reyhan. Tapi, Kyomi yang malah menyambutnya. Ia mengguncang kotak itu.


"Ini hadiah untuk Kyomi, kan?"


"Iya, Kyomi buka saja." Kiano menyela.


Kyomi membuka kotak warna hitam itu. Ia mendapat sebuah surat. Kyomi cemberut. "Kok, surat? Kyomi enggak mau."


Semua tertawa mendengar ocehan Kyomi. Reyhan berdeham. Semua terdiam. "Semua saham milik ibu dan sahabatku, telah dimiliki oleh Kyomi."


"Apa?" suara kaget Delilah terdengar.


"Ayo, Kyomi. Kita ambil hadiahmu di kamar." Kiano lekas membawa Kyomi. Memang hadiah untuk anak itu ada pada Kiano.


"Kau keberatan?" tanya Reyhan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2