Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Kembali


__ADS_3

Keduanya saling diam dengan memungut pakaian masing-masing. Wanita dan pria memang tidak boleh berdekatan. Beginilah kejadiannya. Napsu menghalangi logika.


"Aku akan meninggalkannya," ucap Delilah tiba-tiba.


Nayaka menoleh. "Kau yakin?"


Delilah mengangguk. "Aku akan meninggalkan Juno."


"Lupakan malam ini. Tetaplah pada pilihanmu sebelumnya," ungkap Nayaka.


"Kak ...." Delilah meraih lengan Nayaka. "Aku ingin kembali bersamamu. Kita dan Kyomi."


Nayaka menatapnya lekat. "Jangan lagi memberi harapan palsu. Jangan lagi menyakitiku, Delilah."


"Aku akan katakan kepada mereka semua."


"Reputasi keluargamu dan Juno akan rusak. Jangan lakukan itu."


"Demi Kyomi," ucap Delilah.


Nayaka langsung memeluk Delilah, mengecup kening wanita itu. "Aku mencintaimu."


"Tapi aku perlu waktu untuk memutuskan ini."


Nayaka mengangguk. "Jangan terlalu lama. Aku tidak ingin dia memandangmu dengan penuh cinta. Terlebih menyentuhmu."


"Dia tidak akan mendapat kesempatan itu. Hanya kau yang berhak atas diriku."


Keduanya beranjak dari sofa menuju kamar tidur. Di sana Nayaka dan Delilah kembali mengulang kerinduan di antara mereka. Lebih leluasa, bebas dengan jeritan nikmat yang keluar.


Nayaka mengecup punggung Delilah yang telah memejamkan mata. "Terima kasih sudah memilih kami."


Delilah mengeliat, dan Nayaka mempererat pelukannya. Cinta mengalahkan segalanya. Nayaka menerima kembali wanita yang telah menyakitinya. Memberi kesempatan kepada Delilah untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu.


Pagi yang indah. Nayaka terbangun di kamar asing dengan perasaan luar biasa bahagia. Ia masih belum berpakaian karena aktivitas yang menguras tenaga.


"Kau sudah bangun?" Delilah tersenyum ketika ia baru masuk ke kamar.


"Apa Kyomi sudah bangun."


"Ya, dan dia sudah sarapan."


"Pertama kalinya aku kesiangan," ucap Nayaka yang mencari-cari keberadaan bajunya. "Aku mandi dulu."


Delilah keluar lagi, sedangkan Nayaka lekas masuk kamar mandi. Sementara Kyomi sudah membereskan pakaiannya yang memang ingin segera pulang ke rumah. Kyomi belum tahu saja jika kedua orang tuanya telah menyatu.


"Papa belum juga bangun?" tanyanya.


"Papa lagi mandi, Sayang. Hari ini kita akan jalan-jalan," kata Delilah.


"Kyomi mau pulang."


"Kita akan jalan-jalan, Sayang," ucap Delilah sekali lagi.


Kyomi bangun dari duduknya ketika sang ayah keluar dari kamar. Nayaka hampir saja terjungkal jika tubuhnya tidak seimbang.


"Hari ini Papa kesiangan," ucap Nayaka.

__ADS_1


"Kyomi mau pulang."


Nayaka melihat Delilah, dan wanita itu memberi kode lewat jari-jemarinya bahwa ingin mengajak Kyomi bersenang-senang di hari libur.


"Kita akan jalan-jalan."


"Papa serius ingin pergi bersamanya?" tanya Kyomi.


Nayaka tersenyum, ia menurunkan tubuh agar sejajar dengan Kyomi. "Hari ini, Papa dan Mama ingin mengajak Kyomi bersenang-senang."


"Kyomi bosan kalau jalan ke mal?"


"Kita pergi ke Dufan. Kyomi akan senang di sana. Ini seperti kita pergi ke Disneyland."


Kyomi melompat girang. "Kyomi mau. Kita pergi sekarang."


Nayaka mengusap rambut putrinya. "Kita akan pergi, tetapi tunggu Papa sarapan dulu."


"Kak, kita sarapan bersama," kata Delilah.


Keduanya menuju dapur meninggalkan Kyomi di ruang keluarga. Kesempatan itu tidak di sia-siakan. Delilah dan Nayaka saling menyatukan bibir sebelum mereka menyantap sarapan yang berada di atas meja.


"Jangan melakukannya di sini," ucap Nayaka.


Delilah tersenyum. "Kau selalu membuatku candu. Semua yang ada di dirimu, aku menyukainya."


Nayaka menyandarkan Delilah di dinding. Kembali mengecup bibir manis itu bersamaan dengan tangan yang menekan buah keindahan yang semalam ia cucup.


"Berikan aku sarapan pagi," pinta Delilah.


Delilah tertawa kecil. "Sebaiknya kita harus makan. Jangan sampai anak kita menunggu lama untuk bersenang-senang."


Selesai sarapan, ketiganya keluar dari apartemen. Dengan Nayaka yang mengendarai mobil menuju taman bermain ancol.


"Kenapa Papa belum pernah mengajakku kemari?" ucap Kyomi.


"Papa tidak sempat. Kita akan sampai sore di sini."


Sampai di Dufan, langsung saja ketiganya masuk setelah mendapat tiket. Aneka permainan hampir dijajal oleh Kyomi, kecuali permainan yang menantang adrenalin.


Mereka mengunjungi istana boneka. ice age, dan terakhir dream playground. Di sana Kyomi bebas mengekspresikan diri. Banyak sekali foto serta video yang Delilah abadikan.


"Dia tidak kenal lelah," kata Delilah.


"Saat dia bosan, maka ia sendiri yang akan meminta pulang," sahut Nayaka.


"Makan saja dia tidak ingat. Malah minum saja dari tadi."


Saat asik memandangi Kyomi bermain, terdengar suara ponsel berdering. Nayaka menoleh pada Delilah yang terlihat enggan untuk menjawab panggilan itu.


"Jika kau tidak mengangkat panggilan itu, maka dia akan terus menelepon. Apa kau ingin sekarang memberitahunya?" tanya Nayaka.


"Aku akan mengangkat teleponnya lebih dulu."


Nayaka tahu siapa yang menelepon ibu dari anaknya. Ia tahu jika hubungan ini masih gelap karena Delilah masih terikat pada Juno. Namun, tidak lama lagi, hubungan itu akan berakhir. Sejak dulu Delilah adalah miliknya dan sekarang pun begitu. Nayaka akan secepatnya menikahi wanita itu sebelum Delilah kembali pergi meninggalkan dirinya.


"Besok kita akan bertemu. Hari ini aku ingin menikmati hariku sendiri," ucap Delilah.

__ADS_1


"Kau sibuk akhir-akhir ini, Sayang," kata Juno dari seberang telepon.


"Aku hanya merawat diri untuk persiapan pernikahan."


"Baiklah, aku tidak akan menganggumu. Nikmati harimu, Sayang. Aku mencintaimu," ucap Juno.


Delilah tidak menjawab, tetapi langsung memutus sambungan telepon itu. Ia menarik napas, lalu memutar tubuh, dan kaget ketika Nayaka sudah berada di depannya.


"Secepatnya, Delilah. Aku ingin akhiri itu dengan cepat," ucap Nayaka.


"Baik. Aku akan akhiri ini secepatnya," kata Delilah.


Jantung Delilah berdetak cepat. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. Baru kali ini, Delilah merasa tunduk pada Nayaka.


"Dia bisa juga menakutiku," gumam Delilah pelan ketika Nayaka sudah pergi dari hadapannya.


"Delilah!" panggil Nayaka.


"Aku datang, Kak," sahutnya.


Seperti yang Nayaka katakan jika Kyomi akan minta pulang setelah lelah bermain. Ketiganya keluar dari taman impian itu menuju ke sebuah restoran westren.


"Kalian pesan saja dulu. Aku mau ke toilet," kata Nayaka.


"Kau mau makan apa?" tanya Delilah.


"Terserah kau saja."


"Aku akan pesankan makanan yang kau suka."


Nayaka mengangguk, lalu berjalan menuju toilet. Sementara Delilah dan Kyomi bersama-sama memilih menu yang ingin mereka makan.


"Rupanya itu memang kau, Delilah."


Delilah menoleh ke belakang. Matanya melebar melihat Chika dan Fely ada di tempat yang sama dengan dirinya.


"Sejak kapan kalian ada di sini?"


"Sejak kau datang bersama anak ini dan Nayaka. Oh, Delilah. Kau masih berhubungan dengan pria itu?" ucap Fely.


"Memangnya aku tidak boleh bersama Nayaka. Kalian tahu jika dia adalah temanku dari kecil."


"Anak kecil ini anaknya, kan? Kita pernah melihat Nayaka di kafe waktu itu," kata Chika. "Nak, di mana ibumu?"


Kyomi menoleh pada Delilah yang tidak berkata apa-apa. Ia menggelengkan kepala. "Aku tidak mengenal kalian." Kyomi bicara dalam bahasa Perancis.


"Dia bicara apa?" tanya Fely.


"Kami hanya makan bersama," jawab Delilah.


"Sudahlah, Fely. Delilah itu memang menyukai Nayaka sejak dulu. Tidak peduli jika ibu dari pria itu telah menghancurkan hubungan ayah dan ibumu," kata Chika.


"Aku kecewa kau masih berteman dengan Nayaka," ucap Fely. "Kau tahu kejadian waktu itu, kan?"


"Bukan urusanku," kata Delilah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2