
Saat ia kembali ke rumah orang tuanya, Delilah di larang masuk oleh pria suruhan Reyhan. Hah? Sejak kapan orang bersetelan jas rapi itu datang menghadang pintu masuk kediamannya.
"Minggir!" perintah Delilah. "Ini rumahku, kenapa kalian menghalangi?"
"Maaf, Nona. Anda tidak boleh masuk."
"Ini rumahku!" Delilah bersuara lantang.
"Ini rumah orang tua dari Tuan Reyhan. Anda tidak boleh masuk, kecuali mengambil barang," ucap salah satu pria suruhan Reyhan itu.
Delilah mengepalkan tangan. "Biarkan aku masuk. Aku perlu mengambil semua barangku."
Delilah menggerutu. Kediaman orang tuanya pun masih berada di atas kuasa Reyhan, padahal umurnya kini sudah memasuki usia 27 tahun. Sudah bisa menguasai segala harta yang ditinggalkan oleh mendiang orang tua serta kakeknya.
Pria itu membukakan pintu, lalu mempersilakan Delilah masuk. "Waktunya hanya 30 menit, Nona."
Delilah terdiam, dan ia tetap melanjutkan langkahnya masuk ke dalam. "Kak Reyhan sungguh ingin aku keluar dari keluarganya. Oke, aku akan buktikan, tanpa dia, aku bisa hidup."
Sampai di kamar penyimpanan, Delilah menguras habis perhiasan peninggalan Dila, dan miliknya. Berlian yang ditinggalkan ibu serta barang mewah milik Bastian serta Dion, ia masukkan dalam tas.
"Maaf, Nona."
Delilah tersentak mendapat teguran dari pria suruhan Reyhan. Pintu kamar memang tidak ditutup rapat, dan lelaki berambut cepak itu bisa masuk.
"Ada apa lagi?" Delilah tampak marah.
"Saya lupa memberi pesan. Hanya barang Anda yang boleh diambil. Barang milik orang tua serta sahabat Tuan Reyhan, tidak boleh dibawa."
"Apa?" Delilah terperangah. "Ini milikku!"
"Hanya boleh membawa milik kakek Anda saja."
Delilah melipat bibir, lalu mengangguk. "Oke, ambil semuanya." Ia melempar tas berisi perhiasan itu.
"Anda harus kembalikan ke tempatnya semula. Jangan lupa kartu kredit dari Tuan Reyhan. Anda harus kembalikan."
"Akan aku kembalikan. Pergilah dari sini."
Pria itu menyunggingkan senyum, kemudian berlalu dari hadapan Delilah. Tidak masalah jika berlian itu tidak bisa dibawa. Delilah masih memiliki perhiasan yang ia beli dari uang hasil kerjanya.
Kartu tagihan yang setiap bulan Reyhan bayar, Delilah kembalikan pada suruhan kakaknya itu. Ia keluar dengan membawa barang yang ia beli dengan uangnya sendiri.
__ADS_1
Delilah kembali ke apartemen. Gedung itu ia beli dengan uangnya. Reyhan tidak bisa mengusirnya dari kediamannya sendiri.
Sampai di apartemen, Delilah masih tidak terima atas keputusan Nayaka. Ia menelepon mantan kekasihnya itu, meminta pertanggungjawaban dari Nayaka.
"Ada apa lagi?" suara Nayaka terdengar begitu dingin.
"Kau tidak bisa memperlakukan aku begini. Kau memisahkan aku dengan Kyomi." Delilah begitu bersemangat mengatakannya.
"Apa belum jelas dengan apa yang kukatakan tadi?"
"Kita perlu bicara lagi. Kau jangan lupa kalau aku adalah ibunya. Aku yang melahirkannya. Kau tidak boleh memisahkan Kyomi dengan ibunya."
"Oke!" Nayaka menjawab. "Demi Kyomi, kita harus bicara."
Delilah dapat bernapas lega mendengarnya. "Aku tunggu di apartemen sekarang."
Nayaka tidak menjawab, ia langsung memutus sambungan telepon itu. Delilah yakin sekali Nayaka masih marah padanya, dan bila ia rayu sedikit, pasti pria itu akan kembali tunduk.
Sekitar 45 menit, Delilah dapat mendengar ketukan di pintu apartemen yang terbuka karena memang ia sama sekali tidak mengubah sandi dari kunci.
"Kakak!" Delilah berseru ketika Nayaka melangkah masuk ke rumah. Ia memeluk sang pria yang begitu ia cintai. "Yang tadi itu bohong, kan? Kau tidak mungkin ingin berpisah dariku."
Nayaka melepas pelukan Delilah. "Aku bersungguh-sungguh, Del."
"Itu sungguhan."
"Aku ibu dari anakmu, Kak."
"Aku mengizinkanmu menemui Kyomi. Seperti katamu, kau adalah ibunya," ucap Nayaka.
"Aku ingin kita menikah, Kak. Bukankah ini impian kita dari dulu?"
"Aku tidak bisa menikah denganmu. Harus dengan apa aku menjelaskannya, Del." Nayaka hampir putus asa. "Aku butuh seorang wanita yang bisa menjadi air ketika aku marah. Aku butuh ibu bagi anakku. Aku butuh seseorang yang menghargaiku."
"Kau pikir aku tidak begitu. Aku menerimamu ketika kau miskin. Aku bahkan menyerahkan tubuhku hanya pada pria sepertimu."
Nayaka menggeleng. "Kau egois. Sudah cukup aku mengalah selama ini. Aku tidak ingin kita berhubungan asmara lagi."
"Kita saling cinta, Nayaka," ucap Delilah lirih.
"Hidup bukan hanya soal cinta, Del. Berpikirlah dewasa. Aku mencintaimu, tetapi kita tidak bisa hidup bersama."
__ADS_1
"Kita sudah lama hidup bersama. Selama di Inggris, dan di sini. Kita sudah hidup sebagai suami istri." Delilah mengencangkan suaranya.
"Aku tahu!" Nayaka pun tidak kalah kerasnya. "Coba kau pikirkan. Apa selama hidup bersama, kau pernah memperlakukan diriku sebagai seorang pria? Kau menjadikanku seperti budak, Del."
Delilah terdiam, lalu ia menatap Nayaka lekat. "Jadi kau ingin balas dendam karena perbuatanku di masa lalu."
"Pikiranmu terlalu picik. Kau tahu alasan kenapa aku sangat ingin lepas darimu? Kau mengutuk anakku! Kau tidak pernah menganggap Kyomi sebagai bagian dari dirimu. Kau bukan ibu yang baik untuk anakku. Kau tidak layak bersanding denganku!"
"Aku sudah berusaha." Delilah membela diri.
"Ya, kau selalu mengatakan hal seperti itu. Tapi buktinya apa? Kau membiarkan anakmu kelaparan, dan kau mengutuknya setelah itu."
"Aku tidak sengaja mengatakan hal itu."
"Kita tidak bisa bersama, Del. Hubungan kita akan seperti ini lagi. Hanya akan ada pertengkaran di antara kita."
"Kau pun ingin meninggalkanku?" pelupuk mata Delilah mulai berkaca-kaca.
Nayaka memalingkan wajahnya. Sedetik kemudian ia memandang sang mantan kekasih. "Aku akan membawa Kyomi ke Dubai. Kau boleh menemuinya. Tapi aku tidak mengizinkan kau membawanya."
"Aku akan mengambilnya darimu. Dia milikku, Nayaka!"
"Coba saja kalau kau bisa." Nayaka membalik diri, ia melangkah meraih handel pintu. Tapi sebelum itu, Nayaka menoleh ke belakang. "Maaf, Delilah."
"Kau akan menyesal telah melepasku," ucap Delilah.
"Sebelumnya aku menerimamu bersama pria lain. Kali ini pun sama. Kau berhak untuk bahagia bersama siapa pun yang kau inginkan."
Nayaka keluar setelah mengatakan hal itu. Delilah tidak bergeming sama sekali dari tempatnya. Mengemis cinta pada Nayaka? Tidak akan pernah ia lakukan. Pria itulah yang harus tunduk padanya.
"Tuan Muda." Fahmi menegur.
"Aku sudah mengatakan pada Delilah jika akan pindah ke Dubai."
"Kau yakin?"
Nayaka memandang Fahmi, lalu ia mengangguk. "Sebelumnya aku dan Kyomi sudah biasa tanpa dirinya. Kali ini pun begitu."
"Kita akan segera pulang ke Dubai," ucap Fahmi.
Nayaka menoleh sekali lagi pada gedung apartemen yang ditempati Delilah. Wanita itu paling ia cintai, tetapi pernikahan bukanlah tentang cinta semata.
__ADS_1
Ini bukan soal harta saja, tetapi tentang bagaimana sikap Delilah menerimanya sebagai pendamping. Nayaka yakin sekali, jika ia menikah bersama Delilah, hanya ada pertengkaran saja di antara mereka.
Bersambung