
Tempat tidur Kanaka juga telah dipindah ke kamar Delilah. Kyomi sudah naik ke ranjang bersama sang ayah, dan tinggal Delilah saja.
"Kok, Mama masih berdiri di sana?" Kyomi mengerutkan kening karena Delilah mematung di tempatnya.
"Jangan mengerutkan kening seperti itu, Kyomi. Kau akan cepat tua. Mama susui dulu Kanaka. Sebaiknya kau tidur dulu."
"Kita tidur sama-sama. Iya, kan, Papa?" Kyomi menjeling pada Nayaka.
"Iya, dong."
Dalam hati Delilah mendumel. Kesalnya pada Nayaka yang seakan mencuri kesempatan karena ada Kyomi di tengah mereka. Berulang kali Delilah memberi kode dalam tatapan mata, tetapi Nayaka berpura-pura tidak tahu.
"Sebentar, Sayang," ucap Delilah pada akhirnya.
Kanaka diambil dari boks-nya. Dengan membelakangi Nayaka, ia menyusui sang buah hati. Belum genap sebulan, bayi yang baru lahir memang selalu tidur. Meski begitu, Delilah tetap membangunkannya.
"Kapan, sih, Kanaka bangun? Dari tadi tidur terus." Kyomi mengintip sang adik yang menyusu dengan mata terpejam.
"Besok pagi pas Kanaka mandi."
"Papa, lihat, deh, Kanaka. Ayo, sini."
"Iya, Papa tahu."
Kyomi menarik tangan Nayaka. "Ayo, Papa di sini. Kita foto. Biar Kyomi yang foto. Mana ponselnya?"
"Nanti saja, Kyomi," ucap Nayaka.
"Sekarang saja." Kyomi berkata sembari mengulurkan tangannya.
"Bagaimana, Del?" bisik Nayaka.
"Turuti saja."
Dengan senang hati pastinya Nayaka memberikan ponsel pada Kyomi, dan anak itu segera turun dari tempat tidur.
"Papa sama Mama dekat sedikit. Papa peluk Mama."
"Sayang, sebenarnya Mama dan Papa itu ...."
"Delilah!" Nayaka menegur.
"Baiklah ...." Delilah pasrah saja.
Mungkin Kyomi tahu jika ibu dan ayahnya berpisah. Namun, Kyomi tidak tahu jika berpisahan itu berarti, Nayaka dan Delilah tidak bisa lagi seperti dulu. Ini berbeda dari perpisahan mereka yang pertama. Sekarang Delilah bingung untuk menjelaskan bagaimana hubungannya bersama Nayaka kepada Kyomi.
Delilah sadar, ketika orang tua berpisah, maka anak akan menjadi korban. Kyomi sudah berusia 7 tahun. Delilah yakin, putrinya akan mengerti tentang keadaan keduanya. Meski nanti akan membuat putrinya bersedih, Delilah tetap harus mengatakan hal yang sebenarnya.
Kyomi bersorak ketika Nayaka memeluk Delilah, dan keduanya tersenyum. Kyomi mengambil gambar kedua orang tuanya bersama Kanaka.
__ADS_1
"Keren. Giliran Kyomi lagi."
"Biar Papa yang foto." Giliran Nayaka yang turun dari tempat tidur dan mengambil alih ponsel. "Kyomi peluk Mama, ya."
Gadis kecil itu mengangguk kemudian memeluk Delilah, dan Nayaka mengambil gambar. Beberapa gaya Kyomi tunjukkan. Ada yang mengecup pipi Delilah. Memegang punggung Kanaka, dan mengecup jari kecil sang adik.
"Mama letakkan Kanaka dulu. Setelah ini langsung tidur."
Kyomi manut atas perintah sang ibu. Ia menempatkan diri di posisi bagian tengah, lalu memanggil Nayaka untuk berbaring di sebelah kiri.
"Mama sini tidurnya." Kyomi menepuk sebelah kanan.
Sepasang mantan suami istri itu menuruti apa yang putri mereka inginkan. Untuk sementara atau setidaknya di depan Kyomi, keduanya akan bersikap mesra.
Setelah beberapa bulan lamanya, baru ini lagi Nayaka dan Delilah berbaring di atas ranjang yang sama. Yang menjadi pembatas kali ini bukan guling, melainkan putri mereka.
"Mama, ayo, pulang ke rumah."
Delilah menoleh pada Kyomi yang tiba-tiba saja mengatakan hal demikian. "Mama tidak bisa, Sayang. Mama harus ditinggal di sini."
"Mama dan Papa kenapa enggak baikan saja? Apa karena Papa punya Mama Angel?"
"Tidurlah, Kyomi." Nayaka turut campur.
Kyomi tidak peduli akan ucapan sang ayah. "Apa Mama dan Papa seperti orang tua Sydney?"
"Del ...." Nayaka menegur.
"Sudahlah, Kak. Kyomi harus tahu, kan?"
"Mama enggak bakal tinggal dengan Kyomi lagi?"
"Bukan begitu, Sayang." Nayaka cepat-cepat menyela sebelum Delilah ini berbicara lagi. "Mama akan tinggal bersama kita. Untuk saat ini, Mama kerja dulu di sini. Nanti Mama juga akan pulang ke rumah."
"Tapi Mama tidak suka Mama Angel."
Mau alasan apalagi? Tidak mungkin Nayaka bisa menyembunyikan hal ini dari putrinya. Kyomi telah banyak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kyomi tidur saja." Nayaka berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Delilah mengusap pelan pipi Kyomi. "Walaupun Mama dan Papa pisah, tapi Mama dan Papa tetap sayang sama Kyomi."
"Begitu." Dari nada suaranya, Kyomi tampak kecewa. "Apa Mama juga akan menikah?"
"Kenapa membicarakan ini? Kita tidur saja." Delilah pun tidak dapat menjawab pertanyaan Kyomi.
Nayaka dan Delilah sadar. Lingkungan apa yang telah mereka berikan pada buah hatinya. Sedari kecil Kyomi telah tumbuh tanpa sosok ibu. Apakah Kanaka juga akan tumbuh tanpa sosok ayah?
"Tidurlah, Kyomi." Delilah mengucapkannya dengan lembut.
__ADS_1
Gadis kecil itu mengangguk, kemudian memejamkan matanya. Cukup untuk membuat Kyomi tertidur. Setelah itu, Delilah beringsut bangun dari katil.
"Tunggu, Delilah." Nayaka ikut menyusul.
"Kak, kehidupan apa ini?" Delilah menatap lekat pada sosok yang juga berpikiran sama dengannya. "Saling cinta, tetapi tidak lengkap."
"Aku tahu. Ini kesalahan kita. Tapi ini juga tidak bisa diulang. Kita hanya bisa memperbaikinya lagi."
"Bagian mana yang harus diperbaiki?"
"Aku ...."
"Izinkan Kyomi tinggal bersamaku."
"Tapi, Del. Aku juga butuh Kyomi. Kau tahu betapa dekatnya kami."
"Aku bingung." Delilah mendaratkan diri di sofa. Ia bersandar dengan sesekali menghela napas.
"Kau sudah minum obatmu? Biar aku ambilkan."
"Buatkan aku jamu saja. Aku belum sempat meminumnya tadi siang."
"Berapa sendok takar?" tanya Nayaka.
"Dua sendok." Baru tersadar ketika pria itu hendak melangkah pergi, Delilah kembali bersuara. "Eh, tunggu, Kak."
"Kenapa lagi?"
"Biar aku saja." Kebiasaan kalau sudah bersama Nayaka. Delilah menyesali ucapannya tadi. "Biar aku buat sendiri. Kau tidak akan tahu cara menyeduhnya. Kau duduklah dulu. Biar aku buatkan susu cokelat."
"Jangan susu cokelat. Buatkan aku kopi hitam saja." Nayaka menolak tegas.
Delilah menarik salah satu sudut bibirnya. "Jadi, seleramu berubah? Dari cokelat ke kopi. Dari berlian ke kerikil batu. Dari gadis muda belia ke perawan tua. Dari barat ke lokal. Dari ...."
"Cukup!" Nayaka memotong kalimat Delilah. "Jangan terus menyindirku. Aku masih suka cokelat. Hanya saja untuk saat ini lebih baik kopi saja. Atau kau bisa menghidangkan air putih."
Apa Delilah lupa? Terakhir, minuman itu membuat mereka tidur bersama. Tepatnya saat di apartemen. Minuman itu juga menjadi saksi ketika mereka tidur bersama untuk yang pertama kalinya.
Delilah tertawa. Lalu, melambaikan tangan. "Kau tidak bisa tidur denganku. Aku habis melahirkan. Lagi pula itu tidak akan terjadi kedepannya. Kau tahu, kan, maksudku?"
"Del, aku akan menceraikan Angel."
"Agar kita bersama?" Delilah menggeleng. "Kau ingin membuang madu yang telah kau hisap habis manisnya?"
"Itu kesalahanku."
"Harusnya kau perbaiki kesalahanmu. Jangan lagi menambah kesalahan yang lain. Saat ini kau hanya cocok menjadi temanku."
Bersambung
__ADS_1