
Beruntung, semakin waktu bergerak, mentari mengalahkan gumpalan awan yang menghitam. Cahaya keemasan yang makin terang menyilaukan akhirnya menghilangkan sisa-sisa mendung dan hujan. Walaupun tanah masih tergenang, pucuk daun dan rumput pun masih basah. Tapi, alam sudah berganti rupa.
Dan mereka bisa pergi piknik juga pada akhirnya. Sudah di dalam mobil.
"Kakak, kenapa?"
"Apa? Aku hanya sedang berfikir, apa yang akan kulakukan nanti di depan orangtuamu."
"Lucunya, padahal waktu datang ke rumahku dulu Kakak terlihat biasa saja. Hehe, apa kakak tegang? Kan Kakak dulu sering menemani Tuan Saga dan Nona Daniah." Aran jadi iseng ingin menggoda suami yang sedang mengemudi dengan kecepatan sedang itu. Dia tidak ngebut namun juga tidak memperlambat jalan. Tapi sepertinya berharap untuk tidak cepat sampai juga.
"Saat menemani Tuan Saga, aku hanya diam saja."
"Haha, benar juga." Tidak terlalu susah untuk membayangkan situasinya, karena bisa langsung terbayang begitu saja di kepala Aran.
Tuan Saga dan Nona Daniah yang sedang kencan mesra-mesraan, sementara sekretaris Han duduk diam, atau berdiri tanpa ekspresi. Ah, harimau gila ku yang tampan dan menakutkan. Aran tertawa membayangkan itu semua.
"Jadi, apa yang harus kulakukan nanti?"
"Hehe, Kakak nggak perlu ngapa-ngapain, cuma memberi salam dan makan makanan yang dibawa ibu." Aran menggeser tubuh, memasukan tangannya ke lengan Han yang sedang memegang kemudi. "Aku tetap mencintai Kakak walaupun Kakak tidak melakukan apa pun."
"Tentu saja, kau cuma boleh mencintaiku."
"Hehe, Kakak juga, cuma boleh melihatku seorang. Ya, kecuali Tuan Saga, aku tahu kok." Aran mengecup pipi kanan Han. "Aku kan cinta kedua Kakak." Bilang tidak apa-apa tapi merengut juga. Membuat Han tertawa lalu menepuk pipi Aran.
"Terimakasih karena selalu berusaha melangkah mensejajariku."
Mobil terus melaju menuju tujuan.
Pergi piknik bersama keluarga Aran. Ibu sudah menyiapkan semua perbekalan. Baik itu makanan utama maupun camilan buah dan aneka camilan yang lainnya. Adik-adik Aran tak kalah senang, dengan piknik mereka kali ini. Tidak jauh-jauh, mereka datang ke sekitaran Danau hijau. Dengan menggelar alas duduk mereka mencari tempat yang teduh dan juga kering.
Danau Hijau milik penduduk kota, selalu menjadi tujuan orang-orang menghabiskan akhir pekan.
Saling menyapa terlebih dahulu yang dilakukan Han, seperti yang dikatakan istrinya, karena mereka janjian bertemu langsung di Danau Hijau. Nanti, pulangnya baru bersama, karena Han dan Aran berencana menginap di rumah orangtua Aran.
Bagi Han, semua jenis keakraban ini masih terasa asing, namun, karena ini keluarga Aran maka dia berusaha menyesuaikan diri. Selayaknya Aran yang berusaha mensejajari langkahnya dia pun ingin menjadi bagian keluarganya. Mungkin, inilah yang sedikit berbeda darinya dari Tuan Saga. Han berusaha melangkah masuk, bukan hanya berdiri di pintu masuk seperti yang dilakukan Tuan Saga pada keluarga Daniah.
__ADS_1
Setelan wajahnya tetap tidak banyak ekspresi.
"Apa kabar ayah dan ibu sehat kan? Maaf, karena kami jarang berkunjung." Han sudah duduk bersila di samping ayah. Aran duduk di sebelahnya, gadis itu membuka tas bekal. Dia membukanya dan menatanya satu persatu, supaya mudah dijangkau. Ibu juga masih diam, tapi saling pandang dengan Aran. Suamimu kaku sekali, bahasa bibir ibu yang membuat Aran nyengir sambil menatap Han dengan penuh cinta.
Ayah menjawab sambil menepuk lengan menantunya.
"Ya, semua sehat. Kalian juga kan? Semua sehat dan baik-baik saja itu yang penting. Kalian juga kan sibuk bekerja, kami juga maklum, walaupun sibuk, jangan lupa istirahat dan makan yang cukup ya, sesempatnya saja kalau mau ke rumah." Ayah dengan kalimat bijaknya bicara. "Sesekali berkumpul seperti ini juga cukup kok, yang penting kalian rukun." Bagi ayah, itulah yang penting. Kebahagiaan anaknya. "Kami berterima kasih juga, karena kamu sudah menjaga Aran dan menyayanginya."
"Terimakasih, sudah memaklumi kami, ayah." Han menundukkan kepala sopan.
Tentu saja itulah yang penting, berkumpul sesekali melepas kangen. Telepon atau berkirim pesan juga kan bisa dilakukan, Aran sangat bersyukur memiliki orangtua seperti ayah dan ibunya. Setelah memberinya restu, ayah dan ibu tidak pernah ikut campur dalam rumah tangganya. Mereka tetap bertanya dan memberi nasehat, namun tidak banyak ikut campur apalagi sampai mendikte suaminya.
Aran tersenyum, menahan tawa sebenarnya. Karena Han masih bicara dengan sangat formal pada ayahnya. Kakak memang cuma berbeda kalau didepannya. Walaupun tidak tegang dan dibawa santai, tapi sosok Sekretaris Han yang kaku dan formal tetap saja kelihatan.
Gadis itu menarik lengan kemeja suaminya, tersenyum sambil nyengir, dan berbisik. "Kakak, bicara biasa saja dengan ayah dan ibu." Han ikut tersenyum tipis sambil mengusap kepala Aran.
Memang aku kenapa gumam Han.
Perasaan dia sudah biasa saja, dia bertanya sebagai bentuk sopan santun. Hemm apa ini aneh ya, apa yang seharusnya dikatakan kalau bertemu mertua. Role modelnya Tuan Saga tidak pernah memberi contoh kalau urusan dengan mertua. Keluarga Nona Daniah masih sangat canggung kalau bertemu dengan Tuan Saga. Hingga Han tidak belajar arti keakraban dengan mertua itu seharusnya seperti apa dari Tuan Saga. Ya, yang dia pelajari sepertinya hanya bagaimana mencintai istri dengan segala tingkat kebucinannya.
"Makanlah, aku tidak tahu apa yang kau sukai, semoga ini sesuai seleramu." Ibu menyodorkan kotak bekal ke depan Han. Menyuruh menantunya makan. Ibu menatap menantunya memperhatikan wajah dan posturnya. Walaupun diam saja, anehnya kenapa menantuku ini tetap terlihat tampan ya. Ibu bergumam sendiri. Sambil meletakan botol air di samping kotak bekal.
"Baik Bu, saya akan menikmatinya. Ibu dan ayah juga silahkan makan." Han kemudian melihat pemandangan jauh ke depan. "Tempat ini masih sama seperti waktu diresmikan dulu, saya senang bisa berada di sini bersama keluarga istri saya."
Entah kenapa ibu jadi merasa tersipu, saat Han mengangkat kotak bekal ditangannya untuk meminta izin mulai makan, dan dia makan dengan lahap.
"Haha, baik-baik ayo kita makan menantu Han." Ayah menepuk bahu Han. Sementara Aran langsung menyandar di kepala Han dan berbisik, "Kakak membuat ibu terharu. Habiskan makanannya Kak, enak kan? Sudah lama tidak makan masakan ibu, aku juga kangen."
Han semakin lahap makan, supaya ibu tambah senang.
Adik-adik Aran sudah kabur, walaupun ibu membawa bekal mereka malah keluyuran mencari jajanan.
Aran mengambil kotak bekalnya, sambil suap-suap dari mulutnya keluar celetukan. Yang langsung merubah suasana.
"Ibu, bagaimana kalau aku punya anak?"
__ADS_1
Ibu yang baru mau menggigit apel menjatuhkan sendok garpunya. Dia menjerit tanpa suara saking kaget, rasa terkejutnya juga bercampur senang. Tapi juga ada rasa tidak percaya. Anak kan, Aran bilang anak kan tadi. Berarti dia sudah mau punya cucu. Semakin tidak percaya ketika kata cucu keluar dari bibirnya yang bergetar.
"Ya Tuhan, Nak kamu sudah hamil?" Ayah menyuarakan keterkejutannya. "Syukurlah, Ya Tuhan, ayah benar-benar tidak percaya kamu mau punya Anak. Aran, oh Aran." Ayah tak kalah heboh, menyuruh Aran mendekat.
Gadis itu juga seperti orang bodoh malah merangkak mendekati ayahnya, menerima pelukan dan tepukan tangan ayahnya yang hangat.
"Aran, gantian sini, ibu juga mau memelukmu dan memberi selamat."
Ayah dan ibu sedang mengharu biru, sementara Aran mulai loading, setelah dipeluk-peluk dan diberi ucapan selamat.
Tunggu! Bukan seperti ini ayah! Ibu! Aku kan baru bertanya!
Sementara itu yang wajahnya terlihat paling tegang tentu saja Han, dia senang mendengar berita kehamilan Aran tapi tentu saja dia shock. Kenapa Aran tidak mengatakannya padanya. Apa dia mau memberi tahu orangtuanya bersamaan. Terbukti dengan jelas, jika berhubungan dengan Aran, Han sering kehilangan akal sehatnya.
Han semakin panik saat mengingat semua hal yang dilakukannya pada Aran pagi tadi.
Aku, aku menyerangnya dengan membabi buta tadi! Tidak! Bagaimana kalau anak kami kenapa-kenapa! Han segera menarik kedua tangan Aran untuk melihat ke arahnya.
"Aran! Kamu benar sudah hamil?"
Ayah dan ibu kaget bercampur heran saat mendengar pertanyaan Han, karena ternyata menantunya juga baru tahu. Oh, apa Aran ingin memberinya kejutan. Begitulah yang dipikirkan ayah dan ibu.
"Aran, bagaiman ini, kamu nggak papa kan, tadi pagi aku menyerangmu kan seperti itu. Seharusnya kamu bilang, kenapa kamu menyembunyikan hal penting begini. Arandita!"
Padahal jelas-jelas wajah Aran sedang kebingungan. Han yang biasanya bisa menangkap keinginan Tuan Saga hanya lewat kata hemm, sekarang kemampuannya tidak berguna.
"Aran, bagaiman ini, bagaimana anak kita!"
Ayah dan ibu ikut shock mendengar apa yang dikatakan menantunya.
"Kakak! Kakak ini kenapa si! Ayah, Ibu, aku itu baru bertanya, aku tanya, kalau seandainya aku punya anak bagaimana? Aku belum hamil!"
Hemm, apa kebodohan itu menular, jika berhubungan dengan orang yang dicintai. Entahlah, tapi sepertinya virus Tuan Saga sedikit menular pada sekretarisnya.
Bersambung
__ADS_1