Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
97. Pertemuan Di RS


__ADS_3

Berlalunya sang waktu. Telah menutup masalah Jero. Tapi bagaimana cerita sebenarnya sampai masalah Jero seperti terhapus laksana debu yang terbawa angin. Apa yang dilakukan seorang suami yang cemburu karena ada seorang mantan yang muncul dari masa lalu. Mantan laki-laki yang dulu pernah disukai istrinya. Membuat Sekretaris Han penasaran, kelebihan apa yang dimiliki laki-laki itu sampai istrinya menyukainya.


Akhirnya membuat Sekretaris Han merasa perlu menyapanya secara langsung, dalam artian membereskan semuanya sampai ke akar-akarnya. Mencabutnya, membuangnya jauh. Agar sang mantan, tidak punya kesempatan berkeliaran di sekitar istrinya lagi.


Hari itu, dia mendatangi RS tempat Jero di rawat. Dia sebenarnya menyetel tampang biasa saja, alias wajah yang tanpa ekspresi. Kalau orang yang mengenalnya, seperti Dokter Harun yang ada di sampingnya, pasti berfikir biasa saja. Namun, bagi Jero aura yang menguar dari tubuh Sekretaris Han adalah ancaman pembunuhan.


Dengan tangan gemetar, dia menyentuh bahunya. Mungkin karena efek trauma, yang tadinya tidak nyeri, melihat sosok yang melukainya, bahunya jadi berdenyut.


Kenapa dia datang kemari! Apa dia mau membunuhku! Sebenarnya, apa yang kau katakan padanya Aran! Jero hanya bisa mengutuk nama Aran dalam hatinya sekarang. Kalau tahu, suaminya Aran siapa, dia pasti memutar tubuh dan tidak akan menerima tawaran pekerjaan di stasiun TV ini.


Saat Jero semakin cemas, Sekretaris Han menyuruh Dokter Harun keluar, membuat wajar Jero semakin memucat.


Dokter Harun tersenyum pada Jero, laki-laki itu menyadari kalau pasiennya ketakutan.


"Han, kau janji hanya bicara ya, makanya aku mengizinkanmu. Aku yakin dia sudah jera dan tidak akan mendekati Aran lagi." Harun sudah mendapatkan informasi kronologi penyerangan yang dilakukan Sekretaris Han. Sebenarnya dia khawatir Han terpancing lagi, tapi dia juga takut kan menolak keinginan Han. Ya, akhirnya dia mengantar juga ke ruangan pasien. "Kau sudah janji hanya bicara."


"Cih, memang dia sekarat. Cuma luka seperti itu saja." Han menjawab dengan acuh.


Jero yang mendengar percakapan keduanya semakin memucat wajahnya. Kenapa? Kenapa suamimu orang yang menyeramkan seperti ini Aran! Bagaimana orang sepertimu bisa menaklukan monster yang paling dimusuhi reporter ini.


"Keluar sana!" Han menunjuk pintu dengan ekor matanya, mengusir Dokter Harun.


"Ia, Ia, aku akan menunggu di depan pintu. Pasien Jero, Anda bisa berteriak dengan suara keras kalau terjadi sesuatu ya." Dokter Harun memang sambil cengengesan saat bicara, tapi apa yang dia katakan sebenarnya sangat serius. "Saya ada di depan pintu. Semoga Anda beruntung. Hehe."


Saat Dokter Harun sudah keluar dari ruangan, entah kenapa rasanya tekanan udara langsung berubah, rasanya turun drastis. Membuat Jero merasa sesak. Dia memperhatikan saat melihat Sekretaris Han menarik kursi. Lalu Jero memalingkan pandangan setelah Sekretaris Han duduk dan menatapnya.


Tengkuknya merinding mendapat tatapan seperti itu.


"Jeromian, aku dengar kau sengaja datang ke stasiun TV XX karena istriku Aran."


Satu kalimat itu langsung menyengat semua saraf kesadaran Jero. Kalau Sekretaris Han datang, sudah membawa informasi tentangnya. Tidak tahu dari mana laki-laki itu mendapat informasi, tapi dia bisa lebih hancur dari ini, kalau Sekretaris Han mengorek semakin banyak informasi. Aran memang salah satu alasan dia bekerja di stasiun TV XX.


Demi menyelamatkan diri, Jero turun dari tempat tidur, dan langsung duduk bersimpuh di lantai. Dia sudah tidak punya harga diri. Yang harus dia lakukan sekarang hanyalah memohon. Belas kasih dari laki-laki di depannya.


"Hah! Tidak seru, kenapa kau sudah berlutut. Seharusnya kau berlagak seperti di depan istriku." Sinis Han bicara. "Itu kan yang kau lakukan pada istriku selama beberapa hari ini."

__ADS_1


Kau mantan yang berlagak keren, dan masih merasa disukai. Kau pikir kenangan masa lalumu bisa menghasut cinta Aran padaku. Cih! Rasanya aku ingin menghajarnya lebih dari ini. Arti sorot mata Han yang ingin menghancurkan Jero. ********** menjadi remahan lalu melepehnya ke selokan.


"Maafkan saya Tuan, saya mohon maafkan saya. Saya tidak tahu kalau Aran menikah dengan Anda. Saya hanya bercanda menggoda Aran, karena dulu dia sangat menyukai saya." Jero bicara tergesa-gesa, tersentak kaget saat laki-laki yang duduk di depannya menghentakkan kaki dengan keras di lantai.


Bahu Jero langsung terasa berdenyut saat matanya bersitatap dengan sepatu yang dipakai Han.


"Beraninya kau menyebut nama istriku dengan pikiran dan mulut kotormu itu. Hah! Aku pikir kau orang seperti apa, sampai dulu istriku menyukaimu tapi ternyata kau cuma sampah pengganggu ya."


Jero hanya bisa menelan penghinaan itu dengan kepala tertunduk.


"Seharusnya kau mundur saat Aran bilang sudah menikah." Han melihat Jero mengangguk-anggukan kepala sambil bergumam maafkan saya Tuan, maafkan saya Tuan. "Bukan karena Aran menikah denganku, tapi seharusnya kau mundur saat dia bilang sudah menikah. Bukankah itu etika dasar manusia. Kau tidak diajari untuk tidak menggangu wanita yang sudah menikah."


Wajah Jero memerah karena malu. Ya, ini memang salahnya, dia tahu kalau Aran sudah menikah, tapi dia malah menantang dirinya sendiri untuk menggoda Aran. Karena hatinya yang penasaran dan marah hanya karena Aran sudah tidak tertarik padanya.


"Maafkan saya Tuan, saya sungguh bersalah karena ingin merayu istri Anda. Saya mohon, beri saya kesempatan untuk memperbaiki prilaku saya. Kedepannya saya tidak akan menggangu istri Anda dan saya hanya akan bekerja sebagai rekannya saja."


Jero bicara perlahan, supaya tidak kelepasan menyebut nama Aran.


Han tertawa mendengar kalimat panjang Jero. Dia bangun dari duduk, mendorong kursinya sampai rasanya kursi itu hampir terjungkal. Han duduk berjongkok, meraih kerah baju pasien yang di pakai Jero. Laki-laki itu pucat, tapi mulutnya tidak bisa terbuka. Matanya melihat pintu keluar, tapi dia tidak bisa berteriak meminta tolong pada dokter yang sedang ada di luar.


"Tu...Tuan..."


"Ta, tapi Tuan, saya kan harus tetap bekerja." Bibir Jero bergetar.


"Enyah dari kota ini."


Pikiran Jero langsung semrawut, enyah dari kota ini, berarti dia harus mengundurkan diri dari pekerjaan. Padahal dia baru saja bekerja, tentu saja dia takut, ini akan menjadi rekam jejak yang buruk baginya.


"Tuan, saya bersumpah!" Jero mengangkat kedua jarinya. "Saya bersumpah tidak akan bicara secara pribadi dengan istri Anda." Jero masih berusaha mempertahankan pekerjaannya.


Han tertawa. Dia menunjuk-nunjuk bahu Jero yang terluka. Laki-laki itu meringis, telunjuk Han seperti mata pisau yang menembus bahunya. Mungkin ini efek trauma alam bawah sadarnya, karena sebenarnya telunjuk Han tidak setajam itu.


"Kalau kau masih muncul di depan istriku, aku akan membuatmu dikirim ke pedalaman benua lain. Ya mungkin kau bisa meliput bagaimana manusia hidup di pedalaman hutan misalnya." Han mengumbar ancaman, bukan sekedar ancaman karena akan langsung dia realisasikan. Dia mengeluarkan hp. "Kebetulan, Presdir stasiun TV masih punya banyak hutang padaku, membuangmu kepedalaman pasti bukan perkara sulit."


Han sudah berdiri, dan terlihat memencet nomor. Tadinya Jero masih ingin memohon tapi melihat tindakan Han dia mulai sangat ketakutan.

__ADS_1


"Saya akan pergi Tuan, saya akan mengundurkan diri dan kembali ke luar negri. Saya mohon belas kasih Anda. Saya menyesal sudah menggangu istri Anda. Saya yang kurang ajar karena penasaran kenapa Aran bisa melupakan saya. Maafkan saya, saya mohon sekali ini beri saya kesempatan."


Saat sedang memohon-mohon, pintu terbuka. Dokter Harun masuk.


"Han, Sebentar lagi waktunya Saga makan buah kan? Kau harus segera kembali." Demi kedamaian semua orang, dan kedamaian RS, Harun memakai senjata pamungkasnya. Dan tentu saja berhasil. Han menyimpan lagi hpnya ke dalam saku jas. "Pergilah, kau tidak mau membuat Saga menunggu kan."


Nama Tuan Saga mengembalikan kewarasan Han.


"Jangan sampai kita bertemu lagi." Melirik Jero sekilas, lalu melengos.


"Ba... baik Tuan. Terimakasih banyak."


Jero masih bersimpuh di lantai, saat Han keluar dari ruangan. Dokter Harun yang kembali setelah mengantar Han, mendapati Jero yang sudah bangun dari lantai. Sedang berdiri menatap jendela dengan tatapan nanar.


"Anda baik-baik saja?" Dokter Harun bertanya sekenanya.


"Tidak Dokter, saya tidak baik-baik saja."


Dokter Harun tertawa, lalu menarik kursi yang tadi di duduki Han. Setelah berhenti tertawa, dia tersenyum.


"Anda hebat ya, masih bisa berdiri lho, walaupun sudah menggangu istrinya Han. Berarti Anda masih terhitung baik-baik saja. Haha, saya cuma bercanda kok. Syukurlah, kaki atau tangan Anda tidak patah."


Lagi-lagi tengkuk Jero merinding, karena tahu sebenarnya Dokter Harun tidak bercanda. Dan kalimat terakhirnya benar-benar serius. Jero mengusap lengannya yang masih tersambung.


"Ya, semenjak menikah, toleransi Han memang agak melebar si. Haha, untung saja bahu Anda saja yang bergeser. Dia juga memang terkadang suka mengancam membuang orang ke daerah pedalaman. Haha. Tapi setelah menikah, dia jadi sedikit lebih baik. Hoho, Anda beruntung sekali."


Semua yang dikatakan Dokter Harun dengan cengegesan membuat Jero tidak punya keraguan lagi untuk segera pergi kembali ke luar negri.


"Kapan saya boleh pulang Dokter?"


"Haha, Anda memang harus segera pergi si, sebelum Han berubah pikiran."


Kenapa Anda sepertinya menikmati sekali percakapan ini ya, apa Anda sama-sama gilanya dengan Sekretaris Han. Jero cuma bisa bergumam, sambil memikirkan rencana masa depannya yang sudah kacau balau karena Aran.


Dan dua hari dari itu, Jero benar-benar menghilang seperti panas yang tersapu hujan. Dia langsung pergi ke luar negri setelah keluar dari RS. Surat pengunduran dirinya bahkan hanya dia kirimkan memalui email. Dia meminta anak Presdir untuk menyampaikan semuanya kepada Presdir.

__ADS_1


Begitulah, yang sebenarnya terjadi. Han yang cukup mengalah, dan membiarkan Jero pergi begitu saja.


Bersambung


__ADS_2