Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
91. Sok Kecakepan


__ADS_3

Dunia kerja harus menyambut setelah libur akhir pekan.


Sekarang sudah di depan kantor Aran, dia masih di dalam mobil. Han belum mau melepaskan istrinya dengan mudah, karena waktu masih cukup panjang, sesuai dengan perhitungannya untuk menjemput Tuan Saga, dia jadi belum mau berpisah dengan Aran.


"Kak..." Aran memberikan satu kecupan di pipi Han. "Aku turun ya, sampai jumpa sore nanti, tolong jemput aku ya." Han belum membuka kunci mobil, malah menegakkan kepala di kemudi. Memandang Aran sambil membelai rambut dengan tangan kirinya. Seringai muncul dibibirnya sambil dia menggoyangkan rambut Aran.


"Empat, apa kau serius?"


Apa sih, membahas jumlah anak lagi. Han memang terprovokasi dengan ucapan Nona Daniah saat mengatakan Aran ingin anak empat. Alhasil setelah sampai di apartemen dia masih membahasnya, bahkan sampai pagi ini.


"Kalau kau mau sebanyak itu bukankah kita harus merencanakannya dari sekarang? Dalam waktu dekat ini apa kau sudah siap?"


Mulai deh.


Semalam Han menantang Aran, saat posisi mereka sedang sangat ambigu. Han yang ada di atas Aran, masih dengan tetesan keringat membasahi otot tubuhnya. Menyentuh perut Aran.


"Kapanpun kau siap hamil, aku akan bekerja jauh lebih keras dari ini."


Wajah Aran langsung pucat, sekarang saja setiap ada kesempatan dan waktu mereka selalu melakukannya. Kalau sampai kakak mengatakan akan bekerja jauh lebih keras, aaaaaaaa! Apa dia tidak akan membiarkanku tidur. Begitulah arti ekspresi bola mata yang membelalak itu.


Kakak yang mau bekerja lebih keras di tempat tidur, tidakkkk!


Kejadian semalam langsung tampil seperti layar film di kepala Aran.


Dan sekarang, masih membahasnya juga dengan senyum-senyum begitu. Sebenarnya Aran juga terpancing setelah melihat Nona Erina. Melihat kebahagiaan yang terlihat lain dari Nona Daniah. Perasaan yang cuma bisa ditemukan pada seorang ibu. Dia juga ingin mencicipi perasaan itu, tapi bukan sekarang lah. Gumamnya. Dia masih ingin mengejar karirnya.


"Kita bicarakan lagi kapan-kapan ya sayang." Aran mencium bibir Han. "Sekarang buka pintunya, Kakak nggak mau terlambat kan, jangan sampai Tuan Saga menunggu." Memantik kesadaran suaminya, dengan menyebut nama Tuan Saga.


Efektif membuat Han mengangkat kepala.


Perlahan Han mengusap kepala Aran lagi, lalu mencium kening istrinya. Terdengar suara kunci mobil yang terbuka. Akhirnya gumam Aran. Dia bisa keluar juga.


"Pergilah, aku akan menjemputmu nanti. Kirimi aku pesan saat kau makan siang ya."


"Baik Kakak, selamat bekerja. Aku mencintai Kakak."

__ADS_1


Han tersenyum, membuat suara muah dengan imutnya menggunakan mulutnya. Sampai Aran tergelak, tapi gadis itu terlihat senang dan meladeni Han, menangkap kecupan Han lalu memasukkannya ke dalam mulut. Giliran Han yang tertawa melihat ulah istrinya.


Memang wajar gadis itu bisa lupa kalau laki-laki di hadapannya ini suaminya, karena kalau sedang berdua dengan Aran sosok harimau gila itu tidak akan terlihat batang hidungnya. Yang ada cuma kucing manis yang mengeong, minta dimanja dan diperhatikan.


Aran melambaikan tangan sebelum mobil melaju meninggalkan area parkir kantor stasiun TV. Turun dari mobil suaminya, selalu menjadi momen mendebarkan bagi Aran sekarang. Karena ada saja ritual yang harus dia lakukan. Terkadang berbeda setiap harinya. Dia menyukai situasi ini, diantar bekerja, dan dijemput juga, selalu menimbulkan sensasi mendebarkan dan penuh kerinduan baginya.


Aku bahkan sudah kangen dengan kakak! Aaaaa! Semangat Aran! Gadis itu lompat beberapa kali dan mengepalkan tangan ke udara.


Semangat reporter Arandita! Ayo bekerja keras sampai kau lelah, setelah itu punya anak yang lucu-lucu mirip kakak. Semangat!


Masih terlihat dia lompat-lompat seperti bocah menyemangati dirinya sendiri. Sebelum berlari masuk ke dalam gedung stasiun TV. Para karyawan lain pun mulai berdatangan. Dengan wajah yang terlihat bermacam-macam. Ada yang cerah, namun ada yang tertekuk karena membawa semangat akhir pekan yang mulai memudar.


Sementara itu, ternyata ada yang memperhatikan Aran sejak tadi. Saat mobil Han menepi, dia sudah ada ditempatnya parkir. Karena posisinya ada di depan mobil, melalui kaca depan yang transparan dia bisa melihat semuanya. Walaupun wajah Aran dan laki-laki itu tidak terlihat dengan jelas.


Dia mengepalkan tangan, bahkan memukul kemudi.


Ah, sialan, ternyata dia tidak membual kalau sudah menikah ya. Menyebalkan sekali, padahal seru sekali melihatnya seperti orang bodoh yang salah tingkah dan bisa disuruh ini dan itu.


Manusia bernama Jero itu masih merasa besar kepala kemarin, padahal hanya bermodalkan kenangan masa lalu saja. Masa lalu yang sebenarnya tidak berarti sama sekali untuk Aran sekarang. Tapi laki-laki itu masih merasa menggengam Aran di tangannya.


Cih, kenapa aku kesal begini si.


Entahlah, apa yang dipikirkan Jero. Kalau dia menyukai Aran, sebenarnya tidak juga. Dia hanya merasa kecewa dan harga dirinya ternodai. Karena dia masuk ke stasiun TV ini sudah berekspektasi akan bertemu dengan wanita yang bersemu malu-malu walaupun dia hanya sekedar basa basi mengatakan "Kau tidak berubah Aran, senang bertemu denganmu."


Namun realita malah menjungkir balikan semuanya.


...🍓🍓🍓...


Siang menjemput selepas makan siang. Mereka keluar untuk meliput. Aran memasukkan undangan ke dalam tasnya. Bergegas turun ke area parkir.


Liputan lapangan Aran untuk pertama kalinya bersama Jero. Rekan baru yang menggantikan Firman selama laki-laki itu berusaha move on dan bekerja di luar kota.


Gadis itu menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam. Jangan terpancing Aran, dia itu cuma buih dilautan sekarang. Aran tahu, tidak ada yang tersisa di hatinya untuk kenangan itu. Tapi dia bisa kesal juga kalau seniornya masih memancing keributan.


Jero masih terlihat besar kepala dan merasa di atas angin, walaupun tahu Aran sudah menikah sekalipun, sepertinya niat hatinya apa terlihat dengan caranya tersenyum sambil melihat Aran. Dia masih ingin menggoda Aran dengan pesonanya.

__ADS_1


Masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara. Aran duduk sambil membaca sesuatu di tab kerjanya. Hari ini liputan tentang kegiatan sosial istri para pejabat. Aran menemukan nama ibu Tuan Saga ada di dalamnya. Gadis itu sibuk dengan tab tanpa memperdulikan Jero yang sedang menyetir mobi.


"Aran, tadi pagi aku melihatnya, apa suami mu yang mengantarmu bekerja tadi pagi." Padahal sudah melihat mereka berciuman, tapi masih bertanya juga.


Apa sih, memang kau mata-mata, seperti penguntit saja. Aran hanya menjawab dengan gumaman tidak berniat menjelaskan apa pun. Lagi-lagi ditafsirkan Jero sebagai cara Aran menarik perhatiannya dengan bersikap sok cuek padanya.


Baiklah, karena aku yang menebar umpan duluan, aku yang harus bersikap baik dulu. Setelah kau jatuh dalam jebakan ku, baru aku akan melakukan sesukaku. Terbuat dari apa fantasi di kepalamu itu Jero, tapi memang itu yang membuat Jero senyum-senyum sambil mengetuk kemudi.


"Apa dia tampan? seperti aku?"


Dih, besar kepala sekali ya Anda. Dulu kau memang tampan di mata Aran anak kuliahan, tapi bagi reporter Aran yang sekarang, kau itu cuma tiang penyangga gedung. Berhentilah menggangguku senior. Bagi Aran semua laki-laki hanya terlihat berwarna abu-abu dan lurus tinggi saja. Ya kecuali Tuan Saga, dia akan merasa berdosa kalau tidak menghormati orang yang suaminya sayangi kan. Cuma Tuan Saga pengecualian, selebihnya big no!


"Senior..."


"Cih, sudah kubilang panggil aku Kakak."


"Sekarang aku sudah menikah, jadi berhentilah berimajinasi kalau aku menyukai senior. Aku akui dulu aku begitu, tapi waktu sudah memakan semuanya Senior, tidak ada yang tersisa sedikitpun di hatiku tempat untuk senior."


Jadi berhenti menggangguku.


"Ah, Aran kau ini sensitif sekali, aku kan cuma bertanya. Memang siapa yang mau merebut mu dari suamimu. Haha, kau yang sedang berfantasi yang sekarang. Dari dulu kau kan selalu aku anggap teman." Jero sedang mempertahankan harga dirinya yang sebenarnya sudah terkoyak. "Ya, aku tahu, kau kan yang suka padaku."


Ingin aku memukulnya sekarang. Dih, kalau aku adukan pada kakak kau pasti habis ditangannya.


Tapi Aran tidak akan melakukannya, baru saja lepas dari Masalah Firman gadis itu tidak mau kalau sampai Han berfikir macam-macam, bahkan yang lebih fatal pelarangan bekerja.


"Baguslah kalau Senior berfikir begitu."


Tak terasa mereka sudah sampai ditujuan. Keramaian sudah menyambut mereka. Mobil yang berderet di area parkir. Lalu lalang para tamu dan juga awak media. Berebut mencari berita dan posisi yang paling strategis.


Aran keluar dari mobil, membanting pintu dengan keras. Membuat Jero terperanjat dan memaki dalam hati.


Cih, sombong sekali dia. Memang siapa si suaminya, sampai berlagak begitu. Jero juga menggerutu keluar dari mobil. Dia memang tidak mencari tahu perihal Aran pada rekan kerja yang lain. Karena gengsi dan harga diri yang tidak mau tertangkap kalau dia memberi perhatian pada Aran. Alhasil Jero tidak tahu, ada harimau yang kapan saja bisa menerkam dan menghabisinya.


Beesambung

__ADS_1


__ADS_2