
Sandra baru saja duduk saat tiba-tiba saja seseorang menarik kursi di depannya kemudian duduk dengan santainya.
Kedua matanya serasa ingin lepas saat melihat siapa yang saat ini duduk di hadapannya dengan wajah lugu.
"Kau mengikutiku?" Sandra menatap tajam ke arah pria itu. Ia sungguh merasa geram melihat Bagas yang tiba-tiba dengan seenaknya muncul di depannya.
Kekesalannya belum berakhir saat bertemu dengan pria itu di depan restoran tadi. Kini, tiba-tiba pria itu duduk di hadapannya dengan wajah tanpa dosa.
"Apa kamu lupa kalau aku sangat muak melihatmu? Kenapa kau terus saja mengikutiku?" Sandra masih menatap tajam ke arah Bagas dengan tubuh gemetar.
Kali ini bukan gemetar ketakutan, melainkan gemetar karena amarah. Rasa takutnya pada pria itu perlahan menguap berganti dengan amarah yang hampir meledak.
Sandra sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Sejak berjam-jam berdekatan dengan pria itu di dalam pesawat, rasa takutnya pada pria itu perlahan menipis. Bahkan tadi, pria itu memeluknya saat berusaha menyelamatkannya saat akan terjatuh.
Namun, tidak ada rasa takut apalagi sampai gemetar. Sandra hanya merasa marah dan sangat kesal saat melihat wajah Bagas yang terlihat begitu menyebalkan.
"Aku hanya mencari tempat duduk yang kosong, dan kebetulan hanya kursi ini yang kosong," jawab Bagas sambil memperlihatkan wajah menyesal.
"Aku lapar. Tapi semua kursi sudah penuh oleh pengunjung. Makanya aku terpaksa duduk di sini karena di sini kursinya kosong," lanjut Bagas saat wanita di depannya itu masih terdiam dengan wajah penuh amarah dan napas memburu.
"Aku tidak suka kamu duduk di sini. Aku bahkan rela membayar lebih untuk kursi kosong yang sedang kau duduki sekarang." Sandra menatap marah dengan napas memburu.
"Jangan rusak kebahagiaanku kali ini, Brengsek! Kamu sudah pernah menghancurkan kebahagiaanku, dan sekarang, aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan lagi kebahagiaan kecilku!" Sandra hampir saja berteriak saking kesalnya. Beruntung, wanita itu masih bisa menekan suaranya.
Kedua matanya berkeliling ke arah pengunjung restoran yang berada di dekatnya. Terlihat beberapa dari mereka melihat dan mendengar perdebatannya dengan Bagas.
__ADS_1
"Maaf! Aku tidak bermaksud merusak kebahagiaanmu. Aku hanya lapar dan ingin makan dengan segera." Bagas mengusap perutnya yang terasa lapar. Laki-laki itu tidak berbohong. Dirinya memang sangat kelaparan karena hampir seharian ini terus mengikuti Sandra diam-diam tanpa sarapan terlebih dahulu.
Meskipun kalimat yang diucapkan oleh Sandra begitu menohok hatinya, tetapi, Bagas tidak bisa menyurutkan niatnya.
Pria itu memang sengaja terus membuntuti Sandra dengan alasan agar dirinya sering berinteraksi dengan wanita itu. Semenjak pertemuan yang ia rencanakan saat di pesawat beberapa hari yang lalu, Bagas sering berkonsultasi dengan psikiater.
Bagas ingin tahu langkah apa saja yang harus ia lakukan agar bisa menyembuhkan rasa trauma Sandra terhadapnya.
"Aku tidak peduli kamu lapar atau tidak, yang jelas, aku ingin kamu segera pergi dari sini. Aku muak melihatmu!" Sandra mengepalkan kedua tangannya. Sementara Bagas sedikit tersentak saat mendengar ucapan Sandra.
Namun, pria itu hanya tersenyum tipis menatap Sandra.
"Kamu harus sering bertemu denganku agar rasa takutmu padaku perlahan menghilang. Anggap saja kita sedang terapi gratis!"
"Kau!" Sandra sudah mengangkat tangannya ingin memukul pria di hadapannya. Namun, kedatangan dua orang pelayan restoran yang mengantarkan pesanan mereka membuat Sandra mengurungkan niatnya.
"Mbak, bisakah kamu usir pria gila ini?" Sandra menatap salah satu pelayan yang sedang asyik menyajikan makanannya.
"Aku akan bayar berapapun asal kamu usir pria itu pergi dari hadapanku!" Sandra menekan suaranya agar tidak terdengar oleh orang-orang yang kini sedang memperhatikannya.
"M–maaf, Mbak. Sa–saya tidak mungkin mengusir pelanggan tetap restoran ini. Bisa-bisa saya dipecat oleh pemilik restoran," jawab sang pelayan.
"Lagipula, Pak Bagas lebih dulu memesan makanan dan duduk di kursi ini sebelum Mbak datang." Pelayan perempuan itu kembali menjelaskan.
Sementara itu, Sandra yang mendengar ucapan pelayan itu tercengang. Sepertinya, apa yang diucapkan pelayan itu memang benar. Buktinya, dia bahkan mengenal nama pria itu.
__ADS_1
Rasanya, Sandra ingin segera pergi dari tempat itu. Namun, saat melihat makanan yang terhidang di atas meja, wanita itu menelan air liurnya.
Sandra benar-benar lapar!
Kamu tidak boleh kalah oleh pria brengsek itu, Sandra. Jangan pedulikan dia dan makanlah! Kamu hanya perlu makan, kemudian pulang dengan perut kenyang. Lupakan saja kebahagiaan yang kau rasakan tadi.
"Kau memang, Brengsek!" Sandra mengumpat dengan kesal, kemudian menyuapkan makanan yang sedari tadi terlihat menggoda ke dalam mulutnya.
Kedua pelayan yang tampak terkejut mendengar makian Sandra buru-buru pergi saat Bagas memberi isyarat agar mereka pergi dari sana.
"Sial! Kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali bertemu dengan pria brengsek sepertimu?"
"Terima kasih atas pujianmu, Nona."
BERSAMBUNG ....
Lama-lama gemesh sama kelakuan Bagas. pepet teruuusss ... 😂😂
Sambil nunggu Author update ayo mampir dulu di novel keren milik temen Author. Dijamin seru.
Wanita yatim piatu yang berusia 20 tahun itu pun harus menerima kenyataan pahit ketika dirinya telah mengetahui jika cintanya telah dikhianati oleh sepupunya sendiri tepat dihari pernikahannya akan tiba.
Dengan dirinya yang mengidap penyakit kanker yang ganas yang akhirnya mengharuskan dirinya terjebak dalam sebuah ikatan pernikahan kontrak dengan seorang Pria yang umurnya tujuh tahun lebih tua darinya.
__ADS_1
Untuk biaya pengobatan penyakit ganas yang ia derita, ia harus menahan rasa sakit sekaligus siksaan batin ketika sadar jika dirinya hanya akan menjadi Istri dan Menantu yang tak dianggap dari keluarga Pria yang terkenal akan kejamnya.