Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
93. Masalah selesai


__ADS_3

Hening. Hanya suara mesin kendaraan yang terdengar, bercampur tarikan nafas keduanya.


Tidak ada yang bersuara, Han sedang mencengkeram kemudi, mempertahankan kewarasan. Menahan amarahnya juga. Hari ini sebenarnya dia memiliki rencana, setelah mengantar Tuan Saga, dia akan menjemput Aran, dia juga sudah memesan tempat untuk makan malam. Di tempat lain, bukan di restoran Brian. Makan malam romantis yang ia siapkan, nanti ketika makan, mereka akan membicarakan rencana ke depan rumah tangga mereka. Membahas kapan Aran mau memiliki anak, atau bicara hal remeh remeh sambil menikmati makanan dan menggengam tangan satu sama lain. Mengungkapkan cinta yang walaupun setiap hari diucapkan tetap selalu saja kurang rasanya.


Setelah makan malam, mereka akan pulang ke rumah, mandi bersama dengan air hangat, minum susu hangat dan berakhir di tempat tidur, bergelung dan membisikkan cinta di telinga. Menutup hari dengan puncak kebahagiaan.


Tapi sepertinya rencana itu sudah hancur berantakan. Han sudah tidak terpikirkan, dengan reservasi restoran. Padahal pihak restoran sedang menunggu dengan tegang saat ini.


Terlintas lagi kejadian tadi.


Seharusnya aku patahkan saja tangan itu tadi. Siapa dia? Aku baru melihatnya hari ini. Tapi Aran bilang, dulu mereka pernah saling menyukai. Apa mereka mantan kekasih yang dipertemukan oleh takdir.


Kata-kata itulah yang di dengar Han tadi. Dia tidak mungkin salah dengar. Pembicaraan keduanya jelas sekali sampai di tempatnya berdiri.


Perasaan marah yang dulu tergambar dengan jelas di wajah Tuan Saga saat nona bertemu secara tidak sengaja dengan mantannya, rasanya benar-benar terasa nyata hari ini. Dulu, dia ikut marah karena Tuan Saga marah, sekarang perasaan marah yang muncul dihatinya mirip situasi saat itu. Tapi jauh lebih bergelora saat ini.


Sementara Aran, sekarang dia sedang membisu, karena takut bicara lebih dulu. Dia takut amarah Han akan meletup dan langsung berkobar membakar mereka. Dia tidak tahu kondisi Jero bagaimana sekarang, tapi sepertinya laki-laki itu benar-benar terluka. Tendangan Han berbeda sekali saat dia dulu mendorong Kak Firman. Saat itu Han memang kesal, tapi tidak semarah hari ini. Walaupun gadis itu tidak bisa menyalahkan suaminya, karena dalam hati kecilnya dia menunggu momen ini. Membuat Jero jera dan mundur. Tidak lagi menggangunya setelah tahu siapa suaminya. Tapi, dia tidak menduga akan sefatal ini jadinya.


Bagaimana kalau tulang Jero bengkok atau patah, hah! Terserahlah, dia kan yang tidak tahu malu dan kurang ajar. Akhirnya begitulah Aran berkesimpulan. Karena masalahnya sekarang bukanlah Jero, tapi menjelaskan kepada suaminya. Memadamkan api yang masih menyala di setiap gerakan tubuh suaminya. Itulah yang jadi masalahnya sekarang.


Mobil melaju, melibas mobil di depannya. Han membawa mobil di luar kecepatan biasanya. Di jok mobil, Aran berpegangan erat dengan kedua tangannya. Ketukan tangan di kemudi terdengar, sambil Han menyalip mobil lagi. Mereka sudah melaju di jalanan menuju komplek apartemen.


"Siapa dia?"


Aku ingin tahu semua tentangnya. Laki-laki yang menyentuhmu, yang katanya pernah kau sukai. Cih, kenapa kau menyukai orang seperti itu, standarmu di masa lalu sepertinya rendah sekali. Han sedang mencerca selera Aran di masa lalu.


Akhirnya pecah juga keheningan, selain suara deru mobil. Pertanyaan singkat yang mungkin butuh penjelasan panjang dilontarkan Han. Karena laki-laki itu ingin tahu semuanya.


"Namanya Jero Kak, dia yang menggantikan posisi Senior Firman." Secara garis besar Aran menjawab. Tapi, apa jawaban itu memuaskan bagi Han? Tentu saja tidak. Karena bukan hanya itu yang ingin dia dengar.


"Bukan itu yang ingin aku dengar Arandita."


Deg benar kan. Aran bergumam.


Aran meremas genggaman tangan dipangkuan, saat mobil melambat dan berhenti di lampu merah. Han tidak hanya ingin mendengar sekedar nama Jero, dia ingin tahu semua tentang laki-laki itu. Tapi, aaaaaa! Dia hanya aib masa laluku di masa kuliah. Begitulah Aran ingin bicara, tapi dia bingung bagaimana memilih kata. Baginya, situasi saat ini sangat mencekam.


Han merasa marah karena Jero menyentuh tangan wanita yang ia cintai, lebih marah lagi karena Jero senior yang pernah disukai Aran, dan yang membuatnya sangat, sangat marah, karena Aran tidak menceritakan perihal laki-laki itu padanya. Seperti sengaja menyembunyikan sesuatu yang entah alasannya apa, itulah yang ingin dia ketahui.


Apa yang sebenarnya ingin kau sembunyikan dariku, Aran.


"Dia senior aku di kampus Kak, dulu kami lumayan akrab." Bahkan kata lumayan rasanya terdengar menjengkelkan di telinga Han sekarang.


"Lumayan?"


Mobil sudah masuk ke area parkir, artinya sebentar lagi mereka akan sampai ke rumah. Aran terlihat panik, dia ingin menyelesaikan semuanya sebelum mereka turun dari mobil.


"Aku pernah menyukainya di masa lalu." Lirih terdengar, bersamaan dengan berhentinya mobil. Mesin mobil belum dimatikan. "Tapi kami tidak pernah pacaran Kak! Aku bersumpah atas nama Tuhan!" Aran tidak mau kesalahpahaman ini memanjang. "Aku tidak pernah pacaran dengannya."

__ADS_1


Tapi, mendengar itu api kecemburuan tetap meletup-letup. Tidak memadam sama sekali. Han memiringkan tubuh, menyentuh dagu Aran, menyuruhnya menatap matanya.


"Kenapa kalian tidak pacaran?"


Aran benar-benar benci setiap mengingat kejadian dulu. Karena cuma menamparnya dan menunjukkan betapa bodohnya dia dulu, mau dimanfaatkan seenaknya oleh Jero. Dia hanya gadis bodoh yang dibutakan perasaannya sendiri. Jadi untuk apa mengingat hal menyedihkan seperti itu pikirnya.


"Dia cuma menganggapku temannya Kak. Tidak pernah ada hubungan spesial di antara kami. Setelah dia menolak ku, aku juga menjauh darinya. Itu hanya aib masa lalu ku Kak, aku benci setiap mengingatnya." Menggengam tangan Han. "Percayalah, aku tidak memiliki perasaan yang tersisa sedikit pun padanya."


Han sebenarnya percaya, dia tahu sebesar apa Aran menyukainya. Kalau perjuangannya adalah menaklukan hati orang tua Aran, kalau perjuangan Aran adalah mendapatkan dirinya. Itulah fakta. Tapi, karena dia sedang kesal dia menutup diri dari kenyataan itu. Dan masih mengumbar amarahnya.


"Kenapa kau tidak cerita, kalau ada mantan laki-laki yang kau sukai di kantormu." Akhirnya pertanyaan itu terdengar juga.


Sebenarnya tidak ada alasan khusus, Aran hanya lupa. Dia tidak ingat sama sekali dengan Jero, apalagi saat berada di dekat Han. Untuk apa dia memikirkan orang tidak penting, kalau ada suami tampan yang bisa ia kagumi di sampingnya.


"Karena dia sama sekali tidak penting Kak, aku bahkan tidak ingat eksistensinya di muka bumi ini kalau aku tidak bertemu lagi dengannya. Dia tidak penting, makanya aku lupa untuk cerita pada Kakak."


Perlahan, Aran mendekat. Meraih Han, memeluk suaminya. Saat Han tidak mendorongnya dia merasa sangat lega. Merek masih duduk di jok mobil.


"Kak, Kakak yang aku cintai, kenapa Kakak marah pada sesuatu yang tidak penting begitu."


Aku mohon tersenyumlah seperti biasanya! Tapi, Han belum terlihat luluh. Mereka keluar dari mobil pun tanpa bergandengan tangan. Bahkan ketika memasuki lift, kesunyian masih menyergap. Han sedang ngambek dan ingin dibujuk lagi.


Saat sudah sampai di rumah, Han memilih duduk menjatuhkan tubuh di sofa, sementara Arah masih berdiri tidak jauh darinya.


"Apa Kakak tidak percaya padaku?"


"Kak..."


Aran mendekat ke sofa, duduk di atas karpet bertumpu pada lututnya. Dia menyentuh paha milik suaminya, mengusapnya perlahan. Lalu tangannya menyentuh wajah Han.


"Maaf Kak, aku salah. Tapi aku sungguh bersumpah, bahwa kami tidak berhubungan apa pun, aku sudah menghindarinya, tapi dia masih terus menggangguku." Arah menaikkan tubuhnya, lalu dalam gerakan yang sangat cepat, dia sudah duduk di pangkuan Han. Meraih wajah suaminya, mengecup bibirnya beberapa kali. "Dia tidak percaya kalau aku bahagia dengan pernikahanku, dia masih sangat keras kepala dan berfikir aku menyukainya."


"Apa? Dasar gila!"


Dengan segera Aran mencium bibir suaminya lagi. Mencegah kemarahan. Ciuman yang melarutkan emosi. Semoga batinnya.


"Jadi dia mengganggumu?"


Aran menunduk, sambil bergumam sedikit, dia membuatku tidak nyaman. Tapi segera dia ralat, kalau dia baik-baik saja dan tidak perduli tentangnya.


"Aku berhasil mendorongnya Kak, sekarang, setelah dia melihat Kakak, aku yakin dia bahkan tidak akan menyapaku lagi kalau kami bertemu." Kecupan manis mendarat lagi dibibir Han. Kecuali dia mau mati, gumam Aran. "Terimakasih sudah datang tepat waktu Kak. Kedatangan Kakak memudahkan semuanya tadi."


Aran merasa masalah sudah beres, setelah hari ini pasti tidak akan ada keributan kecil diantara mereka. Jero pasti akan menjauhinya. Karena suami Aran, adalah Sekretaris Tuan Saga. Laki-laki yang terkenal menyeramkan dikalangan reporter. Sampai hari ini saja teman-teman Aran masih takut menyebut nama suami Aran. Jadi gadis itu berfikir masalah sudah pasti selesai dengan sendirinya.


Sedangkan dalam pikiran Han, dia akan melakukan apa pun, untuk mengusir laki-laki itu dari kota ini, tidak, kalau perlu membuangnya sampai ke kutub Utara. Bagi Han, masalah ini belum selesai. Sebelum dia memangkas akarnya.


"Kenapa kau dulu menyukainya?"

__ADS_1


Ahhhh, aku tidak mau menjawab. Saat Han memeluk pinggang Aran, gadis itu langsung menjerit tiba-tiba.


"Karena dia tampan!"


Han tertawa mengejek.


"Seleramu rendahan sekali, orang seperti itu kau bilang tampan." Dengan mendorong rambutnya sendiri ke belakang.


"Benar, aku memang bodoh sekali Kak. Pernah menyukainya."


Aran menyapu wajah suami di depannya dengan menghujani kecupan di setiap bagian. Tidak ada yang terlewat sedikitpun. Berulang-ulang dia lakukan, sampai kerutan bibir Han mengendur. Saat dia menggigit pipi Han, suaminya mulai tertawa.


"Kau butuh lebih dari ini untuk menghilangkan amarahku Aran."


Aran tersenyum, sambil tangannya mulai menari di leher Han. Tangan itu mulai beraksi, melepaskan dasi dan kancing kemeja.


"Hari ini, aku akan melakukan apa pun supaya Kakak tidak marah, untuk menebus rasa bersalah ku."


Han melepaskan jas yang dia pakai, lalu tertawa. Tawaran Aran sudah membutakan pikirannya. Ya, toh dia tahu Aran tidak akan mengkhianatinya, sedikit demi sedikit sentuhan tangan dan kecupan Aran membuatnya lupa tentang laki-laki bernama Jero itu.


"Kita mulai dari kamar mandi." Han menggoyangkan dagu Aran, gadis itu tertawa dengan suara imutnya, sambil memeluk bahu suaminya saat Han bangun dari duduk. Han menggendong Aran masuk ke dalam kamar mandi.


"Aaaaahhhh, Kakak! Aaaaa! " Baru juga masuk, sudah keluar suara erangan yang dipenuhi kenikmatan. Entahlah, apa yang sedang mereka lakukan di dalam. Tapi sepertinya butuh waktu lama untuk menyelesaikan urusan mereka.


Mereka berdua keluar dari kamar mandi, tanpa memakai apa pun. Melanjutkan babak ke dua di tempat tidur.


...🍓🍓🍓...


Setelah hari itu, Jero tidak datang ke kantor, kabar yang didengar Aran, bahunya bergeser, hingga dia membutuhkan perawatan beberapa hari di RS.


Tapi, laki-laki itu benar-benar tidak pernah muncul lagi di depan Aran. Saat gadis itu iseng bertanya pada rekan kerjanya, katanya Jero mengundurkan diri dan akan kembali ke luar negri.


Aran tertawa dalam hati, ternyata mentalmu selemah itu, lantas kenapa mengganguku. Seharusnya kau menjauhiku, baru juga sekali bertemu dengan kakak. Aran kembali ke meja kerjanya dengan perasaan bahagian. Ya, walaupun dia kehilangan partner kerja lagi.


Tidak ada yang tahu, sebenarnya alasan Jero menghilang tanpa pamit, bukan hanya karena lengannya yang bergeser, bukan hanya karena pertemuannya dengan Han sore itu. Tapi, saat di RS, Han mendatangi laki-laki itu secara langsung.


"Kalau kau masih muncul di depan istriku, aku akan membuatmu dikirim ke pedalaman benua lain. Ya mungkin kau bisa meliput bagaimana manusia hidup di pedalaman hutan misalnya."


Akhirnya Jero berlutut dan memohon, meminta pengampunan dan minta maaf. Agar Han melepaskannya. Dia akan menghilang seperti debu. Begitulah dia memohon sambil bersimbah airmata, berlutut di lantai RS.


Setelahnya, Jero menghilang, dia bahkan tidak berpamitan dan keluar begitu saja dari stasiun TV.


Ya, sebenarnya itulah yang terjadi. Tapi, tidak ada yang tahu kejadian itu, selain Jero sendiri dan Han.


Kepergian Jero menyisakan posisi partner Aran. Selama beberapa Minggu posisi itu kosong. Dan hari ini, datang lagi partner baru Aran. Lagi-lagi laki-laki.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2