Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
TERNYATA RASANYA SESAKIT INI


__ADS_3

Sean menatap Sandra yang kini duduk berhadapan dengannya di ruang tunggu rumah sakit. Kedua mata gadis itu masih menyisakan air mata yang keluar dengan sendirinya.


Ternyata rasanya sesakit ini. Apa yang dulu pernah aku rasakan saat bersama Sean, kini kembali terulang. Aku sungguh tidak menyangka jika aku akan kembali merasakan kesakitan ini.


Sandra menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak seiring dengan rasa sakit yang menjalar ke ruang hatinya. Sungguh ia sangat menyesali keputusannya yang telah membuat Bagas menjauh darinya dan melupakannya.


*Selama ini aku menolaknya karena aku tidak ingin merasakan lagi sakit hati yang pernah aku rasakan saat mengetahui Sean mencintai Kanaya. Namun, ternyata perkiraanku salah. Aku tidak ingin sakit hati, tapi, saat aku tahu kamu melupakan aku rasanya justru lebih sakit.


Aku benar-benar tidak sanggup untuk kehilangan kamu, Bagas*.


Air mata Sandra kembali mengalir. Rasa sesal dan sakit hati bercampur menjadi satu. Seandainya saja dirinya tidak egois, kisah cintanya pasti tidak akan berakhir seperti ini. Kenapa dirinya tidak belajar dari kesalahannya di masa lalu?


Keegoisannya sudah membuatnya kehilangan Sean di masa lalu. Kini, karena keegoisannya pula dirinya harus rela kehilangan Bagas.


Rela kehilangan Bagas?


Tidak! Dia jelas tidak akan pernah rela kehilangan pria yang sangat mencintainya itu. Tetapi, bagaimana dengan Bagas? Apa pria itu sungguh masih mencintainya?

__ADS_1


"Menangislah! Aku tidak akan menertawakanmu meski kamu menangis di depanku." Sean mencoba mencairkan suasana.


"Jangan menghinaku."


"Aku tidak menghinamu, Sandra. Menangis tidak akan membuatmu lemah." Sean menatap wanita yang dulu pernah membuatnya begitu tergila-gila hingga rela melakukan apa saja asalkan wanita itu bahagia.


"Aku telah melakukan hal yang sama yang dulu pernah aku lakukan padamu. Keegoisanku yang dulu membuat aku kehilangan kamu, kini juga membuatku kehilangan dia," ucap Sandra dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Aku sungguh bodoh, Sean. Aku selalu merasa kalau aku baik-baik saja. Aku selalu merasa kalau apa yang aku lakukan adalah benar. Tapi kenyataannya, apa yang selalu aku anggap benar itu justru membuat aku kehilangan orang-orang yang begitu peduli padaku."


"Seandainya aku tidak menolaknya berkali-kali, aku pasti tidak akan kehilangan dia. Seandainya aku berterus terang tentang perasaanku padanya, aku pasti tidak akan merasakan kesakitan seperti ini." Air mata Sandra tumpah sudah. Wanita itu menangis di hadapan mantan suaminya.


"Kamu mencintainya?" Suara Sean terdengar sangat lembut di telinga Sandra.


"Sangat! Jika kemarin aku ragu mengatakan padanya. Kini, jika dia bertanya padaku sekali lagi, aku pasti akan menjawab dengan lantang, kalau aku juga sangat mencintainya. Aku mencintainya Sean. Bahkan lebih dari rasa cinta yang aku rasakan padamu dulu." Sandra menatap Sean sekilas kemudian menutup wajahnya dan kembali menangis.


Rasanya, Sean ingin sekali memeluk Sandra. Namun, karena di sana adalah tempat umum dan banyak sekali orang-orang yang sedang melihat mereka, Sean akhirnya menahan diri.

__ADS_1


Pria itu sudah menelepon Kanaya agar segera datang ke rumah sakit. Sean tidak tega melihat Sandra terlihat menyedihkan seperti sekarang.


"Apa kamu ingin menyerah karena saat ini dia tidak mengingatmu? Kamu bilang, kamu sangat mencintainya bukan? Apa kamu akan membiarkan wanita jahat itu mengambil orang yang kamu cintai seperti saat kamu membiarkan aku bersama Kanaya?" Sean menatap Sandra dengan tajam.


"Posisi Kanaya dan Shena jelas beda, Sean. Kenapa kamu menyamakan wanita ular itu dengan istrimu?" Sandra merasa kesal karena Sean membandingkan kejadian di masa lalunya dengan yang sekarang sedang dialaminya.


"Justru karena itu, makanya aku bertanya padamu." Sean tersenyum melihat kekesalan Sandra.


"Aku meninggalkanmu karena aku tahu kamu mencintai Kanaya." Sandra berucap pelan.


"Aku tahu. Aku bahkan tahu kalau saat itu kamu mengorbankan perasaanmu demi Kanaya karena kamu merasa bersalah padanya." Sean menjawab dengan pelan pula. Sekilas, bayangan masa lalu mereka melintas.


"Kita sedang membicarakan tentang aku dan Bagas. Kenapa kamu justru membahas masa lalu kita?"


"Karena aku tidak mau kamu melakukan hal bodoh yang akan membuatmu kehilangan orang kamu cintai hanya karena perempuan seperti Shena. Bagas jelas-jelas tidak pantas bersanding dengan wanita jahat seperti Shena."


"Aku tanya sekali lagi padamu, Sandra. Apa kamu akan menyerah kemudian meninggalkan Bagas bersama dengan perempuan itu?"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2