Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
86. Tidak Pantas


__ADS_3

Restoran Kak Brian.


Seperti biasa, Han menyuruh seorang pelayan menurunkan barang yang ada di mobil, hari ini keripik pisang, yang tadi dia beli di pinggir jalan. Tatapan penuh rasa terimakasih terlihat di mata mereka.


Kekagetan juga nampak jelas terlihat, karena apa lagi, tentu saja karena melihat wanita yang digandeng masuk oleh Sekretaris Han ke dalam restoran. Mereka berbisik dan berspekulasi sendiri, apa itu istrinya Sekretaris Han, karena mereka mendapat cerita dari bos Brian kalau Sekretaris Han sudah menikah. Tapi mereka tidak tahu menikah dengan siapa. Mereka juga tidak diundang untuk bisa mencari tahu sendiri.


Mereka si sebenarnya, tidak ada yang percaya saat mendengar kabar itu. Masak ia, laki-laki yang bahkan tidak mereka sebutkan namanya kalau sedang membicarakannya dibelakang karena saking menyeramkan ya, benar-benar akan menikah. Memang ada wanita yang berani menikahinya. Hiii, membayangkan saja sudah membuat mereka merinding ngeri.


Mereka tahu kalau Sekretaris Han juga baik, tapi kan, tapi kan, dia Sekretaris Han gumam hati mereka sama persis.


"Nah kemarilah kalian semua!" Brian memberi isyarat pada para karyawannya untuk mendekat. "Kenalkan, beliau ini bernama Arandita, kalian bisa memanggilnya Aran. Dia adalah istinya Han."


Ketika bos Brian mengenalkan Aran sebagai istri Sekretaris Han, bahkan ada yang jatuh pingsan karena kaget. Pelayan wanita yang pernah dilempar kotak tisyu sepertinya shock.


Mereka gusrak gusruk ribut mengangkat pelayan yang pingsan. Brian lalu mengajak Han dan Aran menuju dapur, dia tertawa bukannya sedih melihat karyawannya pingsan karena kaget.


Ada-ada saja kalian itu, padahal kalian tahu Han tidak semenakutkan itu, tapi masih heran kalau ada wanita yang menikahinya. Gumam Brian geli sambil menyiapkan makan malam.


Aran ikut panik karena melihat ada orang pingsan di depannya setelah dia memperkenalkan diri tadi. Dia sempat menatap korban yang jatuh pingsan sambil berjalan mengikuti langkah kaki suaminya masuk ke dalam dapur.


Apa aku saking tidak pantasnya menikah dengan kakak, sampai mereka sekaget itu. Tapi kenapa sampai ada yang pingsan si. Rasanya Aran ingin menangis, apa dia sehina itu bersanding dengan sosok suaminya. Gadis itu malah berprasangka yang tidak-tidak.


Memang kakak tampan, kaya raya, seksi, keren, baik hati, ah dia nomor satu dari segala yang terbaik. Sedangkan aku, hiks, aku hanya bermodalkan cinta mengejarnya.


Kalau didengar sepertinya sangat memprihatinkan, padahal sebenarnya yang terjadi tidak begitu Aran. Pelayan itu pingsan, karena merasa kaget, kok ada yang mau menikah dengan Sekretaris Han. Ya, walaupun mereka juga tahu kalau laki-laki itu cukup baik, tapi kan dia sangat menakutkan.


"Kak Brian, apa dia baik-baik saja, tidak perlu panggil dokter?"


Brian hanya menjawab tertawa, sementara Han acuh sambil menerima potongan buah yang diberikan Brian.


"Jangan perdulikan mereka Aran, mereka itu hanya kaget melihatmu. Makanlah buahnya, aku siapkan makan malam untuk kalian."


Karena Kak Brian sudah bicara begitu, Aran tidak enak untuk bertanya lagi.


Sambil memasak, Brian melirik sepasang suami istri di depannya. Dua orang berbeda kepribadian yang saling melengkapi satu sama lain. Yang satu terlihat hangat bicara, yang satu hanya bereaksi melalui sorot mata.


Sampai makan malam selesai mereka tidak membahas tentang karyawan yang pingsan. Walaupun di dalam hati Aran tetap saja ada yang mengganjal.


Kak Brian malah menceritakan tentang Kak Inggrid dan anak-anaknya. Dia iseng bertanya apa Aran dan Han akan segera memiliki momongan tanpa menunda. Aran hanya bisa tergelak menyahut.


Kami belum pernah membicarakan tentang anak. Kakak sendiri bagaimana ya, mau anak berapa dia dariku.


Sementara Aran mengimbangi Brian yang memang banyak bicara, Han makan seperti biasa. Telinganya mendengar, tapi bibirnya tidak menyahut meladeni.


Mereka berdua meninggalkan restoran Kak Brian, pelayan yang pingsan sudah sadar. menundukkan kepala malu pada Aran.


Rasanya kunjungan ke restoran Brian setelah menikah hari ini, tidak akan pernah dilupakan Aran. Ada yang pingsan setelah mendengar dia istrinya Han. Tentu saja dia akan terus mengingat kejadian itu. Mungkin sebagai bagian dari kenangan buruk.

__ADS_1


Sekarang mereka sudah ada di pusat perbelanjaan. Aran mendorong kereta belanja, sementara Han berjalan disampingnya.


"Kak, kenapa pelayan Kak Brian tadi pingsan ya?" Aran sambil lalu bertanya sambil melihat-lihat barang. Masih ingin membahasnya karena saat makan malam tadi tidak punya celah.


Mereka akan membeli mesin kopi. Sedang ada di area perkakas rumah tangga dan elektronik, bagian ini cukup sepi pengunjung. Bahkan hanya ada mereka di lorong.


"Kenapa kau tidak tanya kalau penasaran." Menjawab acuh seperti membicarakan sesuatu yang tidak penting. Han juga menyentuh beberapa benda dengan tangannya. Dia berhenti menarik kereta yang di dorong Aran ketika sampai di bagian alat pembuat kopi.


Ada banyak jenis, merek dan harga. Han tidak terlalu tertarik dengan mesin kopi selama ini, karena jarang meminumnya. Dia minum kopi, hanya sesekali dia beli. Tidak pernah meluangkan waktu khusus karena Tuan Saga juga tidak terlalu menyukainya.


Selama ini apa yang di makan dan apa yang diminum Tuan Saga, akan diikuti oleh Han. Sebenarnya itu semacam kebiasaan yang sudah tertanam sejak mereka kecil sampai sekarang.


Arah masih bicara dengan praduganya.


"Apa karena menurut mereka aku tidak pantas menikah dengan Kakak?" Aran menghentikan langkah. Menunduk sebentar tapi tangannya tidak menyentuh sesuatu. "Sampai kaget begitu ketika tahu aku istrinya kakak. Aaaaa, kenapa aku jadi kepikiran sih." Padahal sadar kalau dia memikirkan sesuatu yang tidak penting. Tapi tetap saja kepikiran.


Aaaaaaa!


Aran menjerit dalam hati karena terkejut.


Han menarik tangan Aran, gadis itu sampai terdorong ke arah kereta belanjanya. Kaget saat Han merapatkan tubuh, satu tangan laki-laki itu bertumpu pada rak, sementara tangan satunya meraih dagunya.


Hah! Apa ini! kenapa aku melihat adegan seperti ini di dunia nyata.


Adegan menyudutkan karakter wanita ke tembok atau ke tempat tertentu dan membuat suasana di sekelilingnya di penuhi bunga yang menebarkan aura romantis. Ini adalah adegan favorit para penulis. Termasuk dirinya.


Mata Aran yang tertuju pada leher Han yang kokoh, turun sedikit ke area dadanya yang terlihat menyembul di bawah kerah baju.


Seksi. Eh, otak.


"Kenapa kau berfikir kau tidak pantas untukku?" Suara dingin itu terdengar menunjukkan rasa tidak suka. "Lihat aku dan jawab pertanyaanku Aran." Han menggeser dagu Aran supaya mata mereka bertemu.


Eh, apa Kakak marah? walaupun kesal dia tetap tampan.


"Ah, maaf Kak, aku hanya kepikiran selintas saja, soalnya aku kaget kenapa dia pingsan."


Aran menyentuh tangan Han, yang mencengkeram dagunya. Bukannya menurunkan tangan dia tersenyum mencium punggung tangan Han. Melumerkan rasa kesal yang mungkin muncul karena kata-katanya.


"Bukan karena kau tidak pantas untukku, tapi mereka kaget, kenapa ada wanita yang mau menikah denganku."


Kali ini entah kenapa Aran tersenyum senang, walaupun kata-kata Han bohong, tapi tetap terasa menghibur baginya.


"Terimakasih Kak karena bilang begitu."


Karena terlihat Aran tidak percaya Han kembali bereaksi dengan suara tegas.


"Aku yang memilihmu, jadi jangan dengarkan omong kosong orang lain tentang hubungan kita."

__ADS_1


Deg, deg. Jantung Aran berdetak dengan kecepatan di luar batas normal. Dia berdebar karena mendapat hujan pembelaan dari suaminya.


Kakak!


"Aku yang jatuh cinta padamu, aku yang menginginkanmu. Kalau mereka bertanya, apa kau pantas ada di sisiku, seharusnya mereka mempertanyakan kenapa aku memilihmu." Tangan kokoh itu meraih tubuh Aran, menjatuhkannya dalam pelukan. "Kalau sampai kau mendengar ada yang mengatakan, kau tidak pantas untukku. Pukul saja mulutnya dengan keras. Siapa pun itu yang bilang."


Eh, apa!


Aran jadi panik, seperti kesadarannya yang sudah hilang kembali. Kalau suaminya bukanlah Han yang berhati hangat pada semua orang.


Ya, dia kan harimau gila yang akan memukul orang tanpa melihat gender kalau ada yang menggangu kenyamanan Tuan Saga. Apa sekarang posisiku sejajar dengan Tuan Saga sampai dia mengatakan itu.


Bukannya takut, hati Aran malah berdesir senang karena merasa menjadi spesial.


"Kakak, kau tidak harus memukul mereka."


"Aku yang akan membereskan kalau kau terkena masalah, pukul saja mulut orang yang berani bicara begitu di depanmu."


Ah, untung saja kau suamiku Kak. Aku bahkan sudah merinding kalau membayangkan aku jadi musuhmu.


Aran memeluk tubuh Han, lalu tengok kanan dan kiri, lorong itu masih sepi. Satu kecupan mendarat di bibir Han.


"Terimakasih Kak, aku janji tidak akan berfikir bodoh lagi. Ah, aku akan membalas mereka kalau ada yang mengatai ku tidak pantas untuk Kakak."


"Baguslah, tidak ada yang boleh menghina wanitaku."


Aaaaa, rasanya jantungku meledak karena senang mendengar dia bicara begitu.


Mereka berdua malah tertawa dan berpelukan beberapa menit di depan mesin kopi yang akan mereka bawa pulang. Han mengusap kepala Aran dan memainkan daun telinga gadis itu.


"Belanja berdua begini ternyata menyenangkan juga. Bagaimana kalau kita melakukannya sesekali."


"Benar kan, aku juga berfikir begitu. Ayo sering lakukan seperti ini Kak kedepannya, kalau Kakak tidak sibuk." Memeluk pinggang Han. "Di akhir pekan kita juga bisa keluar."


Han menunduk membisikkan sesuatu di telinga Aran. membuat wajah gadis itu langsung mengepulkan asap.


"Aku lebih suka bergelung selimut denganmu di tempat tidur saat akhir pekan."


Mereka segera pindah dari rak mesin kopi, karena ada yang datang ke lorong yang tadinya seperti mereka sewa sendiri.


Aran senyum-senyum senang menggandeng tangan Han.


Bahkan aku pernah mendisiplinkan pelayan yang berani bicara kalau Nona Daniah tidak pantas untuk tuan muda, apalagi kalau sampai ada yang berani bicara di depanmu hal demikian. Han menggengam tangan Aran. Mengingat wajah gadis yang pingsan tadi, sepertinya dia akan menanyai langsung kenapa gadis itu pingsan. Di depannya.


Mereka pulang membawa mesin kopi dan beberapa barang belanjaan lainnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2