Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
PESAWAT YANG SAMA


__ADS_3

Sandra dan Bagas akhirnya sampai di Bandara setelah menempuh perjalanan udara lebih dari lima belas jam.


Sandra berjalan dengan cepat meninggalkan pria yang saat ini masih mengikutinya dari belakang. Beberapa jam yang lalu, Sandra hampir saja gila diserang rasa takut dan panik karena duduk di samping lelaki yang sangat dibencinya.


Entah mimpi apa dia, sampai-sampai bertemu dengan pria yang hampir saja memperkosanya itu di dalam pesawat yang sama. Bukan hanya satu pesawat, yang membuatnya hampir gila karena pria itu juga duduk di sebelahnya.


Berjam-jam lamanya Sandra mensugesti dirinya agar bisa melawan rasa takut yang terus menyiksa saat bertemu Bagas. Sandra juga terus berdoa agar pria yang duduk di sampingnya itu tidak berbuat macam-macam.


Sepertinya doa wanita itu terkabul. Bagas, pria yang menurutnya sangat mengerikan itu tidak berbuat sesuatu yang membuatnya ketakutan. Pria itu bahkan terus meminta maaf dan ikut membantu menenangkan Sandra.


Meskipun Sandra sangat marah, tetapi, dia merasa bersyukur karena tidak mati dengan tubuh gemetar di depan lelaki brengsek itu.


Rasa takutnya sedikit demi sedikit menghilang dan teralihkan saat Bagas justru terus mengatakan kalimat-kalimat yang menenangkan dirinya.


"Aku tidak akan menyakitimu."


"Lupakanlah kejadian di masa lalu. Sungguh! Saat itu, aku benar-benar dijebak dan dalam pengaruh obat hingga akhirnya kejadian itu terjadi di luar kendali."


"Maafkan aku, Sandra."

__ADS_1


"Apa kamu tahu, selama bertahun-tahun aku mencarimu. Aku sungguh sangat menyesal karena telah melakukan sesuatu yang telah menyakitimu, Sandra. Bahkan selama di penjara aku terus berharap semoga suatu saat aku akan kembali bertemu denganmu untuk meminta maaf."


"Tidak disangka, ternyata Tuhan mengabulkan doaku."


Kalimat-kalimat itu diucapkan oleh Bagas tanpa henti. Namun, Sandra hanya terdiam tak menanggapi. Hanya saja, rasa panik dan ketakutan yang dirasakannya sedikit demi sedikit mulai berkurang.


Sandra terus bersikap waspada meskipun pria di sampingnya itu tidak melakukan apapun seperti yang ditakutkannya sejak tadi. Beberapa saat kemudian, rasa kantuk menyerang, hingga akhirnya Sandra pun tertidur.


Saat Sandra tertidur, Bagas bernapas dengan lega. Dalam hati, semoga perempuan yang telah mencuri hatinya itu tertidur lebih lama. Bukannya apa-apa, melihat Sandra ketakutan saat membuat hati Bagas serasa ditikam benda tajam rasanya sangat sakit melihat orang yang dicintainya justru ketakutan kamu rasa trauma yang disebabkan oleh dirinya.


"Berhenti di sana, Brengsek! Kenapa kau terus mengikutiku?" Sandra melotot melihat Bagas yang terus saja mengikutinya dari belakang.


"Dari tadi kau terus berjalan di belakangku. Apa namanya kalau bukan mengikuti?" teriak Sandra kesal.


"Kamu salah paham, Nona. Aku tidak bermaksud mengikutimu. Hanya saja, kita akan menuju ke tempat yang sama karena itu aku berjalan di belakangmu," jawab Bagas santai.


Sementara itu, wajah Sandra merah padam. Model cantik itu mempercepat langkahnya menuju mobil yang terparkir di depannya. Mobil yang dikendarai oleh sopir pribadi yang selama ini bekerja menjaga rumah Sandra yang berada di Jakarta.


Selain rumah besar yang ditinggalkan Sean untuknya sebagai harta gono-gini, Sandra juga mempunyai rumah lain. Rumah baru yang dibeli Sandra beberapa bulan lalu saat dirinya memutuskan untuk kembali ke negaranya.

__ADS_1


Sebenarnya, Sandra bisa saja tinggal di apartemen miliknya. Namun, entah mengapa, Sandra sangat tertarik saat salah satu temannya yang berada di Indonesia menawarkan rumah itu padanya.


Sandra masuk ke dalam mobil. Ia tidak menghiraukan lagi sosok pria yang sedari tadi menguntitnya. Sandra merasa kesal sekaligus malu. Kesal karena pria brengsek itu sedari tadi mengikutinya sekaligus merasa malu karena tuduhannya pada pria itu tidak benar.


Ucapan lelaki itu memang benar. Dia tidak sedang mengikuti Sandra. Akan tetapi, karena mobil yang menjemputnya ternyata berada di sebelah mobil yang akan menjemput Sandra, mau tidak mau, Bagas pun berjalan di belakang model cantik itu.


Bagas tersenyum saat mobil Sandra berlalu dari hadapannya. Laki-laki itu mengembuskan napas lega.


Akhirnya, aku bisa berbicara denganmu, Sandra. Semoga saja, setelah ini rasa takut dalam hatimu benar-benar akan menghilang meski suatu saat aku berada di hadapanmu.


Suara klakson mobil di belakang mobil Bagas begitu nyaring terdengar membuat Bagas dengan terburu-buru masuk ke dalam mobil. Pria itu bahkan tidak menyadari kalau sang sopir sudah memindahkan kopernya ke dalam bagasi.


"Masih ada waktu untuk mengejar dia, Bro. Sekarang kita pulang dulu dan beristirahat. Kasihan istriku, sedari tadi dia sudah kelelahan." Bimo yang duduk di kursi belakang berucap dengan kesal. Di sebelahnya, Anisa memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami.


BERSAMBUNG ....


Sambil nunggu update, yuk, kepoin novel keren milik temen Author yang lain.


__ADS_1


__ADS_2