Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
84. Pindah Tugas Firman


__ADS_3

Padahal mereka masih cium-ciuman beberapa babak di depan pintu rumah sebelum keluar. Han juga memeluk Aran sepanjang lift turun dari lantai atas dengan memakai lift khusus. Menciumi leher Aran sambil mengatakan cinta. Tapi, setelah pintu lift terbuka, dan mereka berjalan di lobby apartemen yang terlihat ada beberapa orang, setelan wajah Sekretaris Han sudah langsung berubah total.


Dingin dan tanpa ekspresi. Kuncinya, meong-meong yang cium-cium istrinya manja entah dia sembunyikan di mana.


Nah, kan nah kan! Kau sudah mode sekretaris Tuan Saga sekarang! Aran menggoyangkan kepala dan matanya saat melirik suami di sebelahnya. Tidak habis pikir, padahal cuma melewati pintu lift.


Mungkin ini yang dibilang sebenarnya aku dua orang.


"Kenapa? lihat kedepan kalau jalan." Han yang sadar diperhatikan memutar kepala Aran untuk melihat ke depan. Aran cuma tertawa dan menggoyangkan kepalanya. Han menunduk, berbisik di telinga Aran. "Aku tahu aku tampan."


Aran terkikik memeluk pinggang Han, tidak perduli ada yang melihat atau tidak. Orang berhati hangat dan tampan ini suamiku, begitu dia ingin pamer pada dunia.


Beruntungnya aku, cuma aku yang melihat pesonaku sayang. Kalau orang tahu sebaik apa dirimu, semanis apa tingkahku, aku pasti sudah punya banyak saingan. Bahkan pasti lebih brutal dari Amera yang mengejarmu dulu. Untuk poin ini sepertinya Aran harus banyak-banyak bersyukur.


Mereka sudah ada di area taman komplek apartemen. Aran turun dari mobil, mendekat ke pintu depan dekat sopir.


"Maaf ya, aku tidak mengantarmu?" Han mengusap pipi Aran lembut.


Han melihat jam tangannya, waktu terlalu mepet kalau dia harus pergi ke stasiun TV dan menjemput Tuan Saga sesuai jadwal. Walaupun Pak Mun sudah memberitahu kalau Tuan Saga bahkan belum turun untuk sarapan, karena sedang menemani Nona Daniah menyusui Erina.


Padahal dia tidak membantu apa-apa saat Nona Daniah menyusui gumam Han tidak habis pikir. Tapi beberapa kali dia harus mengundurkan jadwal karena alasan ini.


"Kau mau membawa mobil?" Tiba-tiba Han kepikiran begitu saja untuk membelikan Aran mobil.


Aran menggeleng.


"Kan lebih romantis, kalau Kakak yang mengantar dan menjemputku." Aran mengetuk kemudi mobil. "Pergilah Kak, sebentar lagi taksi onlineku juga datang. Nanti Kakak terlambat menjemput Tuan Saga."


Aku istri yang pengertian kan, pada cinta pertama mu itu. Hiks.


Han masih terlihat berfikir serius. Menatap Aran lagi.


Tapi sepertinya lucu juga kalau aku membawanya ke dealer dan memaksanya membeli mobil. Apa reaksinya akan seperti Nona Daniah ya. Han tiba-tiba tergelak kecil saat memikirkan Aran menolak pemberiannya. Apalagi kalau reaksinya akan mirip dengan Nona Daniah saat Tuan Saga membelikan mobil. Pasti lucu dan menggemaskan, Han tergelak lagi.


"Kenapa tertawa?" Aran memicing curiga pada suaminya yang tiba-tiba tertawa setelah terlihat berfikir serius. "Kakak berfikir apa?"


"Aku akan membelikanmu mobil nanti sore, jadi bersiaplah. Aku akan menjemputmu nanti."


Membelikan mobil cuma karena penasaran dengan reaksi Aran akan mirip dengan Nona Daniah atau tidak.


"Eh, kan aku bilang nggak usah."


Han sudah menyalakan mesin mobil tidak menggubris protes Aran, lalu menjentikkan jarinya menyuruh Aran mendekat. Dia memajukan bibirnya meminta ciuman. Aran manyun karena protesnya tidak ditanggapi, lalu menundukkan kepala masuk ke dalam mobil.


"Aww, aww." Aran menarik kepalanya cepat keluar dari mobil. "Kakak!"


"Hukuman, karena kau menolak hadiahku. Aku pergi ya." Tersenyum dengan manis sambil menoel dagu Aran. "Sampai jumpa nanti sore, pikirkan warna mobil apa yang kau sukai."


Gadis itu membeku, hatinya berdebar dengan kencang. Dia sudah sering melihat Sekretaris Han tersenyum, tapi senyum yang manis seperti ini sangat jarang. Deg, deg, dia seperti orang yang baru jatuh cinta pada pandangan pertama.

__ADS_1


Aran melambaikan tangan pada mobil yang berlalu dengan dada yang masih jedag jedug, lalu menyentuh bibirnya yang digigit tadi. "Dasar harimau gila kau mau membuatku serangan jantung dengan tersenyum begitu."


Aran tertawa sambil mengusap bibirnya lagi, merasai aroma segar dari bibir Han yang melekat di tubuhnya. Dia menyentuh lehernya, wajahnya memerah.


...🍓🍓🍓...


Di depan kantor stasiun TV.


Mobil taksi online yang dipakai Aran berangkat ke kantor, meninggalkan pelataran depan stasiun TV. Gadis itu tahu sudah terlambat, tapi dia berlari ke cofeeshop memesan kopi.


Kenapa setelah tidak melihat orangnya jadi efek lelahnya terasa ya. Pikiran tidak masuk akal berjejalan di kepala Aran. Saat Han ada disebelahnya dan dia meladeninya, rasanya tubuhnya baik-baik saja. Tapi setelah baru beberapa menit berpisah kok pegalnya baru terasa.


Kakak! Kau benar-benar racun yang memabukkan. Sekali menyentuhmu aku juga jadi tidak bisa menghentikan diriku.


Aran menjatuhkan kepala lemas di meja, wajahnya merah karena malu sendiri, pada kejadian pagi ini. Menghela nafas sambil menunggu kopi pesanannya.


Bisa-bisanya aku tergoda dengan rayuannya. Tidak, aku malah tambah merayunya.


Kenapa otot perut kakak bisa sekeras itu ya. Membayangkan lagi tangannya yang meraba-raba tubuh kekar dan berotot suaminya. Sepertinya dia benar-benar rajin olahraga gumam Aran. Pola makannya juga bagus sekali, yang ini Aran mau menangis rasanya. Cara Sekretaris Han makan sangat jauh berbeda dengan caranya makan.


Baru beberapa hari menikah saja sudah terlihat sekali perbedaan cara mereka hidup. Aran yang seenaknya bertemu dengan manusia yang bahkan menghitung jumlah kalori yang masuk ke dalam perutnya.


Aran mengangkat kepala dan keluar dari lamunan. Kopinya sudah jadi, gadis itu mengambilnya lalu lari berdesakan dengan karyawan lain di dalam lift.


Begitulah hari ini dimulai.


Siang hari, setelah meliput berita kedatangan bapak mentri di sebuah proyek negara. Mereka akan kembali ke kantor. Tiba-tiba, tanpa bicara, Firman menghentikan mobil yang dia kemudikan. Berhenti di sembarang tempat, sepertinya dekat dengan pertokoan saat Aran melirik ke luar. Firman sudah turun, mengetuk kaca mobil Aran mengajak Aran turun.


"Apa sih? Mau apa?"


Firman tidak menjawab, dia sudah duduk di sebuah kursi yang ada di taman kecil pinggir jalan. Di bawah sebuah pohon besar. Dari wajahnya terlihat, apa yang ingin dia bicarakan serius.


Arab menyusul duduk di sebelah Firman. Matanya melihat ke arah pertokoan.


"Eh, senior aku kayaknya kenal tempat ini." Aran mengenali kursi yang dia duduki, dan pohon yang ada di atasnya setelah diperhatikan. "Ini kan rukonya Nona Daniah, istrinya Tuan Saga."


Firman yang sudah mengumpulkan kata-kata di tenggorokannya tercekik, saat Aran menepuk bahunya dan langsung lari menuju ruko.


"Aku mau menyapa teman-teman Nona dulu."


Ah, bisa gila aku! Kalau kau tidak peka kenapa bisa separah ini sih!


Firman mengangguk pasrah pada akhirnya, walaupun sedikit kesal. Dan lewat setengah jam gadis itu baru muncul di hadapannya. Keluar dengan membawa dua botol minuman. Menyodorkan kepada Firman.


"Aku mau pergi." Ucapan Firman pertama kali, saat Aran sudah duduk.


Aran meneguk minumannya. Sambil bergumam, kenapa izin padaku, pergi ya pergi saja. Memang kau mau pergi ke mana si Kak, ke pasar pakai izin segala. Aran meneliti ekspresi Firman.


Firman melanjutkan kalimatnya setelah menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"Aku akan dipindah tugaskan ke luar kota."


Untung botol minum itu sudah tertutup saat jatuh ke tanah. Deg, tiba-tiba pikiran buruk merayap di kepala Aran.


Ini bukan karena ulah kakak kan?


Aran tidak bisa tidak berburuk sangka sekarang. Gara-gara aku menyentuh bahu Kak Firman dan kakak melihatnya kemarin, pikiran buruk sangka semakin jelas di kepala Aran.


Apa kakak terlibat dengan kepindahan Kak Firman.


"Apa ini gara-gara aku?"


Firman membuka botol minumnya, tidak menjawab. Tapi dengan tidak menjawabnya Firman malah berarti itulah kenyataanya. Begitu kesimpulan yang muncul di kepala Aran.


Jadi benar, ini karena Kak Han. Aaaa, bagaimana ini. Rasa bersalah langsung menancap di hati Aran. Kalau dia bertanya pada suaminya sekarang, apa tidak akan menjadi pertengkaran baru.


"Aku tersiksa melihatmu setiap hari." Firman tertunduk memainkan botol ditangannya. "Kau terlihat bahagia setelah menikah."


Eh, tentu saja aku bahagia, karena aku menikah dengan laki-laki yang aku cintai. Tunggu, kalau dia pindah karena aku, itu artinya kakak tidak terlibat kan?


Rasa bersalah langsung memanah hati Aran yang sudah menuduh suaminya tanpa alasan.


"Aku minta dipindahkan sementara waktu sampai hatiku siap."


"Kak Firman kan sudah merestuiku, bahkan datang ke pernikahanku, dan mendoakan kami."


"Aku tahu, tapi entahlah, masih ada yang sakit setiap melihatmu."


"Maaf Kak."


Firman mengacak rambut Aran, seperti yang dulu sering dia lakukan, saat peran mereka berdua masih seperti adik dan kakak.


"Kenapa kau minta maaf, aku yang harus menata hatiku. Sudahlah, penggantiku akan datang lusa sambil aku membereskan semuanya, aku harap kau bisa akur dengannya."


"Kak Firman sudah sudah mau pergi lusa!" Memukul bahu Firman marah. "Bisa-bisanya baru bilang sekarang."


Ah, Firman juga sebenarnya tidak mau pergi. Namun entahlah, hatinya nyeri saat melihat Aran tersenyum bahagia bukan karenanya. Dengan pengecutnya dia memilih menghindari gadis di hadapannya ini, karena kalau tidak, mungkin dia hanya akan menjadi penyakit.


"Katanya penggantiku lulusan dari kampusmu, aku lupa tapi namanya, mungkin kau kenal."


"Hah! Benarkah!"


Aran juga penasaran, siapa yang akan menggantikan Kak Firman.


Mereka berdua mengobrol sekitar setengah jam sebelum meninggalkan halaman ruko milik Nona Daniah. Ada kelegaan terpancar di wajah Firman, dia berharap benar-benar bisa melupakan perasaan di hatinya untuk Aran sebagai seorang wanita. Dia ingin kembali nanti, sebagai kakak, yang bisa memperlakukan Aran seperti dulu.


Ehm, sepertinya sekarang nggak akan bisa walaupun kau kembali menjadi mode kakak, apa kau lupa Fir, siapa suaminya Aran 😌


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2