
Sandra menghela napas panjang. Hari ini dia baru saja pulang dari psikiater.
"Padahal sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya, tapi kenapa saat bertemu dengannya aku malah ketakutan?" lirih Sandra dengan kesal.
Sandra masih ingat semua ucapan dokter tentang dirinya tadi pagi. Dirinya hanya merasa terkejut saat tiba-tiba bertemu dengan orang itu. Dokter itu juga mengatakan, kalau dirinya hanya perlu keberanian saat bertemu dengan lelaki yang hampir melecehkannya itu.
"Apa yang dikatakan oleh dokter memang benar. Aku hanya perlu keberanian untuk bertemu dengan pria brengsek itu." Sandra kembali berujar. Netranya menatap jarum jam yang menempel di dinding kamarnya.
"Masih ada waktu dua jam lagi untuk beristirahat." Sandra menghela napas lelah. Dulu, dia ingin sekali menjadi top model dunia. Namun, akhir-akhir ini sepertinya semangat Sandra sedikit turun.
Menjadi terkenal itu ternyata bukan hanya tidak mudah, ada tanggung jawab besar yang harus dipertanggung jawabkan.
Tawaran pekerjaan membanjiri Sandra. Dari pagi hingga malam hari, model cantik itu bekerja. Berbagai peragaan busana, pemotretan juga syuting iklan Sandra lakukan.
Beruntung, dia mempunyai asisten sekaligus sahabat seperti Anisa. Mengingat Anisa, Sandra teringat dengan Maya. Sahabat yang pernah mengkhianatinya dulu.
"Semoga Anisa tidak seperti Maya yang dulu mengkhianati aku," gumam Sandra. Wanita itu memejamkan matanya. Rasa kantuk mendera. Wajar saja Sandra mengantuk. Semalam, dia bekerja sampai jam tiga dinihari.
Sebelum benar-benar tertidur, Sandra mengirim pesan pada Anisa agar membangunkannya nanti. Setelah mendapat jawaban dari Anisa, Sandra kemudian tertidur karena sudah tidak bisa menahan kantuknya.
***
Sandra baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Gurat kelelahan tercetak jelas pada wajah cantiknya. Wanita itu berjalan beriringan dengan Anisa menuju mobilnya.
Anisa menatap bosnya sambil tersenyum tipis. Wanita itu duduk di belakang kemudi. Sementara Sandra duduk di sampingnya.
"Kamu boleh beristirahat dulu, nanti kalau sudah sampai aku akan membangunkanmu," ucap Anisa. Tangannya memutar kunci, menyalakan mesin mobil.
Sandra mengangguk. "Aku lelah sekali, Nis." Sandra mengembuskan napas panjang sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Kira-kira berapa lama lagi kontrakku berakhir, Nis?" tanya Sandra tanpa melihat ke arah Anisa yang sudah melajukan mobilnya.
"Seandainya kamu tidak ingin memperpanjang lagi awal tahun depan kontrakmu berakhir.
Sandra terdengar menghela napas panjang.
"Kemungkinan besar, dia akan kembali memakai jasamu kalau kamu setuju." Anisa melirik dari kaca spion.
Mendengar ucapan Anisa, Sandra kembali menghela napas panjang. Perempuan itu bimbang. Sisi lain hatinya ingin tetap tinggal, tetapi sisi hatinya yang lain ingin pergi.
Pertemuannya dengan lelaki itu membuat Sandra merubah rencana hidupnya. Rencana yang awalnya ingin tinggal lebih lama dan merajut mimpinya di Paris sirna sudah.
"Apa kamu masih berniat mengakhiri karirmu di sini hanya gara-gara pria itu? Memangnya kamu yakin kalau pria itu akan datang lagi menemuimu?"
"Bisa saja kemarin itu kalian tidak sengaja bertemu bukan?" lanjut Anisa tanpa menoleh pada Sandra.
Sementara Sandra langsung membuka matanya karena terkejut. Wanita itu seolah baru saja tersadar.
Anisa tersenyum melihat wanita itu terlihat bersemangat setelah dia menyebutkan kalau kedatangan Bagas adalah suatu kebetulan.
Namun, detik berikutnya Sandra kembali menyandarkan tubuhnya. Kedua matanya kembali terpejam.
Anisa yang melihat itu langsung mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Kamu tidak yakin kalau pria itu hanya kebetulan bertemu denganmu?"
"Hmm."
Anisa menggedikkan bahu mendengar jawaban Sandra. Dalam hati, ia ingin Sandra bertahan di Paris. Anisa sangat tahu bagaimana perjuangan model cantik itu untuk sampai ke tahap sekarang. Ia tidak ingin sahabatnya itu menyesal karena telah mengambil keputusan yang salah.
__ADS_1
Namun, jika itu memang sudah menjadi keputusan Sandra, Anisa hanya bisa mendukungnya.
"Sebenarnya bukan hanya karena dia saja." Sandra berucap dengan lirih, tetapi masih terdengar oleh Anisa.
"Maksud kamu?"
"Aku ingin pulang. Aku rindu–"
"Rindu siapa? Mantan suamimu?" potong Anisa sambil tertawa pelan.
Sandra berdecak kesal mendengar ucapan Anisa.
"Aku sudah melupakannya. Aku tidak lagi merindukan dia."
"Lalu? Kenapa kamu ingin pulang?"
"Entahlah! Aku hanya lelah. Ingin istirahat sebentar. Aku ingin jalan-jalan, liburan. Kamu tahu sendiri bukan, setiap hari aku kerja dan kerja. Aku ...." Sandra tidak melanjutkan ucapannya.
"Terserah kamu saja. Apa pun yang ingin kamu lakukan, aku akan mendukungmu." Anisa tersenyum.
Lelah! Mungkin memang benar Sandra merasa lelah. Bagaimana tidak lelah, dari pagi hingga malam bahkan terkadang sampai dini hari, hidup Sandra hanya dihabiskan untuk bekerja dan bekerja.
Tidak ada acara menghibur diri seperti menghabiskan waktu di Club malam ataupun berkencan. Wanita itu benar-benar hanya bekerja.
"Terima kasih, Nisa. Kamu memang sahabatku yang paling baik."
BERSAMBUNG ....
Kepoin juga cerita keren punya temen Author yang satu ini yuk!
__ADS_1
Hidup bahagia dengan bergelimang harta adalah mimpi semua wanita. Berfoya-foya dengan geng sosialita adalah kegiatan rutin yang harus dilaksanakan oleh keempat wanita yang usianya tidak muda lagi. Mereka tak lain adalah Astrid, Soraya, Dena dan Rahma. Lalu apakah hidup hanya dipakai untuk bersenang-senang? Lantas bagaimana dengan permasalahan masing-masing? Apakah hidup hanya untuk sekadar bersenang-senang, kemewahan dan gemerlap malam?