
Liana dan Bimantara segera bergegas ke rumah sakit saat mendengar kabar Kalau Bagas sudah sadarkan diri. Kondisi anak lelaki mereka kini sudah membaik. Hanya saja, sesuatu yang buruk terjadi akibat kecelakaan itu.
Bimo sudah menjelaskan pada Liana dan Bimantara kalau Bagas saat ini mengalami amnesia akibat benturan keras di kepalanya. Bagas melupakan semua ingatannya sebelum kecelakaan.
Parahnya, ternyata bukan hanya Sandra yang dilupakan oleh Bagas. Pria itu juga melupakan Bimo dan Anisa. Dua orang yang merupakan orang kepercayaannya.
Liana dan Bimantara sudah sampai di ruang rawat inap Bagas. Liana dengan segera mendekati Bagas yang sedang berbincang dengan Bimo.
"Sayang, akhirnya kamu bangun juga." Liana memeluk Bagas setelah Bimo menyingkir dari hadapan Bagas. Wanita itu memeluk tubuh putranya dengan pelan karena hampir sekujur tubuh Bagas mengalami luka-luka.
"Mama sangat khawatir karena kamu tidak bangun-bangun dari kemarin. Maafkan Mama, Bagas." Liana menatap Bagas dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Mama?" Bagas menatap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di hadapannya.
"Iya, Sayang, ini mama. Mama sama papa buru-buru datang ke sini saat mendengar kamu sadar." Bimantara mengangguk saat sang istri menatapnya. Pria paruh baya itu mengulas senyumnya saat Bagas juga menatapnya.
"Maafkan aku, aku tidak mengingat kalian berdua," ucap Bagas. Lelaki itu meringis sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Jangan paksa untuk mengingatnya, Bagas." Bimo menginterupsi. Lelaki itu mengingat ucapan dokter yang melarangnya untuk memaksa Bagas mengingat semuanya.
"Dokter melarang kita untuk memaksa memulihkan ingatannya." Bagas menjelaskan saat Liana menatapnya dengan pandangan tidak suka.
"Apa lagi yang dikatakan oleh dokter, Bimo?" Liana masih menatap orang kepercayaan Bagas itu dengan tajam.
"Dokter hanya menyuruh Bagas untuk beristirahat agar cepat pulih." Bimo berucap pelan sambil menatap wanita yang melahirkan bosnya itu.
Liana mengangguk sebelum akhirnya berterima kasih pada sepasang suami istri yang sedari kemarin menunggu Bagas di rumah sakit.
"Jangan memaksa untuk mengingat apapun, Bagas. Kamu dengar apa yang dikatakan dokter, bukan?" Liana mengusap kepala Bagas yang tertutup perban. Sementara Bagas hanya mengangguk pelan.
"Aku ingin tidur, Ma." Bagas menatap wajah Liana. Kepalanya terasa pusing saat sekelebat ingatan melintas di kepalanya.
__ADS_1
"Tidurlah! Mama akan di sini menemanimu." Liana mengusap pelan rambut Bagas.
"Papa juga akan menemanimu di sini selama satu jam ke depan sebelum meeting dimulai." Bimantara mengusap bahu sang putra.
Dalam hati, ia berdoa, semoga putranya kembali pulih agar bisa kembali ke kantor dan mengurus perusahaan seperti biasa.
Bagas memaksakan senyumnya. Laki-laki itu memejamkan mata saat rasa sakit kembali menyerang kepalanya.
"She–Shena." Bagas memegangi kepalanya saat bayangan Shena melintas.
"Bukankah mama menyuruhku untuk melamar Shena? Lalu, di mana dia sekarang?" Suara Bagas terdengar pelan, tetapi, sangat jelas di telinga orang-orang yang kini berada di hadapannya.
"Shena?"
"Sayang, kamu mengingat Shena?" Bagas mengangguk pelan mendengar pertanyaan dari wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Bukankah Mama menyuruhku untuk melamarnya?"
Bukan hanya hari itu saja. Setiap hari wanita itu memang datang ke rumah sakit untuk menemui Bagas. Namun, Bimo melarang wanita itu mendekati Bagas apalagi sampai menemuinya.
Bimantara memberikan perintah khusus pada Bimo agar wanita bersama Shena itu tidak lagi datang ke rumah sakit untuk menemui Bagas.
Awalnya Liana tidak setuju. Tetapi, setelah mendengar cerita dari Bimo dan suaminya, akhirnya Liana setuju. Biar bagaimanapun, tindakan Shena yang sudah mengancam Bagas tidak bisa dibenarkan.
Gara-gara ancaman Shena, Bagas tidak bisa menahan emosi, hingga pria itu akhirnya kehilangan konsentrasi mengemudi dan berakibat kecelakaan.
Liana juga sudah memutuskan untuk membatalkan acara lamarannya terhadap Shena. Bukan karena Bagas masih di rumah sakit. Tetapi, karena Liana tidak mau mempunyai menantu licik seperti Shena.
Ia sungguh tidak menyangka gadis yang terlihat cantik dan polos itu ternyata begitu licik.
"Mama membatalkan lamaran itu, Bagas. Mama tidak suka dengan wanita ular seperti dia."
__ADS_1
"Mama. Kenapa Mama menyebutnya wanita ular? Apa Mama tidak setuju aku menikah dengan kekasihku?"
"Apa?"
***
Sandra berdiri tepat di hadapan Bagas yang memejamkan matanya. Lelaki itu kini tertidur setelah sedikit berdebat dengan kedua orang tuanya.
Melihat Bagas yang tertidur pulas membuat Sandra tersenyum. Rasanya, ia ingin sekali memeluk pria itu. Akan tetapi, melihat beberapa perban yang menempel hampir di seluruh tubuhnya membuat Sandra mengurungkan niat.
Kedua orang tua Bagas baru saja pergi saat dirinya datang. Sandra sungguh merasa bersyukur karena kedua orang tua Bagas akhirnya bisa menerimanya kembali. Liana dan Bimantara menyerahkan Bagas padanya.
Mereka berdua mengatakan agar dirinya tetap berada di sisi Bagas meskipun saat ini pria itu melupakannya. Liana dan Bimantara yakin, kalau Sandra pasti akan membuat Bagas kembali mengingatnya.
Biar bagaimanapun, Sandra adalah wanita yang sangat dicintainya oleh Bagas. Meskipun yang diingat oleh Bagas saat ini adalah Shena. Ya! Dalam ingatan Bagas, Shena adalah kekasihnya.
"Aku merindukanmu, Bagas. Sangat merindukanmu." Sandra menggenggam tangan Bagas. Wanita itu menatap pria di hadapannya dengan rasa rindu yang membuncah.
Sungguh! Seandainya Sandra bisa memutar waktu, ia ingin sekali kembali mengulang saat Bagas memeluknya dan mengatakan kata-kata cinta untuknya.
"Aku mencintaimu, Bagas," bisik Sandra dengan air mata yang kini turun membasahi pipi mulusnya.
"Tapi aku tidak mencintaimu. Dasar perempuan tidak tahu diri! Apa kamu tidak tahu kalau sebentar lagi aku akan menikah?" Suara Bagas mengagetkan Sandra.
"Bagas–"
Ucapan Sandra terhenti saat mendengar suara pintu terbuka. Di sana, sosok wanita cantik yang tidak ingin ia lihat berdiri sambil tersenyum.
"Sayang, kamu sudah datang?"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1