Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
TAPI AKU TIDAK MENCINTAIMU


__ADS_3

Sandra dengan kesal melepaskan tangan Bagas yang terus menggenggamnya. Kali ini, mereka sedang berada di dalam mobil.


Selepas makan siang tadi, Bagas benar-benar membawanya pergi dari rumah Liana. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu, Sandra benar-benar merasa kesal.


Kenapa pria ini selalu saja memaksakan kehendaknya?


"Sepertinya kamu sangat menyukai ibuku. Sampai-sampai kamu terlihat kesal aku ajak pergi," celetuk Bagas. Sedari tadi wanita di sebelahnya itu mendiamkannya.


Sandra tidak menjawab apapun. Wanita itu fokus menatap jalanan. Entah, pria itu akan membawanya kemana. Sandra pun malas menanyakannya.


Sandra terus terdiam, tidak menanggapi apapun yang dikatakan oleh Bagas. Baginya, bicara pun tidak ada gunanya, toh, pria ini pemaksa. Tidak mungkin ia menuruti keinginannya meskipun mulutnya sampai berbusa.


"Jadi, kamu benar-benar marah aku ajak pergi?" Bagas kembali bertanya meskipun mulut gadisnya itu tetap terkunci.


Sandra tetap mengabaikannya. Tidak peduli sedari tadi dia berbicara panjang lebar.


"Benarkah dia marah hanya karena aku membawanya pergi dari rumah?" batin Bagas.


Melihat Sandra yang acuh tak acuh membuat Bagas kesal kemudian meluapkan kekesalannya dengan menambah kecepatan mobilnya.


"Bagas!" teriak Sandra saat mobil Bagas melaju kencang. Wanita itu berteriak panik.


Bagas tersenyum miring.


"Bagas hentikan!" Sandra kembali berteriak. Apalagi, saat Bagas menyalip beberapa kendaraan di depannya.


"Kalau kamu tidak menghentikannya, aku benar-benar tidak mau bertemu denganmu lagi!" Sandra kembali berteriak.


Mendengar ucapan Sandra, Bagas pun kembali mengurangi laju kendaraannya. Bagaimana pun hubungan Sandra da dirinya baru saja dimulai. Tidak mungkin ia akan merusaknya hanya karena kesal.


"Kau benar-benar brengsek, Bagas!"


"Brengsek!"

__ADS_1


"Brengsek!" Sandra kembali berteriak kemudian menggigit bahu pria itu dengan kencang.


Sandra benar-benar marah sekarang.


Pria itu merintih kesakitan. Bagas dengan terpaksa meminggirkan mobilnya. Lelaki itu meraih pundak Sandra kemudian memeluknya.


"Brengsek!"


"Bajingan!"


"Sialan!"


"Kau benar-benar pria menyebalkan!" Sandra berteriak, memaki dengan seenaknya. Wanita yang selalu menjaga perkataannya di depan orang lain itu mengumpati Bagas habis-habisan. Bahunya bergetar. Sandra menangis karena kesal dan ketakutan saat Bagas mengemudikan mobilnya dengan kencang.


"Maafkan aku." Bagas membuka seatbelt agar dirinya bisa leluasa memeluk Sandra. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Sandra di atas pangkuannya kemudian memeluk perempuan yang sangat dirindukannya itu.


"Aku lebih suka kamu memarahiku dan memakiku daripada mendiamkan aku." Bagas berucap lirih.


"Maaf!" Kembali kata itu terucap dari bibirnya.


Tidak ada orang yang berani memaksakan kehendak di hadapannya. Semua orang menurutinya. Meskipun Sandra bukanlah orang jahat, tetapi, jangan lupakan Sandra yang selalu bersikap egois pada siapapun.


Di masa lalu, karena keegoisannya ingin menjadi model terkenal, Sandra bahkan rela mengorbankan sahabat baik dan suami tercintanya.


Lalu, kini tiba-tiba saja dirinya dipertemukan dengan seseorang yang selalu memaksanya. Memaksa mengikuti keinginannya, dan itu, tentu saja membuat Sandra kesal.


Namun, yang membuat Sandra lebih kesal adalah dirinya sendiri. Ia kesal karena tidak bisa menolak Bagas meskipun jelas-jelas pria itu selalu memaksanya.


"Jangan menangis lagi, aku minta maaf." Bagas mengusap air mata Sandra dengan penuh rasa bersalah. Pria itu menatap wajah cantik yang kini basah oleh air mata.


"Maaf!" ucap Bagas sekali lagi sambil menangkup wajah cantik wanita yang sangat dicintainya itu.


"Kau brengsek!" Sandra menatap Bagas dengan kesal.

__ADS_1


"Iya, aku memang brengsek."


"Menyebalkan!"


"Iya, aku memang menyebalkan."


"Sialan!"


"Hmm."


Sandra semakin kesal mendengar Bagas yang selalu menimpali ucapannya. Wanita itu mencengkram kerah baju Bagas.


"Dasar Brengsek!"


"Sialan!"


"Menyebalkan!"


"Bajingan!" Sandra kemudian menggigit lengan Bagas membuat pria itu meringis kesakitan.


"Bajingan!" teriak Sandra lagi dengan kesal.


"Aku bukan bajingan, 'kan waktu itu aku tidak jadi memperkosamu."


"Bagas!" Kali ini Sandra kembali menangis karena kesal dan marah.


Bagas memeluk Sandra dengan erat.


"Aku mencintaimu."


"Jangan marah lagi. Aku janji, aku tidak akan memaksamu lagi," lanjut Bagas sambil menatap Sandra penuh cinta.


"Aku mencintaimu. Bertahun-tahun aku menyimpan perasaan ini sendirian. Aku tidak tahan jika kamu mengabaikan aku." Bagas masih memindai wajah cantik Sandra.

__ADS_1


"Tapi aku tidak mencintaimu."


BERSAMBUNG ....


__ADS_2