
Percikan air karena hujan semalam masih membasahi jendela kamar, mendung pun terlihat berarak dengan gumpalan awan yang berwarna gelap di langit. Pagi yang syahdu, ditambah dengan akhir pekan. Tentu saja hanya melahirkan rasa malas untuk bergerak dari tempat tidur.
Tentu saja, dua orang yang sedang bergelung dalam selimut di atas tempat tidur melakukan hal yang sama. Mereka sudah bangun pagi tadi, bahkan yang satu sudah menikmati segelas susu hangat yang satunya minum segelas kopi. Namun, hawa dingin yang dikeluarkan alam membuat Han menggendong Aran lagi masuk ke kamar.
Hari ini mereka rencananya mau pergi piknik bersama keluarga Aran, tapi sepertinya cuaca kurang mendukung. Mungkin nanti, kalau matahari muncul dan meninggi, dan langit berubah cerah. Mereka akan tetap pergi, kalau tidak, bisa jadi mereka akan merubah rencana. Biarlah itu nanti saja pikir Aran.
Tubuh hangat yang sedang memeluknya sangat sayang untuk dilewatkan. Aran yang tertidur di lengan berotot Han memiringkan tubuh. Perlahan, tangannya menari di atas tubuh tanpa pakaian itu. Dia bergumam pelan, suasana pagi ini sangat tenang, setelah memuaskan hasrat satu sama lain, dia jadi ingin bicara sesuatu yang penting. Lagi-lagi masih bermuara pada masalah anak.
Hal yang ingin dia bicarakan dengan ibu nanti juga tidak jauh-jauh dari itu.
Dan sekarang, bicara dengan Kakak dulu yang utama.
"Kak, aku masih ingin tetap bekerja walaupun nanti aku punya anak, apa tidak apa-apa?" Dikantornya banyak juga wanita-wanita yang sudah berumah tangga, mereka ibu kalau di rumah, namun juga gadis pekerja. Dan dia juga ingin seperti itu. Masih banyak hal yang ingin dia lakukan. "Aku tahu, kalau hanya uang, Kakak punya uang yang jauh lebih banyak dari yang aku hasilkan dari gajiku, tapi..." Tangan Han yang Aran pakai sebagai bantal terangkat, mengusap kepala bagian belakang. Lalu satu kecupan membekas basah di kening gadis itu. "Apa Kakak setuju?"
Mungkin dia akan menitipkan anaknya saat bekerja, tapi dia akan cuti setelah melahirkan. Tapi setelahnya, Aran ingin kembali bekerja.
Tangan Han bergerak mengusap bahu Aran.
__ADS_1
"Lakukanlah, kalau kau maunya seperti itu. Aku tidak akan mengubur satu impianmu demi mewujudkan impian yang lain. Kalau kau mau menjalani keduanya, ayo lakukan bersama."
"Sungguh! Terimakasih ya Kak. Ah, Kakak memang suami terbaik. Tampan, baik hati, pengertian. Aku semakin mencintaimu Kak dari hari ke hari." Ehm, maaf, mungkin kalau ini cuma Aran seorang yang bisa melihat dan merasakannya.
Han mencium bibir Aran, ikut senang karena istrinya girang. Pikirannya melayang, tentang wanita yang menjadi ibu sekaligus bekerja.
Ada banyak wanita yang menjadi ibu sekaligus mengejar karir mereka, semua punya alasan masing-masing. Ada yang karena tuntutan perekonomian, ada yang karena memang ingin melakukannya. Ya semuanya hebat, karena itulah arti sebuah pilihan.
Ya mungkin berbeda kalau untuk Nona Daniah. Entah kenapa pikiran Han tertuju pada istri tuan yang dia layani. Ketika Aran bicara tentang ibu pekerja.
Ah, sudahlah, toh Nona Daniah juga sudah menyesuaikan diri dan tidak pernah membicarakan tentang pekerjaan. Toko onlinenya juga masih berjalan, walaupun tanpa campur tangannya.
"Nona? Aku rasa tidak Kak, Nona sangat menikmati perannya jadi ibu sekarang. Dengan anak selucu Nona Erina. Aaaaa, aku juga gemas. Tapi entah kenapa, aku pengen anak laki-laki, biar setampan Kakak." Apa membicarakan anak sudah segemas ini ya pikir Aran. Padahal anaknya saja belum ada, tapi banyak hal yang dipikirkan Aran sekarang kalau seandainya dia punya anak nanti.
Han mempererat pelukannya, mencium tengkuk Aran. Saat gadis itu bicara kalau dia memiliki anak, apa yang ingin dia lakukan nanti.
"Jam berapa ini Kak? Ayo bangun, ibu pasti sudah menunggu." Aran menepuk perut berotot milik Han, meremasnya seperti meremas handuk. Maksudnya supaya dia berhenti menciumi lehernya dan bangun.
__ADS_1
Tapi..
"Wahh, kau menggodaku lagi." Bukannya bangun, malah satu kaki panjang milik Han sudah melintang di atas tubuh Aran. Aran menjerit, bukannya berusaha melepaskan diri, malah tertawa sambil meladeni maunya suaminya. "Haha, kau benar-benar sudah pasrah dan menyesuaikan diri ya."
Aran terkikik lalu menarik selimut, mereka memulai lagi, diawali dengan sentuhan, tangan yang menari di tubuh pasangan, kecupan basah yang membekas noktah merah, setelah itu semuanya berubah menjadi ciuman panas. Tidak ada yang tahu apa yang mereka lakukan di bawah selimut, karena mendung diluar sana membuat mereka semakin menikmati kegiatan pagi di bawah selimut itu.
"Aaaaaa, Kakak!"
"Hahaha..."
"Kakak!"
"Aku mencintaimu Aran, lahirkanlah anak sebanyak yang kau inginkan." Muahhhh "Kau mau empat? Baiklah, ayo kita punya anak empat. Semakin banyak pasti semakin seru." Han yang selama ini hidup sebagai anak tunggal, menantikan keramaian itu. "Aku mencintaimu Aran."
"Aku juga, lebih mencintai Kakak. Sebanyak apa pun Kakak mencintaiku, aku lebih banyak mencintai Kakak. Aaaaah. Haha. Sungguh, kalau Kakak mencintaiku selebar benua, aku mencintai Kakak seluas dunia."
Selimut di atas tempat tidur terus bergoyang, seirama cinta mereka berdua yang bermekaran dengan indah di pagi yang mendung ini.
__ADS_1
"Aaaaa! Kak! Ahhhh..."
Bersambung