
Sandra melempar ponselnya dengan kesal. Perempuan itu baru saja mengakhiri panggilan teleponnya secara sepihak kala Bagas mengatakan kalau dirinya saat ini sedang ada pekerjaan di Paris.
Memangnya kenapa kalau di Paris? Kenapa aku begitu kesal mendengar si brengsek itu ke Paris?
Sandra mencengkeram setir, wanita itu kemudian menyalakan mesin mobilnya. Moodnya buyar saat seseorang yang ia benci meneleponnya dan mengatakan rindu karena sekarang dirinya sedang berada di negara lain.
Rindu? Orang seperti dia mana tahu artinya rindu. Bilangnya cinta, tetapi, dia sendiri tidak tahu apa itu cinta.
Dasar bodoh!
***
Sesampainya di rumah, Sandra masih menekuk wajahnya. Rasa kesal yang dia sendiri tidak tahu entah apa sebabnya.
Huuuhhh!
Sandra menghela napas kasar. Ia sungguh tidak mengerti dengan perasaannya. Tadi pagi, saat dirinya bertemu dengan Sean dan Kanaya, perasaannya baik-baik saja.
Akan tetapi, setelah mendengar suara Bagas di ujung telepon. Hatinya merasa kesal. Entah apa yang membuatnya kesal, Sandra sendiri tidak tahu.
"Seandainya saja kamu ada di sini, Nis, aku pasti tidak akan kesepian," ucap Sandra lirih.
Sandra tiba-tiba mengingat Anisa. Perempuan cantik yang pernah menjadi asisten sekaligus managernya saat di Paris. Anisa adalah wanita baik yang membuatnya mempunyai semangat yang tinggi.
Termasuk, saat dirinya merasa ketakutan melihat Bagas karena rasa traumanya terhadap lelaki itu.
"Seharusnya aku menuruti kata-kata Anisa untuk tidak keluar dari dunia model. Rasanya, sekarang aku menyesali keputusanku untuk pulang ke sini. Apalagi, yang menjadi alasanku mundur justru sekarang sudah tidak berbahaya lagi untukku." Sandra mengacak rambutnya dengan kesal.
Dasar bodoh! Kenapa kamu begitu gegabah memutuskan sesuatu yang sangat penting dalam hidupmu?
Sandra naik ke atas ranjang. Stres memikirkan sesuatu yang membuatnya kesal, Sandra memilih untuk merebahkan tubuh di atas ranjang dan memejamkan matanya.
Namun, baru saja memejamkan mata, ponselnya berdering. Sandra kembali bangkit, meraih ponsel itu di atas nakas. Wajahnya yang awalnya lesu, kini berbinar terang.
__ADS_1
"Anisa." Nama yang tertera pada layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, Sandra segera memencet tombol hijau.
"Anisa!" pekik Sandra tidak sabar.
Sementara di ujung sana Anisa menjauhkan ponselnya saat mendengar suara teriakan Sandra. Wanita cantik itu terkekeh saat mendengar suara Sandra yang sepertinya begitu kaget karena dirinya menelepon.
"Apa kabar, Sandra? Aku minta maaf karena baru bisa menghubungimu sekarang," ucap Anisa. Ia sebenarnya merasa tidak enak, karena beberapa kali Sandra menghubungi, wanita itu sengaja mengabaikannya.
"Aku sungguh tidak baik-baik saja nggak ada kamu, Nis." Sandra mengerucutkan bibir meskipun Anisa tidak melihatnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu bilang kamu tidak baik-baik saja?" Anisa langsung panik.
"Tenang, Anisa. Aku baik-baik saja. Tidak akan terjadi apapun padaku." Sandra menjelaskan. Suara helaan napas Anisa terdengar di ujung telepon.
"Aku sungguh takut terjadi apa-apa sama kamu."
"Aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku." Sandra sungguh merasa senang mendengar wanita itu mengkhawatirkan dirinya.
"Terima kasih." Sandra membalas ucapan Anisa dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Kapan kamu pulang ke sini, Nis? Bukankah waktu itu kamu sendiri yang bilang kalau kamu juga akan kembali ke negaramu?"
"Aku sudah sampai di Jakarta, Sandra."
"Apa?" Sandra berteriak kaget.
"Kamu sudah sampai di Jakarta? Memangnya kapan kamu pulang?"
"Aku baru saja sampai dan langsung meneleponmu." Dalam hati, Anisa meminta maaf karena terpaksa membohongi Sandra.
"Benarkah?"
"Iya, Sandra. Aku kangen banget sama kamu. Rasanya, aku ingin sekali menemuimu sekarang, tapi, aku sangat lelah."
__ADS_1
Sandra terkekeh mendengar ucapan Anisa. Perjalanan lewat udara dari Paris ke Jakarta memakan waktu hampir seharian. Bagaimana tidak lelah?
"Sebaiknya, kamu istirahat dulu sekarang. Besok aku akan menjemputmu di rumah. Pastikan kamu memberikan alamat yang benar padaku," ucap Sandra.
Model cantik yang sedang berhenti sementara di dunia modelling itu sangat bahagia karena kini, sahabatnya sudah pulang ke negaranya.
"Sandra, apa kamu bertemu dengan lelaki itu selama kamu di Jakarta?"
BERSAMBUNG ....
Baca juga cerita punya temen Author yuk!
Nomor 33
Belum ada dalam pikiran Dira untuk segera mengakhiri masa sendirinya, ia masih trauma pasca ditinggalkan oleh suami yang teramat ia cintai pergi untuk selamanya dan disusul satu-satunya superhero yang selalu berada disisinya, yaitu Ibu.
Meskipun pada kenyataannya sosok pria yang selama ini selalu memperlakukan Dira dengan lembut, ternyata diujung usianya menunjukkan sebuah kenyataan yang teramat pahit, sehingga menyisakan luka dan trauma yang teramat mendalam bagi Dira.
Dira masih tetap mencintainya.
Disisi lain, putra sulung dari pemilik Raymond Group mengalami kegagalannya dalam berumahtangga.
Setelah berhasil dari masa keterpurukannya dan memilih tinggal diluar negeri, akhirnya ia kembali ke tanah air dan menggantikan posisi ayahnya, Erick Raymond.
Awal pertemuan yang tidak sengaja antara Edgar Raymond dan Dira.
Dira ternyata bekerja di salah satu cabang milik Raymond group.
Sebuah problema mengharuskan Dira berurusan langsung dengan Tuan Edgar Raymond.
Urusan apakah itu?
__ADS_1