
Sandra terdiam saat mendengar ucapan Bagas dari ujung telepon.
"Aku mencintaimu, Sandra. Sangat mencintaimu. Rasanya, aku ingin sekali menikah denganmu agar aku tidak terus terus tersiksa dengan rasa cinta dan rindu yang kumiliki untukmu." Bagas menghentikan ucapannya sebentar. Mencoba menetralkan detak jantungnya saat dirinya dengan penuh keberanian mengungkapkan semua perasaannya pada Sandra.
Sementara itu, Sandra menghela napas panjang. Ada gelenyar aneh yang ia rasakan di sudut hatinya.
Entah mengapa, semua ucapan pria itu membuat jantungnya berdetak kencang. Sandra bahkan reflek memegangi dadanya yang berdebar.
"Aku mencintaimu, Sandra. Sangat mencintaimu. Aku berharap suatu saat nanti semua rasa cinta yang kumiliki bisa mengikis habis semua kebencianmu padaku."
Sandra masih terdiam mendengar semua ungkapan cinta dari Bagas.
Setelah bertahun-tahun berpisah dari Sean, baru kali ini dirinya kembali mendengar ungkapan cinta dari seseorang. Bukan karena Sandra tidak laku. Hanya saja, perempuan itu menjaga jarak dari lelaki manapun yang mendekatinya setelah perceraiannya dengan Sean.
"Sandra, apa kamu masih mendengarkan aku?"
"Hmm."
"Syukurlah! Aku pikir kamu tidur."
"Tidurku terganggu oleh orang tidak tahu malu yang meneleponku dan mengatakan omong kosong."
"Omong kosong? Jadi, kamu menganggap ungkapan cinta dariku adalah omong kosong? Ya, Tuhan, Sandra, kenapa kamu suka sekali membuatku patah hati?" Bagas berucap dengan kesal. Sedangkan Sandra mengulas senyum.
"Aku tidak menyuruhmu mengungkapkan perasaanmu. Jadi jangan salahkan aku kalau kamu merasa patah hati," ucap Sandra enteng.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Sandra!" Bagas menarik napas panjang. Sulit sekali menaklukkan perempuan yang saat ini sedang diteleponnya.
"Aku lelah, tapi aku tidak bisa tidur sebelum aku melihatmu." Setelah sama-sama terdiam, suara Bagas kembali terdengar.
__ADS_1
"Setelah keluar dari penjara, aku memutuskan kembali pada keluargaku dan menanggung beban mengurus perusahaan. Namun, sepertinya keputusanku kembali pada keluargaku sebuah keputusan yang salah." Bagas kembali bercerita. Tidak peduli wanita di ujung sana mendengarkannya atau tidak, yang jelas, dia hanya butuh orang untuk mendengarkannya.
Bagas tersenyum saat menatap layar ponselnya. Sandra tidak mengakhiri panggilannya. Padahal, Bagas mengira kalau perempuan itu pasti akan menolak panggilan telepon darinya.
"Seharusnya saat ini aku hanya fokus untuk mengejarmu. Bukannya meninggalkan kamu untuk menyelesaikan pekerjaanku di sini." Bagas kembali bercerita. Sementara Sandra masih terdiam. Tetapi, perempuan itu tetap mendengarkan. Entah mengapa, dia merasa senang mendengar suara Bagas. Entah kenapa, tiba-tiba suara pria itu terdengar adem di telinga Sandra.
Sejenak Sandra memukul kepalanya sendiri saat pikiran-pikiran tidak masuk akal masuk ke dalam otaknya.
"Maafkan aku karena aku tidak bisa menemuimu selama sebulan ini."
"Sebulan?" Sandra hampir saja menjatuhkan ponselnya. Wanita itu terkejut mendengar ucapan Bagas. Entah apa sebab dari keterkejutannya, Sandra sendiri tidak mengerti.
"Iya, Sayang, sebulan. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku selama sebulan di Paris." Bagas mengulum senyum mendengar nada suara Sandra yang tampak terkejut.
"Kenapa? Jangan bilang, kalau kamu sudah mulai merindukanku?"
"Heh! Jaga bicaramu! Siapa juga yang merindukanmu? Aku justru senang karena selama sebulan ini tidak akan ada lagi orang iseng yang mengikutiku kemana-mana." Sandra mencebik kesal di ujung telepon. Sementara itu, Bagas menghela napas panjang.
"Aku nggak maksa kamu buat cinta sama aku, kangen sama aku. Kenapa kamu menyalahkan aku atas perasaan yang kamu rasakan?" Sandra berucap dengan asal.
"Jahat!" Bagas menirukan kalimat yang diucapkan Dian Sastro pada Nicholas Saputra di film fenomenal Ada apa dengan cinta.
Sandra tertawa mendengar suara Bagas.
"Benar-benar jahat! Kamu bahkan tertawa di atas sakit hatiku." Bagas berucap dengan kesal. Sementara Sandra semakin terbahak di ujung sana.
Bagas tersenyum mendengar tawa renyah Sandra. Meskipun tawa itu terdengar menyakitkan baginya, tetapi Bagas rela.
Aku rela merasakan sakit asalkan aku bisa membuatmu tertawa bahagia.
__ADS_1
Sandra menghentikan tawanya.
"Aku mengantuk. Bisakah kamu tidak menggangguku lagi?" ucap Sandra sambil mengusap air mata yang keluar akibat menertawakan Bagas.
"Kamu ingin tidur?"
"Hmm."
"Aku tidak bisa tidur sebelum melihatmu. Bisakah kamu ubah panggilannya menjadi panggilan video?" Suara Bagas terdengar memohon.
"Jangan ngelunjak! Masih untung aku mau angkat panggilan telepon darimu."
"Sayang, aku mohon."
"Jangan memanggilku sayang. Aku bukan kekasihmu!" Sandra kembali dalam mode galak.
Bagas berdecak kesal.
"Jahat!"
"Biarin!"
"Sayang, aku mohon. Aku cuma ingin lihat wajah kamu biar langsung tidur. Aku nggak bisa tidur kalau belum lihat kamu."
"Bukan urusanku!"
"Sandra Milea, aku, fans beratmu, sekaligus orang yang sangat mencintaimu, memohon padamu, tolong izinkan aku melihat wajahmu dari layar ponsel. Aku mohon ...."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1
Kayaknya makin seru ya, dengan tingkah mereka. Kayak ABG yang baru jatuh cinta.