Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
MERASA KEHILANGAN


__ADS_3

Sandra mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangan. Hatinya merasa galau. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang.


Setelah Bagas mengungkapkan perasaannya dan berujung penolakan dari Sandra, pria itu kini tidak menggangunya lagi. Tidak ada telepon, tidak ada pesan seperti biasanya. Tidak ada lagi orang yang iseng mengganggunya.


Akan tetapi, kenapa rasanya sekarang sangat berbeda? Biasanya Sandra sangat kesal saat pria itu menghubunginya, tetapi, sekarang, kenapa dia malah galau saat tidak ada satupun pesan yang masuk dari nomor pria itu?


Jangankan menelepon, berkirim pesan basa-basi seperti biasanya saja tidak.


"Apa dia marah karena aku menolaknya?" ucap Sandra lirih.


Ingatannya kembali saat mereka berdua berada di pantai beberapa hari yang lalu.


"Semenjak aku berpisah dengan suamiku, aku tidak pernah dekat dengan pria manapun," ucap Sandra membuat pria yang sedang memeluknya itu sedikit kaget.


"Kenapa? Apa karena kamu masih sangat mencintai mantan suamimu itu?"


Sandra menggeleng. "Tidak ada alasan yang pasti. Aku hanya belum ingin menjalin suatu hubungan dengan siapapun."


"Termasuk denganku?"

__ADS_1


"Hmm," jawab Sandra serupa gumaman.


"Apa ada alasan yang jelas selain belum siap menjalin hubungan dengan orang lain?" Bagas mempererat pelukannya. Mendengar jawaban Sandra membuat hatinya berdenyut. Bagas tidak ingin ditolak, tetapi, dia juga tidak akan memaksa Sandra untuk menerimanya.


Bagas tidak mau kalau Sandra menerimanya secara terpaksa. Pria itu memang mencintai Sandra, tetapi, bukan berarti dia akan memaksa perempuan itu untuk menerima cintanya.


Selama ini Bagas memang memaksa Sandra untuk menerima teleponnya atau bertemu dengannya. Namun, untuk memaksa Sandra menerima cintanya, Bagas jelas tidak bisa.


Bagas tidak mau Sandra terpaksa dan akhirnya wanita itu tidak bahagia bersamanya. Bagas mencintai Sandra, ia akan melakukan apapun untuk membahagiakan wanita itu.


"Aku tidak ingin bersamamu, Bagas." Ucapan Sandra membuat hati pria itu kembali berdenyut.


"Aku tidak mau menjalin hubungan karena terpaksa. Aku juga tidak mungkin menjalin hubungan dengan orang yang tidak aku cintai. Maaf!" Kali ini Sandra berbalik kemudian menatap pria itu dengan lekat.


"Apalagi, perasaanku padamu tidak sama seperti perasaanmu padaku. Aku tidak mempunyai rasa cinta seperti rasa cintamu padaku. Bukankah sebuah hubungan hanya bisa terjadi jika kedua belah pihak saling mencintai?" jelas Sandra panjang lebar.


Wanita itu ingin, Bagas mengerti kalau saat ini dirinya memang belum punya perasaan apapun terhadap pria itu. Hanya saja, akhir-akhir ini Sandra merasa nyaman saat pria itu ada di dekatnya.


Seperti sekarang ini. Wanita itu sungguh merasa nyaman bersandar pada tubuh pria itu.

__ADS_1


"Jadi, intinya kamu menolakku lagi?" Nada suara Bagas terdengar kecewa.


"Sudah aku bilang, aku belum ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Aku–"


"Baiklah! Aku mengerti. Tapi, jangan memintaku untuk melupakanmu karena aku tidak akan bisa." Bagas menatap wanita idamannya itu dengan sendu.


Melihat tatapan Bagas, Sandra sedikit tersanjung. Namun, tentu saja wanita itu tidak akan menunjukkannya pada Bagas.


"Terserah kamu saja, yang jelas, saat ini aku benar-benar ingin sendiri. Aku tidak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk dirimu," ucap Sandra tanpa perasaan.


Bagas memindai wajah cantik Sandra. Menyimpannya dalam hati dan juga pikirannya. Dalam hati, ia berjanji, akan terus berusaha mendapatkan wanita itu. Cepat atau lambat, Bagas akan menjadikan Sandra sebagai miliknya.


Bertahun-tahun dirinya mencintai perempuan itu. Bagas tidak akan membiarkan perasaan cintanya yang tulus terus diabaikan oleh wanita cantik di depannya itu.


"Baiklah, aku janji, setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi. Maafkan aku jika selama ini telah membuatmu tidak nyaman."


"Ayo kita pulang! Kita sudah terlalu lama di sini." Bagas melepas pelukannya pada Sandra. Lelaki itu kemudian meraih tangan Sandra dan berjalan beriringan dengan wanita itu.


Sandra menghela napas panjang. Sudah seminggu sejak hati itu, Bagas tidak pernah lagi menghubunginya. Sepertinya, laki-laki itu benar-benar menepati janjinya untuk tidak menggangunya lagi.

__ADS_1


"Seharusnya aku senang bukan? Tapi, kenapa aku justru seolah merasa kehilangan?"


BERSAMBUNG ....


__ADS_2