Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
90. Reka Ulang Adegan


__ADS_3

Suasana taman yang sejuk, karena pohon-pohon rindang yang selalu terawat dengan baik. Aroma bunga yang bermekaran, pas sekali dengan cuaca hari ini. Tidak panas terik namun juga tidak mendung dan hujan.


Piknik sambil menikmati camilan dan makan siang. Setelah berkendara selama sekitar satu jam. Mobil bergeraknya mungkin tidak lebih dari setengah jam. Selebihnya diisi dengan mesra-mesraan di dalam mobil.


Erina sudah tertidur di dalam boks bayinya setelah minum susu. Suster duduk di sebuah kursi di sebelahnya. Sambil menikmati camilan menonton semua hal yang diluar nalarnya.


Suster Erina termasuk orang yang sangat beruntung, terpilih menjadi suster putri Tuan Saga. Dengan gaji yang sangat besar dibandingkan saat dia bekerja di RS. Itu belum termasuk semua fasilitas mewah selama tinggal di rumah utama. Jadi gajinya bersih masuk ke kantungnya. Walaupun terkadang apa yang dia lihat di luar nalar manusia normal biasanya. Termasuk replika jalan yang ada di halaman. Dan juga piknik ala-ala yang sedang ditontonnya sekarang.


Semua ini tidak akan dia jumpai kalau dia tidak menjadi bagian pekerja Antarna Group. Sambil mengunyah makanan dia terus menyimak, kejadian di depannya.


Daniah dan Saga sedang suap-suapan mesra. Bukan suap-suapan juga, karena cuma tangan Daniah yang menyuapi. Saga hanya kunyah-kunyah saja. Sambil memainkan rambut dan memegang kipas angin portabel kecil berbentuk kelinci, mengipasi istrinya. Diselingi cium rambut sana sini.


Aran tidak mau cuma jadi penonton. Dia juga mau ikut-ikut, Han malah mendorong kepalanya. Gadis itu merengut saat suaminya tidak mau di suapi.


"Kak, aaaaa. Buka mulut Kakak juga." Bukan Aran kalau menyerah hanya karena sekali penolakan.


"Jangan aneh-aneh." Mode Sekretaris Han kalau ada di udara terbuka muncul.


"Hemmm, buka mulutnya." Menunjuk Nona Daniah dan Tuan Saga yang sudah seperti menjadi pemilik bumi berdua. Pasangan itu sama sekali tidak terganggu dengan keberadaan Aran ataupun para pelayan yang lain. Melihat Aran yang masih gigih, akhirnya Han membuka mulutnya. "Nah gitu dong." Gadis itu terlihat puas sekali.


Hup. Setelah makanan masuk ke mulut Han melengos. Sepertinya dia sedikit malu karena telinganya memerah.


Tanpa disadari Aran dan Han sekarang giliran Nona Daniah yang menyenggol lengan Tuan Saga sambil tertawa kecil karena mengomentari Aran yang menyuapi Han, dan tingkah Han yang malu-malu. Saga tidak menggubris, lebih seru bermain salon-salonan dengan rambut istrinya.


"Aran, bagaimana pekerjaanmu? Apakah lancar?" Daniah sudah selesai mengurus bayi besarnya suapan terakhir sudah masuk ke mulut, setelah selesai makan, Saga memilih duduk menggelayut di bahu Daniah. Tangannya masih memegang kipas. "Kalian berencana langsung memiliki anak kan?" Nona Daniah menepuk kepala Saga pelan yang bersandar di bahunya. Tuan Saga sih masih acuh tidak perduli dengan pembicaraan istrinya, dia cuma mau dipeluk manja, setelah bekerja sangat keras menyetir tadi.


Tuan Saga tenggelam dalam lamunannya sendiri. Dia sedang memuji kemampuan menyetirnya, perasaan bahagianya karena Niah percaya akan kemampuannya juga sedang meluap-luap sekarang. Ternyata semua kerja kerasku untuk pamer hari ini tidak sia-sia. Niahku saja percaya dan mengakui kehebatan menyetirku. Sambil memeluk Daniah, dia bergumam sendiri. Ehm, maaf Tuan Saga sebenarnya nggak gitu juga kejadiannya. Niah percaya, tapi nggak percaya-percaya amat juga.


Kembali pada Aran yang mendapat pertanyaan Daniah, dia menatap suaminya. "Kami belum membicarakannya serius Nona, tapi kalau saya ingin memantapkan karir dan pekerjaan saya dulu."


Dalam artian mereka tidak terlalu buru-buru, kalau bisa sebenarnya Aran memang belum ingin memiliki anak dulu. Dia ingin menikmati waktu berdua dengan Han seperti sepasang kekasih. Sambil membangun karirnya lebih tinggi lagi.


"Waahhh padahal katanya kau mau punya anak empat kan. Hehe. Sayang, Aran dan Han katanya mau punya anak empat." Daniah pikir Saga tidak akan tertarik dengan apa yang dia bicarakan, tapi suaminya mengangkat kepala. Melihat Han. Lalu tertawa.


Apa sih, kenapa tertawa. Daniah dan Aran dipenuhi tanda tanya.


"Ya, ya, bekerja keraslah Han. Ah, aku lelah Niah. Ayo masuk." Melihat suster, wanita itu langsung berdiri tegak. "Bawa Erina masuk."

__ADS_1


"Baik Tuan." Suster menjawab cepat lalu menggendong Erina, masuk ke dalam rumah. Seorang pelayan mengikutinya sambil memegang payung, menghindarkan Erina dari panas matahari.


Daniah yang masih ingin menikmati udara segar protes


"Ah, sayang, kan baru sebentar pikniknya. Makanannya juga belum habis." Dia masih ingin mengobrol bersama Aran.


"Kita lanjutkan saja di kamar pikniknya." Tangan Saga menoel dagu Daniah, sambil bibirnya mengembang senyum yang sangat lebar. Piknik ala-ala Saga yang akan jauh lebih menyenangkan, menurut Saga.


Han dan Aran bangun dari duduk saat Saga beranjak, Daniah yang merengut tidak membuat Saga berhenti menarik tangan Daniah. Yang ada gadis itu akhirnya menurut dan bangun juga.


"Baiklah sayang, Aran terimakasih ya sudah datang, kapan-kapan kita bertemu lagi."


"Baik Nona, selamat istirahat."


Aran dan Han menatap keduanya yang berjalan menjauh, belum terlalu jauh terlihat Tuan Saga meraih tubuh Daniah dalam pelukannya, menggendong istrinya seperti putri, lalu masuk ke dalam rumah. Pak Mun mengikuti mereka.


Tertinggalah mereka berdua.


"Kak kita jalan-jalan keliling taman yuk, dulu selama tinggal disini aku nggak pernah punya kesempatan keliling taman."


Sayang kalau mereka harus pergi begitu saja, suasana yang teduh, berjalan di antara pepohonan dan bunga pasti akan menghibur hati. Banyak sekali yang bisa dilihat disini pikir Aran. Anggap saja ini benar-benar kencan berdua dengan suami.


Sudah berjalan bergandengan tangan. Han bertanya pada Aran, sambil laki-laki itu membenturkan kepalanya pada kepala Aran yang menggelayut di lengannya.


"Mencoba apa Kak?"


"Replika jalan yang aku buat untuk Tuan Saga."


Bola mata Aran berbinar dipenuhi antusias dan penasaran. Walaupun terdengar gila, dia memang berharap bisa mengendarai mobil direplika jalan yang dibuat suaminya. Dia ingin merasakan sensasi berkendara di atas uang. Haha, kalau memikirkan berapa uang yang dikeluarkan Tuan Saga.


"Haha, memang boleh?" Aran yang sangat antusias sampai menarik-narik lengan Han, membuat Han gemas sendiri.


"Ayo."


Aran loncat-loncat kegirangan, berjalan di samping suaminya. Sepertinya lucu juga mencoba kegilaan kakak, memekik senang sendiri saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.


Sedang membayangkan jadi jadi jutawan yang berkendaraan di jalanan bertabur uang.

__ADS_1


"Ah, sayang sekali sudah tidak ada para pejalan kaki dan para figuran." Aran hanya bergumam sebenarnya, tapi Han terlihat mengeluarkan hpnya.


"Kau mau aku memanggil mereka lagi." Sepertinya yang dikatakan Han serius, karena di sudah mencari nomor di hpnya.


"Kakak tidak!"


Aku kan tidak segila itu. Haha aku lupa kalau dia sekretaris Han, aku lupa dia bisa mewujudkan kata-kataku hanya dengan sekali menelepon.


"Tidak perlu sampai begitu Kak, aku cuma bercanda. Simpan hpmu lagi Kak." Aran merebut hp, dan memasukkannya ke kantung baju.


"Kau sudah siap? tidak mau berciuman juga, supaya reka ulangnya tampak lebih nyata." Suara menggoda Han terdengar, sambil sudah menyentuh dagu Aran.


Aran tertawa, lalu dia menarik kerah baju Han dan bibir mereka beradu. Berciuman, sampai belepotan mengatur nafas. Durasinya lebih lama dari yang dilakukan Tuan Saga dan Nona Daniah tadi.


Setelah berciuman, mobil melaju dengan kecepatan rendah. Berbelok ditikungan, jalan lurus, berhenti di lampu merah, lalu keduanya pandang pandangan dan berciuman lagi. Durasinya lebih lama dari ciuman saat pertama tadi. Begitu seterusnya jalan sebentar, berciuman lagi, jalan sebentar, berciuman lagi.


Para pelayan yang keluar merapikan sisa piknik bahkan menonton mobil yang dikendarai Han dengan penuh tanda tanya, kenapa sebentar jalan lalu berhenti cukup lama. Jalan lagi berhenti lagi. Wajah mereka saling pandang dengan bias kemerahan. Pikiran mereka sama tapi tidak mau terucap dibibir mereka. Buru-buru mengerjakan pekerjaan sebelum Pak Mun datang.


Angin berhembus di sekitaran taman dan halaman rumah. Menabrak mobil yang masih berhenti di tengah jalan. Entahlah apa yang mereka lakukan di dalam sana, tidak ada yang berani mendekat atau mencari tahu juga, karena yang ada di dalam mobil itu sekarang adalah Sekretaris Han. Mereka bahkan tidak berani penasaran kenapa mobil itu bergoyang.


Hawa panas langsung menyambut saat kulit Aran langsung bersentuhan dengan panas matahari.


Keluar dari mobil wajah Aran sudah seperti es cream terkena panas. Meleleh. Sampai rasanya malu sendiri dengan apa yang dia lakukan tadi di dalam mobil. Entahlah, wajahnya merah karena Padas atau karena malu.


Setelah minum sebotol air mereka berdua tertawa bersama. Han mengacak kepala Aran, tersenyum lalu mencium pipi Aran. Membekas merah.


"Kau manis sekali, aku mencintaimu."


Aaaaaa! kejadian di mobil jadi teringat lagi kan.


Sebelum pulang mereka benar-benar menikmati taman rumah utama. Berjalan berkeliling, Han memetik bunga dan menyelipkan di telinga Aran. Mencium hidup Aran beberapa kali.


"Cantik."


Wajah Aran jauh lebih merah dari bunga yang diselipkan di telinganya.


Akhir pekan yang sangat menyenangkan dan berharga untuk mereka, Aran jadi ingin semua hari adalah akhir pekan.

__ADS_1


Hari esok, sudah menunggumu Aran, semangat bekerja. Jangan lupa, ada yang menunggumu juga di kantor besok 🤭


__ADS_2