
Sandra merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Wanita itu tiba-tiba merasa pusing. Tadi pagi saat baru bangun tidur, dia juga muntah-muntah. Padahal, Sandra tidak ada makan makanan yang aneh-aneh saat malam harinya.
Di depan rumah, Bagas baru saja sampai. Lelaki itu dengan terburu-buru keluar dari mobil. Bagas langsung memutuskan pulang saat Sari mengatakan kalau istrinya saat ini sedang tidak enak badan.
Dengan setengah berlari, laki-laki itu dengan wajah cemas langsung naik ke lantai atas menuju kamar utama yang ditempatinya dengan Sandra.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Bagas dengan cepat mendekati Sandra. Mengusap lembut wajah cantik wanita yang sangat dicintainya itu.
"Mas, mandi dulu sana. Kamu bau!" Sandra mendorong Bagas membuat lelaki itu merasa kaget.
"Sayang–"
"Mandi dulu, Mas!" pekik Sandra sambil menutup hidungnya.
Bagas mencium bau tubuhnya. Perasaan baunya masih wangi. Bau parfum mahalnya saja masih tercium. Apalagi, saat ini masih jam sembilan pagi. Tubuhnya masih segar dan belum berkeringat sama sekali.
Bagas baru saja sampai di kantornya setengah delapan pagi tadi. Namun, lelaki itu segera pulang saat Sari mengatakan kalau Sandra sedang tidak baik-baik saja.
"Sayang–"
"Mandi!"
"Baiklah! Aku akan mandi. Kamu tidur saja dulu, jangan kemana-mana." Bagas akhirnya mengalah. Sebenarnya dirinya merasa heran dengan tingkah Sandra beberapa hari ini.
Perempuan itu terlihat sangat aneh. Sangat sensitif, tidak seperti Sandra biasanya. Bagas yang bawaannya ingin bermanja-manja terus sama istrinya merasa tidak nyaman dengan sikap istrinya yang gampang sekali marah.
Bagas masuk ke dalam kamar mandi. Saat dirinya sedang mandi, Bagas mengingat obrolannya bersama Bimo.
"Mungkin istrimu hamil," ucap Bimo saat di kantor tadi pagi.
Saat sampai di kantor tadi, Bagas memang sempat mencurahkan isi hatinya pada sahabat sekaligus asisten pribadinya itu.
"Hamil?" Bagas menatap Bimo tidak percaya. Namun, melihat anggukan kepala Bimo, Bagas semakin penasaran.
"Bagaimana kamu bisa menyimpulkan kalau saat ini Sandra sedang hamil?" Bagas menatap Bimo, meminta penjelasan pada lelaki yang sebentar lagi menjadi ayah itu.
"Waktu Anisa hamil, dia juga sering banget marah-marah. Emosinya tidak terkontrol karena hormon kehamilannya."
"Tapi saat itu kamu kan sudah tahu kalau istrimu sedang hamil. Sedangkan aku, aku 'kan belum tahu Sandra hamil apa tidak." Bagas menatap sahabatnya itu dengan kesal.
__ADS_1
"Kalau begitu, kamu suruh dia tes kehamilan biar kamu tahu istrimu itu hamil apa tidak. Begitu saja masa nggak tahu." Bimo menggelengkan kepalanya melihat kebodohan sahabatnya yang bucin akut terhadap istrinya.
Bagas keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit pada pinggangnya. Tubuhnya terlihat segar. Apalagi, rambutnya terlihat masih basah.
Sandra menatap Bagas tak berkedip. Suaminya terlihat sangat tampan. Sementara itu, Bagas tersenyum melihat sang istri yang terlihat terpesona menatapnya.
"Sayang, kamu mau aku pakai baju yang mana?" tanya Bagas. Lelaki itu sengaja bertanya karena dari kemarin istri tercintanya itu marah-marah tidak jelas karena ia memakai baju yang bukan dipilihkan oleh istrinya.
Sandra yang mendengar ucapan suaminya langsung beranjak dari tempat tidur.
"Pelan-pelan, Sayang." Bagas memegangi tubuh Sandra yang tiba-tiba limbung. Wanita itu memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Kamu tinggal sebutkan saja, biar aku yang ambil. Aku nggak mau kamu marah karena aku pakai baju yang bukan pilihan kamu," ucap Bagas hati-hati.
"Jadi kamu kesal karena aku marah-marah terus sama kamu?" Wajah Sandra cemberut.
"Salah lagi deh gue," batin Bagas.
"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya–"
"Ya, udah sana, kamu pilih saja baju sendiri, nggak usah nyuruh-nyuruh. Sudah tahu aku sedang tidak enak badan tapi malah nyuruh-nyuruh milih baju." Sandra menggerutu kesal. Wanita itu kemudian bangkit dari tempat tidur dengan pelan.
"Sayang, kamu mau kemana?"
"Sebentar, Sayang, aku ada sesuatu untukmu." Bagas ingat, kalau dalam perjalanan pulang tadi, ia sempat mampir ke apotik membeli alat tes kehamilan.
"Apa ini?" Sandra menerima bungkusan itu. Kedua matanya membola saat melihatnya.
"Mas, kamu–"
"Sayang, aku hanya menduga. Apalagi, kamu belum datang bulan sampai sekarang bukan?" Bagas berkata dengan lembut. Takut, wanita di hadapannya itu mengamuk lagi.
"Jika kamu ragu, tidak usah melakukannya." Bagas berniat mengambil kembali beberapa testpack yang ia beli dari tangan istrinya. Namun, Sandra memegang erat benda itu.
"Aku ingin melakukannya," ucap Sandra lirih. Bagas tersenyum mendengar ucapan istrinya. Lelaki itu kemudian menggendong tubuh lemah sang istri menuju kamar mandi.
"Kamu tunggu di luar."
Bagas menggeleng pelan. Lelaki itu tetap berdiri di depan istrinya.
__ADS_1
"Mas!"
"Sayang, tubuh kamu lemas begitu. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu," ucap Bagas khawatir.
Sandra memang merasakan tubuhnya begitu lemas. Kepalanya pusing, perutnya juga mual. Perempuan itu kemudian mengangguk.
Bagas membantu istrinya duduk di atas closet. Lelaki itu membuka salah satu testpack yang ia beli.
"Berbalik."
"Sayang–"
"Berbalik, Mas!"
"Padahal aku juga sering melihatnya. Kenapa kamu harus malu?" ucap Bagas dengan tidak tahu diri. Lelaki itu berbalik membelakangi Sandra. Sementara itu, wajah Sandra memerah mendengar ucapan Bagas.
"Sudah, Sayang."
"Hmm."
"Jangan berbalik dulu, Mas," cegah Sandra. Wanita itu sedang mencelupkan alat itu pada urine yang baru saja ia tampung pada wadah kecil.
"Kamu saja yang lihat." Sandra menyerahkan testpack itu pada Bagas. Sandra kembali meraih beberapa testpack yang dibeli oleh suaminya dengan merek berbeda. Lalu, melakukan hal yang sama seperti tadi.
Perempuan itu kemudian membersihkan diri dengan posisi Bagas yang berdiri membelakanginya sambil memegang testpack yang baru selesai ia gunakan.
"Sayang, garisnya ada dua." Bagas tersenyum haru. Sementara Sandra begitu terkejut mendengar ucapan suaminya. Wanita itu kemudian melihat kelima testpack yang ia letakkan di sisi bathub.
Kedua matanya membola melihat hasil dari kelima testpack itu.
"Mas, semuanya bergaris dua." Sandra menatap Bagas dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Iya, Sayang."
"Aku hamil, Mas. Aku hamil!"
"Iya, Sayang. Terima kasih karena sudah memberikan hadiah terindah untukku." Bagas memeluk Sandra dengan bahagia yang membuncah dalam hatinya.
"Tuhan, terima kasih." Sandra menangis bahagia di pelukan suaminya.
__ADS_1
Bagas menggendong tubuh Sandra keluar dari kamar mandi.
"Kita harus periksa ke dokter sekarang."