
Rencana akhir pekan untuk berada di rumah saja hari ini harus terpinggirkan. Karena ada tugas penting yang harus dilakukan Han. Membuatnya harus keluar rumah.
Han akan mengajak Aran ikut bersamanya.
"Kak, apa benar aku boleh ikut?"
Aran bertanya sambil mematut diri di depan cermin, berputar sambil menyentuh ujung roknya, lalu merapikan rambutnya. Yang ditanyai masih berada di kamar mandi tidak menyahut. Aran menyisir rambutnya dengan rapi lalu dia ikat sebagian rambut, sebagian lagi dia biarkan tergerai. Hari ini dia memakai dress selutut warna coklat muda, dengan taburan motif bunga membentuk garis tegak lurus. Karena mau mengunjungi Nona Daniah, penampilannya tentu harus rapi dan sopan.
"Bagaimana penampilanku Kak?"
Kepala Han keluar menyembul dari pintu kamar mandi, dia masih memakai handuk. Melingkar di pinggangnya, menunjukkan otot perut, lengan dan dadanya yang lebar.
"Cantik, kau mau pakai apa saja cantik." Han bicara sambil mengusap rambut dan lehernya dengan handuk kecil.
Ehm, Kakak tidak bisakah kau memakai piayama handuk! Untuk kesehatan jantung dan mataku.
Aku mohon, Aran ingin memejamkan mata, tapi sayang kan kalau pemandangan indah di depannya tidak dinikmati. Akhirnya yang ada dia melotot juga.
Han menyeringai, saat melihat sorot mata Aran tertuju kemana.
"Padahal kau sudah menyentuhnya sampai puas tadi, masih mau lagi?" Dalam sekejap kedipan mata, Han sudah ada di depan Aran yang masih terbengong melihat keindahan tubuh suaminya. "Mau lagi?" Sudah menempelkan tangan istrinya ke atas otot perut.
"Tidak!" Aran menjerit mundur dan kaget, tapi tangannya malah diusapkan perlahan, digerakkan oleh tangan Han. Ke kanan dan ke kiri, menyapu perut naik ke dada, turun lagi ke perut. Ada air yang tidak meresap saat dikeringkan handuk. "Haha, Kakak, kita sudah harus berangkat, nanti terlambat bagaimana. Kita mau ke rumah Tuan Saga kan." Aran mencari alasan, kalau nama Tuan Saga disebut suaminya pasti akan langsung tersadar.
"Padahal kau yang mau duluan..." Menoel dagu Aran.
Kenapa sekarang Kakak pintar sekali memutar fakta.
Sekarang Han dengan pintarnya memojokkan Aran, padahal dia yang menggoda dan mendusel duluan, tapi ujungnya jatuhnya Aran yang terlihat mau duluan.
"Tuan muda juga pasti belum keluar dari kamar." Han berdalih, masih memegang tangan Aran. "Jadi, kau mau menyentuh bagian mana lagi?"
Di luar jendela langit sudah terang, walaupun jam masih menunjukkan angka kurang dari jam delapan pagi.
"Ah, Kakak tidak, aku ambilkan baju ya." Aran menghentikan tangan Han yang sudah mau menyentuh lehernya. Bisa panjang urusannya kalau dia meladeni. Tahu-tahu dia yang menyerang duluan nanti. Aran cukup sadar diri karena hatinya yang lemah kalau melihat senyum suaminya.
"Cium saja sayang, aku hanya mau menciumu Aran." Kedua tangan Han sudah memeluk Aran. Gadis itu menjerit saat tubuhnya menempel dalam pelukan. Bukan apa-apa, karena handuk yang melingkar di pinggang Han jatuh ke lantai.
Dan entahlah, apa yang terjadi selanjutnya 🤭
...🍓🍓🍓...
Aran turun dari mobil setelah mobil berhenti di area parkir rumah utama. Tempat penuh kenangan yang tidak akan pernah dilupakan Aran. Rumah Tuan Saga.
Gadis itu masih memakai dress selutut, tapi dengan warna biru bercorak bunga. Sepertinya Aran ganti baju. Jangan tanya kenapa Aran ganti baju ya?
__ADS_1
Tas kecil melingkar di bahu Aran, tempatnya menyimpan hp dan dompet. Sementara Han memakai kemeja semi formal lengan pendek. Sekarang Aran jadi sering melihat Han memakai pakaian sejenis itu.
Setelah turun dari mobil, Aran mematung. Melihat pemandangan yang ada di depannya. Suasana halaman rumah utama masih sepi, tidak terlihat siapa pun, bahkan pengawal bersiaga pun tidak. Dari kejauhan Aran hanya melihat tukang kebun.
Tidak ada yang aneh, kecuali apa yang ada di depannya sekarang.
"Kak, jangan bilang piknik yang Kakak maksud ini?"
Aran menunjuk baik dengan mata atau pandangannya. Menghela nafas tidak percaya. Tadinya dia semangat sekali saat Han mengatakan kalau Tuan Saga akan mengajak Nona Daniah dan Nona Erina piknik. Bayangan Aran sudah membumbung tinggi, bahkan memikirkan keranjang piknik yang akan disiapkan Pak Mun. Misalnya piknik ditepi danau sambil bermain bersama nona kecil, Nona Erina. Atau jalan-jalan ke taman sambil menikmati makan siang. Piknik semacam itulah.
Tapi ini, kenapa malah cuma dihalaman depan rumah!
"Kak, yang benar saja si.."
Han menyentuh kepala Aran yang tertimpa panas matahari, menutupi kepala Aran dengan telapak tangannya.
"Kenapa kau tidak suka? Aku membuatnya dengan sepenuh hati untuk menyenangkan tuan muda." Han seperti merasa kecewa karena Aran tidak menyukai hasil kerjanya. Padahal dia sudah melibatkan banyak ahli untuk membuat konstruksi pendukung demi memuaskan tuan muda.
"Kakak yang membuatnya? Ah maaf."
Aku hanya menyuruh ini dan itu gumam Han.
"Bagus banget kok." Langsung menjilat dan tatapannya berubah berbinar, walaupun dalam hati masih berkata ini aneh sekali. "Tapi kenapa sampai harus membuat replika jalan raya begini si Kak, kalau mau piknik kan cukup membawa alas duduk di taman bunga itu." Arah menunjuk taman dengan pepohonan yang cukup rindang, sinar matahari pun terhalang.
"Katanya Tuan Saga sudah belajar menyetir dengan giat, apa kemampuannya belum berkembang." Beberapa kali Aran mendengar dari cerita suaminya, bagaimana perjuangan Tuan Saga untuk belajar menyetir.
Han tidak menjawab dengan kata-kata, hanya dengan senyuman penuh makna, yang diartikan Aran bahwa kemampuan Tuan Saga masih mengkhawatirkan untuk turun ke jalan langsung.
Jadi Kakak masih khawatir kalau Tuan Saga membawa mobil di jalan, ya memang mengkhawatirkan si, bagaimana kalau tiba-tiba mood Tuan Saga buruk saat mobil melaju. Aran tiba-tiba memaklumi.
Tapi jujur, ini lucu sekali. Ya Tuhan, berapa biaya yang dia keluarkan untuk membuat replika jalan ini.
"Aran..."
"Ia Kak?"
Aran masih mengamati, semacam sirkuit mini di depannya. Ada tiang lampu merah di belokan, ada zebra cross, ada jalan lurus dan berkelok. Bahkan ada lampu jalan juga.
Kalau ada polisi dan penyebrang jalan pasti tambah lucu. Aran tergelak kecil.
"Jangan tertawa Aran."
Karena disuruh jangan tertawa malah meledak tawa gadis itu.
"Baiklah, kau boleh tertawa sekarang, tapi saat tuan muda menyetir nanti, jangan pernah tertawa, bahkan tersenyum pun jangan." Han menatap lekat istrinya.
__ADS_1
"Kak..." Aran mau menangis rasanya, karena suaminya bicara dengan nada yang sangat serius. Kalau sekarang dia bukan istrinya, pasti nadanya sudah berubah menjadi perintah. "Nanti pasti lucu sekali Kak, sekarang membayangkan saja aku ingin tertawa." Aran menutup mulut dengan tangan. Bahunya terguncang.
Saat dia masih berusaha menahan tawa, hal yang datang dari samping rumah membuatnya terduduk sambil memegang perutnya.
"Aran!" Han sedikit meninggikan suara karena Aran benar-benar tidak bisa mengendalikan gelak tawanya.
"Kakak! ini lucu sekali, bagaimana Kakak bisa kepikiran seperti ini si."
Aku harus bahagia atau bagaimana ini, imajinasi suamiku benar-benar tidak ada lawannya.
Para penjaga dan pelayan rumah belakang diperbantukan. Ada yang memakai seragam polisi, ada yang jadi pasangan seperti sedang kencan dipinggir jalan. Bahkan ada pedagang makanan dengan gerobaknya.
Dan Kakak melarangku tertawa setelah melihat semua ini. Karena tidak bisa tertawa, malah airmata geli yang menetes di pipi Aran.
Aran berdiri di samping suaminya, saat laki-laki itu memberi instruksi kepada semua orang. Dia menebar ancaman.
"Jangan tertawa dan lakukan dengan serius tugas yang sudah diberikan pada kalian, apa kalian paham?"
Ah, aku merinding, sudah lama aku tidak mendengar nada suara ini dari kakak.
"Baik Tuan!" Mereka menjawab serempak.
Sekedar info, dari kemarin mereka sudah latihan, walaupun awalnya geli dan tertawa, namun saat latihan diawasi langsung oleh Sekretaris Han, mereka tidak merasakan kelucuan lagi.
"Jangan sampai ada kesalahan!"
"Baik Tuan!"
Hp yang dipegang Han bergetar, sepertinya informasi dari Pak Mun.
"Baiklah, tuan muda dan Nona Daniah akan keluar, semua bersiap diposisi kalian!"
"Baik!" Mereka menjawab sambil menghentakkan kaki, lalu menundukkan kepala dan berlari ke posisinya semula.
Aran yang menonton tadi merasa lucu, tapi setelah melihat keseriusan semua orang, hanya tersisa senyum dibibirnya.
Jangan tertawa Aran, jangan menghancurkan kerja keras Kakak menyiapkan ini semua.
Karena saat melihat suaminya yang berjalan menuju pintu rumah utama, hati gadis itu berdesir. Sosok tinggi tegap yang berjalan menjauhinya, saat bersama Tuan Saga tidak ada yang berubah sedikitpun darinya.
Dari kejauhan Han menundukkan kepala, menyapa Tuan Saga dan Nona Daniah. Aran berlari mendekati mereka, ingin menyapa Nona Daniah dan Nona Erina. Kalau boleh, dia ingin menggendong bayi mungil itu.
Aaaaa, imutnya Nona Erina 😍😍
Bersambung
__ADS_1