
"Ka–kamu ...." Kedua mata Sandra membola. Perempuan itu terlihat sangat terkejut saat melihat seseorang yang kini duduk di sampingnya.
Tangan Sandra gemetar. Keringat dingin keluar membasahi keningnya.
Bagas yang melihat Sandra terlihat panik, berusaha melakukan sesuatu untuk wanita itu.
"Tenang, Sandra. Tenangkan dirimu. Aku tidak akan berbuat apapun padamu. Aku tidak sengaja bertemu denganmu di sini." Bagas menatap Sandra dengan cemas, pria itu menundukkan kepalanya saat Sandra juga menatapnya.
Wajah perempuan itu terlihat sangat panik sekarang. Dalam hati, Bagas merutuki diri sendiri. Seandainya terjadi sesuatu dengan Sandra, dirinya pasti akan sangat menyesal.
Entah apa yang dipikirkan oleh Bagas sampai-sampai pria itu mempunyai ide gila untuk menaiki pesawat yang sama dengan Sandra. Bukan hanya itu saja, Bagas juga memaksa Anisa untuk memesan tiket dengan kursi yang bersebelahan dengan Sandra.
Laki-laki itu berjanji pada Anisa kalau semuanya akan baik-baik saja. Bukankah Sandra sudah melakukan terapi untuk menghilangkan rasa traumanya?
Meskipun khawatir, Anisa tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya tidak bisa melarang Bagas untuk melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Biar bagaimanapun, Bagas juga bosnya. Seseorang yang berpartisipasi besar pada hidupnya juga Bimo.
Namun, demi menjaga keselamatan Sandra saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Anisa dan Bimo pun akhirnya ikut penerbangan yang sama dengan Bagas tanpa sepengetahuan Sandra.
Anisa tidak mau mengambil resiko seandainya terjadi sesuatu pada sahabat yang sangat disayanginya itu.
"Kalau kamu takut, jangan melihat ke arahku. Aku mohon, tenangkan dirimu," Bagas mencoba terus meyakinkan Sandra.
Sementara Sandra berusaha mati-matian untuk melupakan peristiwa yang saat ini sedang berputar di kepalanya.
"Laki-laki ini, kenapa aku harus bertemu dengannya di sini?" batin Sandra.
Setelah berbulan-bulan tidak muncul, kenapa sekarang aku justru bertemu dengannya di sini? Apalagi, dia juga sangat dekat denganku.
Tubuh Sandra bergetar. Napasnya terasa sesak. Rasa panik menyerang. Keringat dingin semakin membasahi keningnya.
__ADS_1
Tidak lagi! Aku tidak boleh kalah dengan rasa takut ini.
"Sandra tenanglah! Aku–"
Bagas tidak melanjutkan ucapannya saat terdengar suara yang menginterupsi semua penumpang untuk memasang seat belt dan melakukan demo keselamatan penerbangan.
Kedua tangan Sandra bergetar. Sekuat tenaga wanita itu mencoba menguasai diri. Sandra memasang seat belt, sesekali netranya melirik ke arah Bagas dengan wajah ketakutan.
Namun, dalam hati, Sandra mengumpat habis-habisan karena tidak bisa melawan rasa takutnya. Semua ucapan dokter saat itu berdengung di telinganya.
Sandra menarik napas panjang. Mencoba menetralkan perasaan takut yang terus menyerangnya.
"Tenang, Sandra, aku mohon, kamu harus melawan ketakutanmu, aku tidak akan melakukan apa pun padamu." Bagas masih berusaha menenangkan wanita di sampingnya.
Pria tampan itu terlihat sangat cemas melihat ketakutan Sandra. Dalam hati, ia sungguh sangat menyesali apa yang terjadi. Seharusnya ia mendengarkan ucapan Anisa dan Bimo.
Aku benar-benar bodoh! Aku memang egois! Seharusnya aku mendengarkan ucapan Anisa dan Bimo untuk bersabar menemuinya.
"Sandra aku–"
"Diam! Menjauh dariku!" Sandra berteriak sambil menatap pria itu dengan kedua mata berkaca-kaca.
Bagas menggelengkan kepala. Melihat air mata yang sebentar lagi turun membasahi pipi Sandra, hati Bagas serasa diiris sembilu. Rasa sakit menjalar menghujam jantungnya.
Melihat seseorang yang sangat dicintainya itu menangis di hadapannya membuat dada Bagas terasa sesak. Apalagi, tangisan perempuan itu disebabkan olehnya.
"Aku akan diam. Tapi aku mohon, lawan ketakutan kamu, Sandra. aku tidak akan berbuat apapun! Aku tidak akan berbuat sesuatu yang akan mengancam keselamatanmu. Aku mohon ...." Bagas menatap Sandra sambil menangkup kedua tangannya di depan dada.
"Dasar brengsek! Kalau bukan karena dirimu, aku juga tidak akan seperti ini, bajingan!" Sandra menahan suaranya agar tidak terlalu keras.
__ADS_1
Berungkali dirinya mengumpat dan mencaci pria yang ada di sebelahnya itu. Namun, pria itu hanya terdiam. Kedua bola matanya bahkan terlihat berkaca-kaca hingga tetesan air bening mengalir di kedua pipinya. Namun, bajingan itu langsung mengusapnya.
Apa dia benar-benar menangis? Entahlah! Aku nggak peduli, yang jelas, aku harus melawan rasa takut yang sekarang membuat tubuhku gemetar. Rasanya, aku ingin sekali bangkit dan meminta pertolongan pada orang lain agar aku tidak berdekatan dengan pria bajingan itu. Tapi, kakiku seolah terpaku dengan gemetar. Aku tidak bisa bergerak apalagi berlari untuk meminta bantuan," batin Sandra bergejolak.
Anisa, seandainya saja kamu ada di sini ....
Sandra menarik napas panjang kemudian mengembuskannya secara perlahan. Wanita itu terus mengulanginya. Berharap, ketakutannya akan menghilang.
Lawan rasa takutmu, Sandra. Kamu pasti bisa melawannya. Kau lihatlah! Pria itu bahkan menangis di depanmu.
"Aku minta maaf karena telah membuatmu seperti ini. Aku mohon, maafkan aku, Sandra."
BERSAMBUNG ....
Maafkan diriku karena baru bisa update sekarang 🙏🙏
Mampir dulu ke novel punya temen Author yuk, dijamin nagih nih!
"Jika aku mencintai lelaki lain, apa itu tidak masalah bagimu, Mas? Seperti kau mencintai wanita itu?"
Bahtera rumah tangga Karina kini berada di ambang kehancuran.
Suami yang sangat ia cintai tega mengingkari janji suci yang telah terjalin selama tiga tahun.
Awalnya Karina diam, meski telah mengetahui perselingkuhan sang suami dengan sekretaris barunya.
Namun, lama-kelamaan ia pun tidak sanggup lagi menahan sakit, dan memutuskan untuk pergi.
__ADS_1
Pada saat yang sama Karina bertemu dengan seseorang dari masa lalu.
Akankah Karina menemukan kebahagiaan baru?