
Jero bukan mantan pacar, itu kenyataan. Hanya hati Aran yang pernah terikat dan terpaut pada laki-laki itu, tapi, memang kenangan masa lalu itu tidak bisa dihapuskan begitu saja. Begitu memang posisi kenangan kan. Untuk diingat atau dilupakan. Dan Aran memilih pilihan yang terakhir, melupakan dengan menghapusnya seperti debu yang menempel dimeja makan, dia usap dengan selembar tisyu. Lenyap tak berbekas.
Tapi masalahnya ada pada pihak kedua yang terlibat dengan masa lalu, yang entah kenapa merasa penasaran dan tidak terima kalau dia sudah dilupakan. Hingga hari ini masih terlihat usaha Jero untuk menarik perhatian Aran yang sebenarnya tidak tertarik sama sekali padanya.
Sebenarnya, hanya ini masalah Aran di kantor. Selebihnya dia menjalani kehidupan kerjanya dengan semangat dan suasana yang menyenangkan.
Dan kejadian hari ini.
Selepas menyelesaikan tugas lapangan, tanpa banyak bicara baik Aran maupun Jero, mereka kembali ke kantor. Langsung duduk di meja kerja masing-masing. Sedikitpun Aran tidak melihat ke arah Jero. Sebaliknya beberapa kali laki-laki itu melirik dan berharap pandangan mata mereka bertemu.
Dia mengeram kesal sendiri, sementara Aran sibuk dengan pekerjaannya.
Setelah waktu berlalu, Aran berkutat dengan pekerjaan rampung juga akhirnya.
Aran menumpuk catatan berita yang sudah dia buat di dekat mesin print, laporan beritanya kali ini semacam berita future, fakta dalam berita yang dia tulis dengan dibumbui opini darinya. Akan muncul di cerita malam sebagai penutup berita malam dua hari lagi. Berita spesial karena permintaan khusus dari sebuah instansi.
Gadis itu tersenyum sesaat, teringat kejadian tadi siang.
Hati Aran cukup berdebar-debar tadi, saat dia bertemu dengan ibu Tuan Saga. Aran berfikir dia tidak akan dikenali, jadi di hanya akan menyapa selayaknya dengan yang lain. Menundukkan kepala dengan sopan. Karena selama ini tidak pernah ada interaksi khusus antara dia dan beliau. Namun ternyata ibu Tuan Saga mengenalinya.
Wanita anggun yang menjadi pusat pergaulan kelas atas, dia masih terlihat sangat cantik diusianya. Garis wajah yang samar dimiliki Sofia, terlihat dari ibu Tuan Saga.
Dan kejadian siang tadi seperti ini ceritanya.
"Kau istrinya Han kan?"
Deg. Dia mengenaliku, Aran menyentuh dadanya yang berdebar.
Ditanyai begitu saja sudah membuat Aran girang bukan kepala. Apalagi saat dia berkesempatan mendapat wawancara khusus dengan ibu Tuan Saga. Kesempatan yang tidak diberikan pada media mana pun yang hadir hari ini.
Isi berita future yang ia tulis hari ini, mengenai sosok wanita hebat dibelakang nama besar Tuan Saga. Aran sudah bisa membayangkan bagaiman rating yang akan diperoleh berita malam edisi lusa. Aku akan menyampaikan pada Nona Daniah untuk menonton juga gumamnya senang.
Setelah mesin print berhenti artinya dia selesai dengan pekerjaannya, Aran bangun mendorong kursinya, dia serahkan pada rekan kerjanya untuk dilaporkan pada direktur.
"Ini berita menggemparkan Kak." Berbisik nama ibu Tuan Saga. Mendengar itu rekan Aran yang tadi masih malas-malasan langsung menyambar map, berlari ke ruang direktur dengan menggoyangkan kertas itu di udara.
Ah, hari ini juga menyenangkan, kalau semua berjalan dengan baik begini hatiku jadi bersemangat. Aku kangen Kakak. Pulang nanti, kami makan malam apa ya.
Saat masih melepaskan lelah dengan menggerakkan bahu ke kanan dan ke kiri, Arah mendengar tawa cekikikan dari sudut ruangan. Saat melirik, tatapan matanya bertemu dengan Jero. Laki-laki itu tersenyum sekilas padanya, lalu bicara dengan akrab pada rekan yang lain.
Dih, memang aku perduli kau bicara dengan siapa. Tidak sama sekali tiang penyangga gedung. Aran melengos, lalu keluar dari ruangan. Dia mau membuat kopi di dapur.
Keacuhan Aran disalah artikan lagi oleh Jero, laki-laki itu berfikir Aran marah karena melihatnya akrab dengan rekan kerja perempuan yang lain. Jero tersenyum sambil menutup wajahnya.
__ADS_1
Hah! Kau pikir bisa mudah melupakanku, tidak mungkin, gumam Jero senang.
Lalu Jero beralih pada rekan wanita yang sedang bicara dengannya.
"Oh ya, Apa kalian tahu, dulu Aran suka sekali menempel padaku. Dia bahkan menyatakan perasaan padaku."
Wajah rekan kerja Aran terlihat terkejut, tapi seketika berubah tegang saat mau membicarakan suami Aran. Dia tidak menyebutkan nama suami Aran karena merinding.
"Jangan menggangu Aran lagi, dia kan sudah menikah." Dengan Sekretaris Han yang menakutkan itu, gumamnya, kalau kau menggangunya bisa-bisa kau kehilangan pekerjaan. Namun kata-kata itu tidak terucap, karena bibirnya takut mengucapkan nama Sekretaris Han.
"Memang sudah berapa lama Aran menikah?"
"Belum lama ini, ya masih bisa dibilang mereka pengantin baru."
Jero tertawa lagi saat mendengar penjelasan rekan perempuan, bersamaan dengan masuknya Aran membawa segelas kopi.
Jadi kau baru menikah, haha, pantas masih mesra begitu. Jiwa penasaran Jero berlayar lagi, kalau dia selama sebulan ini menggoda Aran, apa gadis itu tidak akan goyah.
Jero sedang menggali kuburnya sendiri.
...🍓🍓🍓...
Ketika hari tertutup lelah, ketika mentari mulai turun dari singgasananya, itu artinya waktunya berhenti bekerja. Di stasiun TV yang jam kerjanya berputar selama 24 jam tidak pernah sepi dari helaan nafas manusia. Karena memang ada acara yang baru akan mulai syuting saat petang datang menyelimuti bumi.
Aku mau makan makanan pedas ah hari ini. Apa ya? Apa kakak mau membawaku ke restoran Kak Brian.
Berpamitan dengan yang lain, lalu dengan berdendang gadis itu keluar dari ruangan kerjanya. Menundukkan kepala pada beberapa orang yang dia temui di koridor. Gadis itu melambaikan tangan pada Sandrina, seniornya, sekaligus kekasih Dokter Harun.
Dia tambah cantik, rambutnya bagus sekali.
Aran mendapat info kalau pernikahan Sandrina dan Harun tertunda karena kesibukan mereka. Selain itu gadis itu tidak mendengar kabar apa pun. Hanya cerita mereka semakin mesra dan harmonis saja. Sambil melamun, gadis itu keluar dari gedung stasiun TV yang masih banyak lalu lalang orang.
"Aran!"
Apalagi si, ketika mengenali siapa yang memanggil. Si tiang penyangga gedung yang masih merasa tampan dan penuh pesona. Sudah kubilang aku tidak perduli padamu.
"Ada apa Senior? Aku mau pulang."
"Bicara denganku sebentar." Jero mulai tersinggung dengan penolakan yang diberikan Aran. Kau benar-benar jual mahal ya, mentang-mentang aku sedikit tertarik. Harga diri Jero merasa tercabik-cabik dengan keacuhan Aran. "Ayo makan malam denganku, aku yang traktir."
Siapa yang mau makan denganmu!
"Maaf Senior, sebentar lagi suamiku datang. Ajak yang lain saja."
__ADS_1
Aran menyebutkan beberapa nama rekan kerja wanita, termasuk yang tadi siang bicara dengan Jero. Lagi-lagi rasa percaya diri Jero kumat. Benar kan, tadi dia tidak suka aku bicara dengan perempuan lain. Jero mengulum senyum lagi.
"Suamimu juga belum datang, dari pada menunggu sendirian disini, ikut aku." Tangan Jero dengan kasarnya sudah menarik lengan Aran. Bahkan mencengkeramnya, walaupun Aran goyangkan tidak terlepas. "Jangan membuat keributan dan ikut denganku."
"Lepaskan Senior! Kau mau apa lagi si, apa hatimu sakit dan tidak tenang saat aku bilang aku sudah tidak menyukaimu lagi. Hah! Kurang ajar juga harusnya ada batasannya donk."
Awwww, Aran mengeram ketika cengkeraman di lengannya menguat. Sepertinya perkataannya benar, dan menusuk harga diri laki-laki di depannya.
"Kalau aku belum menikah, masih aku toleransi sikapmu Senior, tapi aku sudah menikah. Aku menikah dengan laki-laki yang aku cintai. Kau itu hanya debu masa lalu yang sudah aku hapus. Jadi berhentilah!" Kurang jelas apa lagi Aran menjelaskan, kalau tidak tersisa apa pun hubungan diantara mereka. "Lagi pula, dulu kau tidak menyukaiku kan, kenapa sekarang kau tidak terima kalau aku sudah tidak menyukaimu."
Ada yang berkobar di mata Jero, harga dirinya semakin terkoyak karena apa yang dikatakan Aran benar. Dia tidak terima kalau Aran berhenti menyukainya.
"Sialan!" Cengkeraman semakin mengeras, bahkan Jero menarik lengan Aran secara paksa.
Dan entah dari arah mana, sebuah suara membuat Aran tersentak.
"Arandita!"
Kalau dia memanggilku dengan nama panjang dan intonasi begitu, artinya harimau itu marah. Saat Aran menyadari, mata suaminya semakin menyala saat langkah kakinya mendekat. Sekuat tenaga Aran memukul tangan Jero sampai terlepas dari lengannya. Gadis itu melihat, lengannya bahkan sampai merah.
"Kak... Kakak!"
Han seperti tidak mendengar panggilan Aran, mata menyala itu tertuju pada laki-laki di samping Aran. Dia mundur selangkah dari Aran, shock. Sepertinya Jero mengenali laki-laki yang baru saja memanggil Aran.
Dan dalam hitungan detik, kaki panjang laki-laki yang sedang dipenuhi amarah, entah bagaimana sudah membuat Jero terjungkal jatuh terduduk. Laki-laki itu menjerit dengan suara melengking, sambil memegang tangannya.
"Berani sekali kau menyentuh wanitaku." Suara yang bergetar masih menahan amarah. Aran bahkan ikut gemetar takut. Selama sesaat pikirannya blank. "Kau tahu siapa yang kau sentuh itu?"
Jero yang gemetaran tidak bisa menjawab, Han yang mendengar semua yang dikatakan Aran tadi semakin terpancing amarahnya. Dia injak tangan Jero yang gemetar ketakutan duduk di trotoar.
"Kakak! Kak hentikan aku mohon! Kakak! Kak Han, hentikan!" Aran bergerak cepat memeluk Han. Mendekap dada laki-laki itu supaya kakinya bergeser turun. "Dia seniorku di kampus."
Han menghela nafas, menurunkan kakinya. Menatap Jero yang hanya bisa diam membeku sambil kakinya gemetaran.
"Jangan muncul di depan istriku lagi!" Arti kalimat ini banyak sekali.
Lalu Han menarik tangan Aran, gadis itu menoleh sekilas ke arah Jero, lalu setengah berlari mengikuti langkah cepat Han, menuju mobil yang terparkir, tidak jauh dari pertengkaran mereka.
Aaaaa! Apa kakak mendengar ocehanku tadi! Ber, berarti dia dengar, aku dulu menyukai Jero. Tangan Aran yang digenggam Han rasanya gemetar sekarang.
"Kenapa kau tidak cerita, kalau ada mantan laki-laki yang kau sukai, bekerja denganmu?" Suara dingin itu langsung menusuk jantung Aran saat dia masuk ke dalam mobil.
Aku lupa! Karena dia tidak penting aku lupa!
__ADS_1
Bersambung