
Pertanyaan Anisa membuat Sandra terdiam sejenak. Menimbang-nimbang jawaban apa yang akan dia berikan.
Apa dirinya harus menceritakan semuanya pada Anisa tentang Bagas?
"Sandra."
"I–iya, Nis. Aku masih di sini." Sandra kembali berucap.
"Kamu pernah bertemu dengan lelaki itu di Jakarta?" Anisa kembali mengulangi pertanyaannya.
"Hmm."
"Bicara yang benar, Sandra!" peringat Anisa kesal.
Sandra tertawa mendengar nada bicara Anisa yang naik satu oktaf.
"Aku akan menceritakannya saat kita ketemu besok."
"Sandra!"
Sandra kembali tertawa.
"Tidak enak membicarakannya ditelepon. Besok, aku akan menceritakan semuanya tentang pria brengsek itu."
"Kamu masih menyebutnya sebagai pria brengsek?" Anisa tak kuasa menahan senyum di ujung sana.
"Tentu saja. Memangnya julukan apa lagi yang pantas untuk pria seperti dia?" kesal Sandra. Kekesalannya kembali hadir saat mengingat ucapan pria itu tentang keberadaannya.
Sandra benar-benar tidak mengerti pada perasaannya. Wanita itu sangat kesal saat mengetahui kalau saat ini Bagas berada di Paris. Entah alasan apa yang membuatnya sangat kesal.
"Baiklah, karena kamu tidak mau cerita sekarang, aku tidak akan memaksamu. Hari ini aku akan istirahat. Setelah itu, besok kamu bisa menjemputku." Suara Anisa kembali menyadarkan Sandra. Beberapa saat kemudian panggilan pun berakhir.
Sandra menghela napas panjang. Sebuah senyuman terukir pada wajah cantiknya. Wanita itu sangat bahagia karena sahabatnya akhirnya sampai di tanah air.
__ADS_1
Kedatangan Anisa akan membuat hari-harinya kembali senang. Ah! Semoga saja kehadiran Anisa membuat moodnya kembali bagus.
***
Sandra menggeliatkan tubuhnya saat suara dering ponsel mengganggu tidurnya. Perempuan cantik itu dengan kesal meraih ponselnya di atas nakas.
"Halo, Sayang ...." Suara berat dari ujung sana membuat Sandra terdiam seketika. Wanita yang masih belum
sadar sepenuhnya akibat baru bangun tidur itu menyingkirkan ponsel dari telinganya.
Pandangannya yang masih terlihat buram itu menatap layar ponselnya lekat-lekat.
Dia?
Kedua mata Sandra membola. Perempuan itu melihat ke arah jam pada layar ponselnya. Jam dua malam.
"Sayang–"
"Apa kau sudah gila? Kenapa kau meneleponku malam-malam?" teriak Sandra dengan kesal.
"Maafkan aku. Aku baru saja pulang dari kantor. Aku lihat di sini baru jam delapan malam karena itu aku langsung meneleponmu," ucap suara lelaki di seberang sana dengan santai.
Tidak ada nada rasa bersalah sama sekali dalam ucapannya. Pria itu memang benar-benar brengsek!
"Kau ini bodoh atau idiot? Kau tahu di sana sudah jam delapan malam, tapi kau masih nekad meneleponku. Apa kau tidak tahu berapa perbedaan waktu antara Paris dan Jakarta. Kau–!" Belum sempat Sandra melanjutkan ucapannya, lelaki di ujung sana sudah memotongnya.
"Maaf!" Suara Bagas terdengar. Kali ini suaranya terdengar lirih.
"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya kangen." Suara lelaki itu kembali terdengar.
Sandra mengembuskan napas panjang. Deru napasnya memburu. Rasa kesal dan amarah menjalar ke ruang hatinya.
"Sungguh! Aku merindukanmu," ucap Bagas lirih. Ucapannya membuat sesuatu yang ada di ujung hati Sandra bergetar. Rasa marahnya seketika teredam.
__ADS_1
"Rasanya, aku ingin sekali memelukmu sekarang."
Sandra terdiam mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir lelaki itu.
"Sudah lama cinta ini tersimpan dalam hatiku. Rasanya, aku sudah tidak kuat lagi menahannya. Sayang, sampai berapa lama lagi aku harus menahan siksaan rindu ini?"
"Berhenti memanggilku sayang." Sandra memperingati.
"Maaf!"
Untuk sesaat, mereka berdua sama-sama terdiam. Sandra menghela napas panjang. Begitupun di ujung sana. Bagas terdiam sambil menetralkan detak jantungnya yang menggila.
"Sandra, apa kamu tahu, hal apa yang kusesali dalam hidupku?" Bagas kembali bersuara.
"Hmm."
"Aku menyesal karena telah melakukan sesuatu yang telah melukaimu. Apa kamu tahu, apa alasanku melakukan semuanya?"
Sandra yang awalnya tidak mau menanggapi ucapan Bagas, langsung menajamkan pendengarannya.
"Apa? Apa yang membuatmu melakukan sesuatu yang menghancurkan hidupku?"
BERSAMBUNG ....
Sambil nunggu Author update, kalian bisa mampir dulu di karya punya temen Author nih!
Blurb:
Menjadi seorang pengasuh bukanlah mimpi seorang gadis bernama Fina. Apalagi anak yang diasuhnya memiliki tingkah yang berbeda dari anak yang lain. Kesabaran dan ketelatenan Fina dalam merawat anak laki-laki berusia tiga tahun bernama Elza itu, ternyata mampu membuat Benny yang tak lain adalah ayah dari Elza tertarik kepadanya.
Mungkinkah mereka berdua bisa bersatu untuk mengarungi bahtera pernikahan? Atau justru Fina memiliki perasaan kepada pria lain? Lalu bagaimana peran Elza dalam hal ini?
__ADS_1
🌹"Jika kamu menolaknya maka hanya ada satu hati yang terluka, tetapi jika kamu menerimanya maka ada dua hati yang terluka, yaitu aku dan anakku." ~Benny Candra Suherman~🌹