Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
JANGAN GANGGU SANDRA!


__ADS_3

Bagas baru saja mendudukkan bokongnya di atas sofa saat seseorang tiba-tiba datang dan langsung duduk di hadapannya. Pria itu menatap Bagas dengan tajam.


Saat ini, Bagas sedang berada di sebuah kafe. Laki-laki itu sedang menunggu Bimo dan istrinya yang ternyata belum datang padahal jam sudah menunjukkan waktu yang mereka sepakati untuk bertemu.


"Ada apa?" Bagas berucap dengan datar. Apalagi, saat pria di depannya itu menunjukkan sikap tidak suka dengannya.


"Jangan ganggu Sandra!" peringat lelaki itu tanpa mengalihkan pandangannya pada Bagas.


Bagas tersenyum mencibir mendengar ucapan lelaki itu.


"Apa kau sadar dengan ucapanmu?" Bagas tidak kalah tajam menatap lelaki di hadapannya. Lelaki yang dulu melaporkan dirinya ke polisi hingga akhirnya Bagas di penjara selama dua tahun.


"Justru karena aku sadar, karena itu aku menyuruhmu menjauhi Sandra!" Sean berucap penuh penekanan.


Bagas tertawa pelan. Laki-laki di hadapannya ini sungguh tidak tahu malu. Memangnya siapa dia sampai-sampai menyuruhnya menjauhi wanita yang sangat dicintainya?


"Sandra wanita single. Pria manapun boleh mendekatinya, termasuk aku, dan kamu ...." Bagas menatap Sean dengan tajam.


"Kamu tidak berhak mengatur diriku. Terserah aku mau mendekati Sandra atau tidak, karena itu bukan urusanmu!"


Sean mengepalkan tangannya mendengar kalimat yang keluar dari mulut Bagas. Pria itu sudah menduga, kalau lelaki seperti Bagas jelas tidak akan mudah ditaklukkan.


Apalagi, pria itu kini bukan lagi seperti dulu. Dulu, Bagas sangat mudah ditaklukkan karena pria itu menyamar sebagai orang biasa. Ia sungguh tidak menyangka kalau pria itu ternyata adalah pewaris dari seorang pengusaha besar di negaranya.

__ADS_1


Kedudukan pria itu kini sama dengannya. Apalagi, setelah Bagas akhirnya terjun langsung memimpin perusahaan. Baru beberapa bulan pria itu memimpin perusahaan orangtuanya, perusahaan itu sudah maju pesat.


Lelaki muda itu benar-benar tidak bisa diremehkan.


"Tentu saja aku berhak! Sandra adalah sahabatku. Aku berhak melarang lelaki sepertimu untuk mendekati sahabatku!" ucap Sean penuh penekanan.


"Sahabat? Kau menganggap mantan istrimu itu sebagai sahabat?" Bagas tersenyum mencibir ke arah Sean.


"Kau jangan naif, Sean! Apa kamu benar-benar yakin menganggap Sandra sebagai sahabatmu?" Bagas menatap Sean yang tampak terkejut.


"Hubunganku dengan Sandra berubah menjadi sahabat setelah kita bercerai. Apa itu salah?"


"Tentu saja tidak salah. Apalagi, jika kamu benar-benar memang hanya menganggapnya sebagai sahabat. Apa kau yakin sudah melupakan wanita yang pernah membersamaimu selama lebih dari lima tahun itu?" Bagas berniat memojokkan Sean.


Sean sangat marah mendengar ucapan Bagas. Ia sungguh tidak mengira kalau Bagas akan mengungkit kebersamaannya dengan Sandra di masa lalu.


"Saat ini perasaanku pada Sandra murni hanya perasaan sebagai sahabat. Aku dan Sandra memang pernah bersama di masa lalu. Namun, bukan berarti aku masih mencintainya."


"Apa kamu yakin kau benar-benar sudah tidak mencintainya lagi? Melihatmu begitu khawatir dan menginginkan aku menjauhi Sandra aku jadi curiga kalau kamu–"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Bagas Bimantara! Di sini aku sedang membahas dirimu bukan aku!" Sean sungguh kesal dengan pria di hadapannya itu.


"Seperti yang aku bilang, kamu tak berhak melarangku untuk menjauhi Sandra."

__ADS_1


"Sandra itu perempuan baik-baik. Laki-laki seperti kamu tidak pantas untuk perempuan baik seperti Sandra. Apa kau lupa? Kau bahkan hampir saja melecehkannya dan membuatnya trauma?"


Tangan Bagas mengepal mendengar ucapan Sean. Laki-laki itu merasa tersinggung dengan kalimat yang keluar dari mulut pria yang pernah menjadi suami wanita idamannya itu.


"Memangnya aku ini pria seperti apa?" Bagas balik bertanya.


"Aku rasa, kau pasti sudah tahu jawabannya. Bukankah, tidak ada yang lebih mengerti tentang kita selain diri kita sendiri?" Sean mencibir.


Sedangkan Bagas mendengus kesal.


"Aku sudah lama meninggalkan dunia malamku semenjak kamu memasukan aku ke dalam penjara. Semenjak itu, aku sadar kalau aku telah jatuh cinta pada Sandra. Aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan meninggalkan semua kehidupanku di masa lalu. Aku yang sekarang bukan aku yang dulu. Bukan hanya statusku yang sekarang berubah, tetapi, kehidupan gelapku di masa lalu pun sudah aku tinggalkan.


Saat ini aku menginginkan Sandra. Aku mencoba memperbaiki diriku agar aku pantas mendampingi dia. Kau benar, Sandra memang perempuan baik. Oleh karena itu, aku akan terus memperbaiki diriku agar aku pantas dan layak bersama Sandra." Bagas menghentikan ucapannya.


Sean, aku tahu kamu sangat mengkhawatirkan Sandra. Namun, kamu jangan khawatir. Aku akan menjaganya seperti kamu menjaganya dari jauh selama ini. Aku tahu, kamu adalah orang di balik kesuksesan yang diraih Sandra selama di Paris."


Sean yang sedari tadi terdiam mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Bagas tersentak kaget saat laki-laki itu mengetahui semua rahasianya yang selama ini telah membantu Sandra secara diam-diam.


"Kamu melakukan itu semua karena kamu merasa bersalah padanya karena kamu mencintai sahabatnya bukan? Kamu ingin menebus kesalahanmu padanya karena itu kamu membantunya." Bagas menatap Sean yang masih terdiam mendengarkan ia bicara.


"Atau, jangan-jangan kamu melakukan semua itu karena kamu masih mencintai Sandra?"


BERSAMBUNG ..

__ADS_1


__ADS_2