
Sandra menangis dalam pelukan Kanaya. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, kecuali dulu, saat dirinya dan Kanaya masih sama-sama berstatus sebagai istrinya Sean.
Setelah dirinya berpisah dengan Sean dan Kanaya, sesedih apapun, Sandra tidak pernah menangis di depan orang lain. Ia lebih suka memendam semua permasalahan yang menimpanya. Sandra hanya tidak ingin orang lain menganggapnya lemah. Dia ingin semua orang menganggapnya wanita sempurna yang tidak punya cela sedikitpun.
Sepulangnya dari rumah sakit beberapa saat yang lalu, Sandra memang tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia pergi ke rumah Kanaya karena merasa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Sandra sedang membutuhkan teman untuk berbagi saat ini. Rasanya, Sandra bisa gila menghadapi masalah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Seandainya saat ini Anisa berada di hadapannya, Sandra pasti akan mengungkapkan kegelisahannya saat ini pada wanita yang pernah menjadi asistennya itu. Namun, karena saat ini Anisa sedang berada di rumah sakit bersama suaminya, Sandra tidak ingin mengganggunya.
Lagipula, saat ini Sandra masih merasa marah karena Anisa telah membohonginya. Wanita itu telah menyembunyikan fakta tentang pekerjaannya yang ternyata adalah mata-mata yang dikirim Bagas untuk melindunginya selama dirinya berada di Paris.
"Jadi, laki-laki itu akan menikahi wanita lain?" Kanaya berucap dengan kedua mata membola. Dirinya sungguh tidak terima laki-laki yang dulu pernah membuat Sandra hancur itu kembali menyakiti Sandra.
Sandra terisak sambil memeluk Kanaya. Perempuan itu mengungkapkan perasaannya yang kini hancur karena kecelakaan Bagas dan pernikahan lelaki itu yang sebentar lagi akan digelar.
Sandra sungguh sangat menyesali keputusannya karena tidak menerima Bagas saat itu. Seandainya saja dirinya mengikuti kata hati dan tidak membuat Bagas galau, laki-laki itu pasti saat ini masih baik-baik saja.
"Dia menikahi wanita itu karena terpaksa. Kedua orang tuanya menjodohkannya dengan wanita manja tidak tahu diri itu karena Bagas tidak mempunyai pasangan."
"Apa maksudmu dia tidak mempunyai pasangan? Bukankah kalian berdua ini pasangan?" Kanaya memrotes ucapan Sandra.
__ADS_1
"Aku dan Bagas tidak pacaran."
"Apa?" Kedua bola mata Kanaya kembali membola mendengar ucapan Sandra.
"Aku yang tidak mau bersamanya. Aku bahkan menolak lamarannya berkali-kali," ucap Sandra sambil terisak.
"Kamu mencintainya tapi kamu menolak lamarannya. Apa aku tidak salah dengar?"
Sandra melepaskan pelukannya pada Kanaya. Sebagai gantinya, wanita itu merebahkan kepalanya pada pangkuan sahabat yang pernah menjadi madunya itu.
"Kamu tidak salah dengar, Naya. Aku saja yang bodoh karena aku sudah menolak pria baik seperti Bagas. Selama ini aku meragukannya karena aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri." Sandra berkata dengan jujur.
"Saat ini, Bagas masih dalam keadaan kritis di rumah sakit. Aku sangat takut, Nay, aku takut terjadi apa-apa pada Bagas." Sandra kembali menangis. Ia sungguh sangat khawatir dengan keadaan Bagas saat ini.
Biar bagaimanapun, dirinya ikut andil menjadi penyebab kecelakaan yang menimpa Bagas. Seandainya saat itu ia tidak menolak, Bagas tidak mungkin pergi ke Bali.
Seandainya Shena tidak menggunakan dirinya untuk mengancam Bagas, pria itu pasti tidak akan mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi hanya karena ingin segera menemui wanita ular itu.
"Aku yang salah, Nay. Aku yang salah karena terlalu pengecut mengakui kalau aku juga punya perasaan yang sama dengan Bagas." Sandra kembali menangis.
Tanpa mereka sadari, tidak jauh dari mereka berdua, Sean berdiri sambil mengepalkan tangannya menahan amarah. Laki-laki itu sungguh tidak terima melihat Sandra menangis seperti itu.
__ADS_1
***
Beberapa hari berlalu. Kondisi Bagas berangsur membaik. Pria itu kini sudah dipindahkan di ruang rawat inap. Namun, karena pengaruh obat, Bagas masih belum membuka matanya.
Bimo dan Anisa masih setia menunggu Bagas di rumah sakit. Hari ini, mereka berdua bahkan mengajak Sandra untuk datang menemui Bagas. Sandra datang ke rumah sakit secara diam-diam bersama Anisa.
Beruntung, para pengawal yang ditugaskan oleh Liana tidak menyadari kedatangan Sandra.
"Apa dia akan terus seperti ini?" Sandra menatap wajah Bagas yang terlihat pucat.
"Kita berdoa saja semoga dia cepat sadar." Anisa menimpali ucapan Sandra. Ia sangat tahu bagaimana perasaan Sandra saat ini.
Mendengar ucapan Anisa, Sandra memanjatkan doa di dalam hatinya. Ia sungguh merindukan pria di hadapannya itu. Beberapa hari ia menahan diri karena tidak bisa menemui Bagas. Liana melarangnya untuk menemui Bagas.
"Bagas, maafkan aku. Aku tahu aku bersalah padamu. Tapi, ku sungguh sangat merindukanmu." Sandra menggenggam tangan Bagas sambil menangis.
"Maafkan aku karena aku terlambat menyadari semua perasaan yang aku punya untukmu. Aku mencintaimu, Bagas. Sangat mencintaimu." Sandra terisak di hadapan Bagas.
Perempuan itu larut dalam kesedihan sampai tidak menyadari jika pria di hadapannya sudah membuka matanya dan menatapnya dengan tatapan bingung.
Pria itu menatap perempuan cantik yang kini sedang menangis sambil memeluk lengannya. Wajah perempuan itu menghadap ke arahnya sehingga Bagas bisa melihat dengan jelas kesedihan yang kini di rasakan oleh wanita itu.
__ADS_1
"Si–siapa kamu?"
BERSAMBUNG ....