Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
PATAH HATI


__ADS_3

"Sayang, kamu sudah datang?" Bagas menatap perempuan cantik yang kini tersenyum sumringah menatapnya. Entah mimpi apa Shena semalam hingga Bagas tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan sayang.


Shena sangat tahu bagaimana sikap pria itu saat terakhir kali mereka berkomunikasi lewat telepon. Shena masih ingat bagaimana Bagas mengumpat padanya karena dirinya mengancam akan mencelakai Sandra.


Shena mendekati Bagas dengan tersenyum manja. Niatnya tadi ia hanya ingin melihat lelaki itu dari jauh karena sedari kemarin orang-orang terdekat Bagas melarangnya untuk bertemu dengan pria itu.


Namun, tidak disangka kalau ternyata Bagas menyambutnya dengan hangat. Bagas bahkan tidak memedulikan kekasihnya yang tampak terlihat terkejut melihat sikapnya.


"Maafkan aku, Sayang. Aku baru sempat datang ke sini. Aku lagi banyak kerjaan," ucap Shena dengan nada manja membuat Sandra yang melihatnya merasa muak.


"Bagas, kamu tidak mengingat aku tapi kenapa kamu mengingatnya?" Sandra yang sedari tadi diam karena terkejut melihat Bagas yang mengenali Shena merasa sangat kesal.


Ternyata apa yang dikatakan oleh Bimo dan Anisa benar. Lelaki di depannya itu tidak mengingat semua orang kecuali Shena. Tetapi, bagaimana bisa Bagas hanya mengingat Shena? Jelas-jelas semua orang tahu jika Bagas begitu membenci perempuan itu.


Bimo bahkan mengatakan kalau Bagas menganggap Shena sebagai kekasihnya. Benar-benar tidak masuk akal!


"Aku mengingatnya karena dia adalah kekasihku!" Bagas menjawab dengan enteng.


Sandra menggeleng pelan. Ia sungguh tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Sean.


"Kenapa kamu masih di sini? Kekasihku sudah datang, seharusnya kamu tahu diri dan segera pergi dari sini bukan?" Bagas menatap tajam ke arah Sandra yang masih terdiam di hadapannya.

__ADS_1


Sandra menarik napas panjang saat rasa nyeri menghantam hatinya. Semua ucapan yang keluar dari mulut Bagas serasa belati yang menghujam jantungnya.


Shena tersenyum senang. Ia sungguh tidak menyangka kalau Bagas akan bersikap seperti itu pada Sandra.


"Dia bukan kekasihmu! Dia adalah wanita ular yang ingin memisahkan kita, Bagas!" teriak Sandra dengan kesal.


"Jaga bicaramu! Dia bukan wanita ular, dia adalah kekasihku!" Bagas tak kalah berteriak. Pria itu meringis saat merasakan sakit di kepalanya.


"Bagas." Sandra dan Shena berucap bersamaan. Kedua wanita itu merasa khawatir melihat Bagas kesakitan.


"Kamu tidak apa-apa?" Sandra mendekat ke arah Bagas. Akan tetapi, pria itu langsung menepis tangannya dengan kasar. Bagas bahkan tak memedulikan rasa sakit pada bagian tangannya yang terluka saat menepis tangan Sandra.


"Bagas–"


"Aku tidak ingin melihatmu. Pergi dari sini sekarang juga!"


"Bagas–"


"Pergi!"


Sandra menggeleng pelan. Ia sungguh tidak menyangka kalau Bagas akan mengusirnya. Seharusnya, meskipun Bagas tidak mengenalinya, dia tidak boleh bersikap kasar dan seenaknya padanya bukan?

__ADS_1


Rasanya sangat sakit. Baru saja dirinya ingin membuka hati untuk pria itu, tetapi, belum apa-apa hatinya sudah patah. Sandra tiba-tiba mengingat bagaimana saat dirinya mengusir Bagas.


Dulu, dia seringkali mengabaikan Bagas. Sandra juga tidak segan-segan mengusir pria itu tanpa perasaan. Wanita itu tidak pernah memikirkan bagaimana sakit hatinya Bagas karena seringkali mendapat penolakan darinya.


Terakhir kali, Sandra menolak Bagas saat pria itu datang ke rumahnya dan kembali melamarnya. Bagas bahkan merendahkan diri meminta tolong padanya untuk menjadi kekasih pura-pura asalkan dia mempunyai alasan untuk menolak perjodohannya dengan Shena. Namun, Sandra menolaknya.


Sandra tersenyum miris.


Ternyata, rasanya sesakit ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu saat aku berkali-kali menolakmu dulu.


"Pergi dari sini. Aku tidak ingin melihatmu lagi!" ucap Bagas dengan tegas. Mendengar ucapan Bagas yang begitu tegas mengusirnya membuat hati Sandra patah.


Bagas, pria yang selama ini begitu memujanya kini justru mengusirnya dengan terang-terangan. Apalagi, pria itu dengan tanpa perasaan mengusirnya di depan Shena.


Sandra menatap Shena yang yang tersenyum sinis padanya. Ia tahu, wanita itu pasti merasa senang sekarang. Namun, Sandra tidak akan menyerah.


Bagas adalah miliknya. Saat ini pria itu memang sedang tidak mengingatnya. Namun, Sandra sangat yakin jika pria itu tidak mungkin begitu saja melupakannya.


"Aku tidak akan pergi dari sini!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2