
Sandra dan Bagas baru saja pulang dari rumah sakit. Sepasang suami istri itu sangat senang saat mengetahui kalau saat ini sudah ada calon Bagas junior di dalam rahim Sandra.
"Aku hebat, 'kan, Sayang," ucap Bagas sambil menghadiahi beberapa ciuman pada wajah cantik Sandra yang juga terlihat sumringah.
Semenjak pulang dari rumah sakit, wanita itu tidak berhenti tersenyum sambil mengusap perutnya yang masih terlihat rata. Sandra masih tidak percaya jika dirinya saat ini sedang hamil delapan minggu.
Usia kandungannya sudah dua bulan, dan Sandra baru mengetahuinya. Sandra sungguh merasa sangat bahagia saat ini. Tidak menyangka, kalau dirinya akan hamil secepat ini. Usia pernikahannya bahkan baru berjalan sekitar tiga bulan.
Sandra menatap Bagas yang berulang kali menciumi pipinya dengan gemas. Lelaki itu jelas tak kalah bahagia dari Sandra. Bagas bahkan dengan percaya diri merasa bangga karena sudah menghamili Sandra.
"Aku juga tidak menyangka kalau aku akan hamil secepat ini." Sandra mengusap wajah suaminya. Menghentikan pria itu agar tidak terus-terusan menciumi pipinya. Apalagi, saat ini mereka berada di ruang tamu.
"Aku juga tidak menyangka kalau kecebongku langsung jadi," ucap Bagas membuat Sandra mencubit mulutnya.
Bagas tertawa melihat kekesalan istrinya. "Kamu makin cantik kalau lagi marah gini, Yang," ucap Bagas kemudian mencium bibir Sandra sekilas.
"Gombal!"
"Beneran!"
"Ish!" Sandra mencubit lengan suaminya dengan gemas saat tangan Bagas tiba-tiba dengan jahil menyelusup masuk ke dalam roknya.
"Kamu nggak ingat kata dokter tadi, Mas?"
Bagas tersenyum kuda mendengar ucapan Sandra.
"Aku pikir kamu lupa, Yang." Tangan Bagas kembali beraksi.
"Lagipula, dokter tadi bilangnya bukan nggak boleh, cuma nggak boleh sering-sering terus harus pelan-pelan." Bagas tersenyum genit.
"Dasar mesum!"
"Sama istri sendiri ini mesumnya." Bagas mulai melancarkan aksinya merayu Sandra.
Mereka berdua akhirnya tenggelam dalam kenikmatan surga dunia. Sepertinya janjinya, Bagas benar-benar melakukannya dengan pelan-pelan. Lelaki itu bermain dengan hati-hati agar tidak terjadi apa-apa pada calon buah hatinya.
__ADS_1
***
"Kamu hamil?" pekik Kanaya girang. Wanita itu sangat terkejut mendengar kabar kehamilan sahabatnya itu.
"Aku sangat bahagia mendengar kehamilanmu. Aku sungguh tidak percaya kalau kamu akhirnya hamil juga. Bagas benar-benar hebat!" Kanaya kembali mengekpresikan kebahagiaannya.
"Terima kasih, Nay. Aku juga sangat bahagia karena saat ini aku sedang hamil. Aku masih tidak menyangka kalau aku bisa hamil," ucap Sandra sambil mengusap perutnya.
Naya mencubit pipi Sandra dengan gemas.
"Kamu itu perempuan, jelas saja kamu hamil. Dasar bodoh!"
Sandra ketawa mendengar ucapan Kanaya.
"Aku 'kan memang bodoh! Kalau tahu rasanya hamil itu sebahagia ini, dari dulu pasti aku akan memilih hamil dan menikmati hidupku dengan normal," ucap Sandra sambil tersenyum.
"Kejadian masa lalu kita benar-benar membuatku sadar, tidak ada yang lebih membahagiakan selain keluarga."
"Dulu aku benar-benar bodoh karena lebih mementingkan karir daripada keluarga."
Kanaya tersenyum mendengar ucapan Sandra. Ia sungguh sangat bersyukur karena sekarang Sandra sudah berubah.
"Entahlah! Yang jelas, beberapa waktu ini aku sangat nyaman menjadi pengangguran." Sandra terbahak dengan ucapannya sendiri.
"Tidak ada lagi tekanan soal pekerjaan. Tidak ada lagi yang mengatur pola makan dan tidak ada lagi yang cerewet saat berat badanku naik. Aku sungguh sangat menikmati hidupku saat ini. Apalagi, dengan kehadiran dia di sini." Sandra mengusap perutnya.
"Aku ikut bahagia dengan kebahagiaan yang kamu rasakan, Sandra. Semoga kamu dan bayimu sehat sampai proses persalinan nanti."
"Amiin."
Dia wanita cantik yang sudah lama tidak bertemu itu bercengkrama. Bercerita tentang kehidupan masing-masing.
Kanaya menceritakan perkembangan Nathan, putranya. Bayi mungil yang dulu pernah ingin diberikannya pada Sandra saat dirinya masih menjadi madunya Sandra di masa lalu.
Kanaya juga menceritakan tentang Sean dan kesibukannya, juga kedua mertuanya yang akhirnya memutuskan untuk pensiun dini dan menyerahkan semua usahanya pada Sean.
__ADS_1
Tak jauh berbeda dengan Kanaya, Sandra juga menceritakan bagaimana kehidupannya setelah menikah dengan Bagas. Sandra juga menceritakan bagaimana bucinnya Bagas pada Sandra.
***
Beberapa bulan kemudian ....
Bagas pulang dengan keadaan panik. Pria itu baru saja mendapat telepon dari asisten rumah tangganya jika istrinya mengalami kontraksi.
Saat ini, Sandra sedang menunggunya di rumah. Sandra tidak mau berangkat ke rumah sakit terlebih dahulu karena ia ingin menunggu suaminya datang.
Sandra ingin Bagas juga ikut menemaninya di saat dirinya akan melahirkan. Saat Bagas sampai di rumah, Sandra dan asisten rumah tangga juga sopirnya sudah bersiap di depan rumah.
Mereka semua kemudian masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit. Selama dalam perjalanan, Bagas merasa panik. Apalagi, saat melihat wanita yang dicintainya itu meringis dan menggenggam erat tangannya saat kontraksi kembali datang.
"Sayang, bertahanlah! Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit." Bagas yang berada di kursi belakang bersama Sandra, merangkul wanita itu sambil mengusap perut Sandra.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Seorang dokter dan beberapa perawat yang sebelumnya sudah dihubungi oleh Bagas bersiap menunggu Sandra datang.
Para perawat bergerak dengan cepat mendorong brankar. Mereka membantu Sandra keluar dari mobil kemudian kembali mendorong brankar menuju ruang persalinan.
Sesuai janjinya, Bagas ikut menemani Sandra di ruang persalinan. Lelaki itu ingin memberikan semangat pada istrinya selama proses persalinan.
Bagas menangis saat melihat Sandra merasa kesakitan. Lelaki itu terus menyemangati Sandra saat perempuan itu berjuang mengeluarkan buah hatinya.
Sebenarnya Bagas ingin Sandra melakukan operasi cesar, tetapi, Sandra tidak mau. Dia ingin melahirkan dengan normal seperti Kanaya.
Suara tangisan bayi terdengar membuat Bagas dan Sandra terharu. Sepasang suami istri itu menangis saat melihat anak mereka sudah lahir ke dunia.
"Selamat, Pak, Bu. Bayi kalian perempuan."
"Alhamdulillah." Sandra dan Bagas mengucap syukur bersamaan.
"Wajahnya cantik seperti ibunya," lanjut sang perawat. Wanita muda yang baru saja membantu dokter melakukan proses persalinan itu memberikan bayi perempuan itu pada Bagas.
Bagas dengan kedua mata yang masih penuh air mata menerima bayi mungil itu. Lelaki itu mengumandangkan adzan di telinga putrinya yang baru lahir.
__ADS_1
Sandra pun ikut menangis bahagia karena dirinya saat ini sudah resmi menjadi seorang ibu.
"Terima kasih, Sayang, aku mencintaimu." Bagas berbisik di telinga Sandra yang saat ini sedang menatap putrinya yang sedang merangkak di atas tubuhnya untuk mencari sumber kehidupannya untuk pertama kalinya.