
Bagas menatap kepergian Sandra dengan gemuruh di dadanya. Terselip nyeri dalam hatinya saat melihat keadaan Sandra yang terlihat sedih.
Wanita itu terlihat ingin menangis, tetapi dia terlihat dengan sekuat tenaga menahannya. Meskipun terlihat sedih dan kecewa, wanita itu tetap terlihat kuat dan angkuh.
Semua ucapan Sandra masih terngiang di telinganya membuat kepalanya berdenyut sakit. Namun, lelaki itu tak mengalihkan pandangannya pada Sandra yang saat ini sudah memasuki mobilnya.
"Kamu akan menyesali semua ucapanmu hari ini." Ucapan Sandra berputar-putar di kepalanya.
"Apa sebenarnya maksud dari semua ucapannya? Kenapa dia tidak juga menyerah meskipun aku sudah berkali-kali menolaknya?" batin Bagas bimbang.
"Apa yang dikatakan oleh wanita itu benar? Apa dia benar-benar wanita yang aku cintai sebelum ingatanku menghilang?" Bagas masih menatap mobil Sandra yang perlahan meninggalkan halaman rumahnya.
Sandra mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah Bagas tanpa menoleh lagi. Hatinya patah. Sakit, tapi tak berdarah.
Shena benar, dirinya sudah kalah sekarang. Kini, Sandra hanya bisa pasrah. Paling tidak, dia sudah berjuang sekali lagi. Tetapi, jika orang yang diperjuangkannya menolaknya, dia bisa apa.
Sandra bahkan melihat kedua mata Bagas yang menatapnya dengan penuh kebencian.
"Seandainya suatu hari nanti ingatan kamu pulih, aku yakin, kamu pasti akan menyesalinya," ucap Sandra pelan.
__ADS_1
Mantan model itu mengemudikan mobilnya menuju rumahnya. Ia ingin kembali menenangkan diri. Sepertinya kali ini dirinya akan pasrah menerima nasib. Dia tidak akan menemui Bagas lagi untuk mengemis cintanya.
Biarlah semua terserah Bagas. Terserah pria itu menentukan hidupnya. Sandra merasa dirinya sudah kalah. Ia tidak akan lagi mempermalukan dirinya di depan Bagas.
***
"Apa kamu benar-benar tidak tersentuh sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh Sandra?" Liana yang sedari tadi mengintip perdebatan Sandra dan Bagas dari dalam rumah akhirnya keluar mendekati putranya.
"Kamu boleh tidak percaya pada ucapan mama dan papa juga orang kepercayaanmu. Tapi, apa kamu juga tidak mempercayai ucapannya?" Liana mengusap pelan punggung putranya.
"Kamu bahkan menolak mentah-mentah saat mama ingin menjodohkanmu dengan Shena. Karena apa? Karena kamu sangat mencintai Sandra, Bagas. Wanita itu adalah wanita yang sangat kamu cintai. Demi wanita itu, kamu bahkan menentang mama karena mama bersikeras menjodohkan kamu dengan Shena."
"Itu karena sebelum kecelakaan kamu menyimpan banyak kemarahan untuk Shena. Mama memaksamu untuk melamar Shena karena saat itu Mama tidak tahu kalau dia bukan perempuan baik-baik. Saat itu mama egois karena mama terus memaksa kamu, Bagas." Liana menghela napas panjang. Sementara Bagas hanya terdiam.
"Mama pikir kamu buru-buru pulang karena peduli sama mama yang nantinya akan menanggung malu jika lamaran itu gagal. Mama baru tahu dari Bimo kalau Shena mengancam akan mencelakai Sandra jika kamu menolaknya." Liana kembali mengatakan alasan kepulangan Bagas dari Bali sebelum kecelakaan terjadi.
Wanita itu sungguh berharap, Bagas akan mengubah keputusannya untuk menikahi Shena.
"Mama sudah mengatakan ini berulang kali padaku, Ma. Tapi aku tidak akan terpengaruh apapun. Aku hanya mengingat Shena, itu berarti aku hanya mencintainya. Aku bahkan mengingat semua kebersamaanku dengan dia, Ma."
__ADS_1
"Jika memang Sandra adalah kekasihku, lalu kenapa tidak ada satupun yang aku ingat tentang dirinya?" Bagas menatap wajah sang mama yang terlihat sendu.
Rasanya, Bagas ingin mempercayai ucapan Liana. Tetapi, saat mengingat ucapan Shena yang mengatakan kalau mamanya tidak pernah setuju hubungannya dengan Shena, membuat Bagas kembali bimbang.
Kepalanya kembali berdenyut saat tiba-tiba bayangan wajah Sandra yang terlihat begitu kecewa melintas di kepalanya.
"Mama harap, kamu memikirkan ulang rencana kamu untuk menikahi Shena besok."
"Aku tidak mungkin membatalkan pernikahanku dengan Shena, Ma."
"Ingatan kamu belum pulih, mama hanya tidak ingin kamu menyesal setelah menikah dengannya."
"Mama–"
"Terserah kamu saja, Bagas, yang penting mama sudah berusaha mengingatkan kamu." Liana pergi meninggalkan Bagas dengan raut wajah kecewa.
"Kenapa semua orang menentang hubunganku dengan Shena? Jelas-jelas aku mencintainya. Tetapi, kenapa mereka tidak pernah mau mengerti?"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1