
Masih di Danau hijau.
Aran tidak terlihat di sekitar Han, laki-laki itu masih duduk di dekat ayah dan ibu Aran. Menjawab pertanyaan untuk memenuhi rasa penasaran kedua orangtua Aran, seputar rencana ke depan mereka yang ingin memiliki anak. Sampai berapa anak yang mereka inginkan juga. Bahkan melebar membicarakan Erina, tuan Putri Antarna Group.
"Kalian mau anak pertama perempuan juga seperti Nona Daniah? Atau laki-laki. Wahh, empat ya. Luar biasa, ibu saja cuma punya anak tiga." Ibu antara terharu campur kaget juga, karena Han menyebut angka 4 ketika ditanya mereka berencana punya anak berapa.
Keluarga besar, begitu gumam ibu Aran.
"Sebenarnya itu rencana Aran Bu, dia kan yang hamil dan menyusui anak kami, jadi keputusan ada ditangannya." Bagi Han, kalau itu yang menjadi keinginan istrinya, maka dia akan berusaha mewujudkannya.
"Hehe, nanti kalian bicarakan lagi ya setelah anak pertama kalian lahir." Kata-kata ibu menyimpan sejuta makna. Apalagi dibumbui dengan senyuman. Pengalaman hamil, menyusui dan merawat anak, terkadang akan merubah rencana. Apalagi ibu yakin, anaknya Aran masih tetap ingin mengejar mimpi dan karirnya.
Han sedang memahami ucapan ibu, tapi dalam hati dia tetap berkata, kalau istrinya maunya empat, ya tetap empat. Di luar semua adalah kehendak Tuhan, dia akan berusaha keras mewujudkan keinginan Aran.
"Kalau ayah mau laki-laki atau perempuan nggak masalah, yang penting sehat semua. Baik ibu sama anak kalian nanti." Ayah mengutarakan pendapatnya. Laki-laki itu tahu maksud kata-kata ibu. Terkadang pasangan muda sudah merencanakan jumlah anak, tapi seringnya berubah arah setelah anak pertama mereka lahir.
Sambil menikmati potongan buah segar yang disiapkan ibu, Han menjawab semua pertanyaan yang terus dilontarkan padanya. Adik-adik Aran datang, ikut cemal-cemil makan buah, setelahnya kabur lagi. Karena obrolan para orangtua tidak terlalu nyambung bagi mereka.
"Kalau Tuan Saga bagaimana apa sudah merencanakan anak kedua? Beliau kan harus punya penerus laki-laki."
Tuan Saga yang akan selalu menjadi topik menyenangkan bagi semua orang.
"Ia Bu, semoga Tuan Saga juga mendapatkan anak kedua laki-laki. Saya juga berharap begitu."
Setelah beberapa lama mengobrol, Han mulai memperhatikan sekitar, mencari Aran. Dia melihat jam tangan, kalau ukuran untuk membeli es cream sepertinya ini cukup lama gumamnya. Apa penjualnya sedang antri. Karena mulai menebak arah jalan yang dilalui Aran, Han jadi tidak fokus mendengarkan ayah dan ibu.
"Kau khawatir? Ya sudah susul Aran sana, mungkin penjualnya antri jadi dia lama." Melihat dari ramainya pengunjung yang berseliweran di sekitar Danau hijau. Ibu menunjuk tempat pada pedagang menjual makanan. "Ikuti saja jalan itu."
Han juga sudah tahu dia harus ke mana. Dia kan pernah melihat Tuan Saga membelikan es cream untuk Nona Daniah waktu itu. Kencan mereka ke Danau Hijau saat nona dihukum larangan keluar rumah.
"Baik Bu, saya pergi dulu menyusul Aran."
Ayah dan ibu mengganguk, lalu Han memakai sepatunya dan menjauh dari alas duduk. Ayah dan ibu menatap punggung menantunya yang semakin menjauh.
"Ternyata dia memang menantu yang baik," ujar ibu mengakui. Karena dia tidak mengenalnya dulu, tentu apa yang dia pikirkan tentang Sekretaris Han ya apa yang dia lihat di media. Dingin dan berwatak keras. Apalagi saat kasus yang menyeret Aran terjadi. Wajarlah, dia membenci laki-laki itu. "Semoga Tuhan segera menjawab doa kita ya, mereka segera di beri momongan." Ibu tersenyum bahagia sambil memeluk lengan suaminya. "Mau laki-laki atau perempuan semua sama. Pasti gagah seperti ayahnya kalau laki-laki. Cantik dan cerewet seperti ibunya kalau perempuan." Ibu tersenyum lucu. "Kalau perempuan bisa jadi teman main Nona Erina. Kalau laki-laki mungkin bisa berjodoh dengan Nona Erina."
"Ibu ini, belum apa-apa sudah menebak-nebak." Ayah memukul tangan istrinya karena pikirannya sudah kejauhan.
"Hehe."
"Padahal mereka baru rencana. Sudah-sudah jangan dibicarakan terus, kita doakan saja yang terbaik untuk Aran dan menantu Han."
Ibu masih tertawa, lalu menggelayut manja di lengan suaminya. Mereka mengobrol berdua, malah bernostalgia tentang masa muda, karena anak-anak mereka pada kabur semua. Sambil menikmati angin semilir yang berhembus dengan segar, disekitar mereka duduk. Sambil menikmati buah yang sudah dipotong ibu.
...๐๐๐...
Han melihat air danau yang tenang. Antrian pengunjung yang ingin menaiki perahu. Kebanyakan pasangan, ada juga yang menggendong anak kecil. Dia jadi berfikir, bagaimana rasanya ya kalau naik mainan seperti itu bersama Aran.
Haha, kenapa aku malah berfikir hal kekanakan begini. Han menertawakan dirinya sendiri sekarang. Saat bersama Aran, banyak hal yang dulu bahkan tidak pernah dia bayangkan terjadi. Hari ini saja, dia mengalami banyak hal aneh.
Piknik, sambil makan bekal yang sudah disiapkan ibu. Makan buah yang sudah dipotong-potong ibu, membahas hal remeh. Ternyata begini ya rasanya punya keluarga yang hangat. Sekali lagi, laki-laki yang hanya tumbuh bersama ayah yang sibuk bekerja, mengenal arti keluarga melalui wanita yang dia cintai.
Sejujurnya dia sendiri tidak pernah iri melihat Brian dan Pak Mun atau tuan muda dan nyonya. Karena merasa, inilah nasib dan jalan hidupnya. Tapi, kalau rasanya sehangat ini, seharunya aku merasa iri kan. Han masih bergumam sambil menapaki jalan setapak.
"Siapa itu?"
__ADS_1
Lamunan Han yang melankolis langsung menguap. Saat dia melihat Aran sedang bicara dengan dua orang laki-laki. Yang membuat laki-laki itu kesal, Aran terlihat ketawa ketiwi sambil bicara dengan antusias. Entah membicarakan apa, tapi sepertinya Aran mengenal kedua laki-laki itu.
Baru saja merasakan kedamaian dengan kehangatan keluarga, hatinya sudah dipenuhi kekesalan dan api yang membara.
Han mempercepat langkah.
"Arandita!"
Deg... suara dingin yang langsung menyergap, membentur panas matahari yang sedikit menerobos pepohonan di atas mereka. Aran dan kedua orang yang sedang bicara dengannya menoleh. Aran kaget, lebih-lebih dua orang yang sedang bicara dengannya. Sepertinya mereka mengenal Han. Dari ekspresi dan wajah yang langsung memutih pucat.
"Rupanya kalian tahu siapa aku?"
Buru-buru kedua orang itu menundukkan kepala, sampai tanda pengenal yang ada di kantung kemejanya terjatuh. Tergesa dia mengambil sebelum ketahuan dia reporter dari media mana. Han sudah melihatnya, tapi karena terlalu cepat disambar dia belum sempat membaca.
"Kakak! Tunggu dulu!" Aran sepertinya tahu gelagat buruk yang terlihat dari cara Han bicara. Mode Sekretaris Han muncul.
"Kakak! Aran! Kakak siapa? Dia kan Sekretaris Han?" Salah satu melirik Aran meminta penjelasan.
Dua orang itu menggeser tubuh menjauh dari Aran. Senyum Aran yang dibumbui Cengengesan jadi terasa ancaman bagi mereka. Aran tidak salah memanggil, dia memang memanggil Han dengan panggilan kakak.
Dasar gila! Apa hubungan kalian! Dia tidak bisa mengendalikan ekspresi kaget.
"Kak, mereka reporter media online. Kamu pernah bertemu dulu waktu konferensi pers di RS saat Nona Daniah melahirkan." Aran sudah berdiri di depan Han. Menghalangi Han mendekat. "Kami hanya saling menyapa karena kebetulan bertemu. Senior semua, kenalkan, Sekretaris Han, dia suamiku." Padahal Aran sudah memeluk pinggang Han, tapi tangan laki-laki itu masih terasa bergetar karena kesal.
Dan dua orang yang baru mendengar kata, dia suamiku, bukan hanya pucat lagi, sudah seperti kehabisan darah karena kaget.
Rasanya bola mata kedua laki-laki itu mau loncat keluar saking kagetnya. Bagaimana tidak, salah satu dari mereka sudah merasa beruntung bertemu Aran lagi. Dia dulu kagum dengan keberanian Aran saat konferensi pers, dan ingin menjalin hubungan secara pribadi. Tapi, ternyata.
"Aran, kamu sudah menikah rupanya."
"Kalian dari media mana?"
Ditanya seperti itu, salah satu yang mau menjawab di bekap mulutnya oleh temannya. Yang membekap segera menundukkan kepala.
"Senang bertemu dengan Anda Tuan. Dan Arah selamat untuk pernikahannya. Saya terkejut, haha, ternyata kalau sudah jodoh ya. Hal yang tidak mungkin, bisa menjadi mungkin ya. Haha. Kami pergi dulu, mau meliput, maaf sudah menggangu kencan kalian." Menundukkan kepalanya sendiri lagi sambil mendorong kepala temannya dan setelahnya melesat dengan kecepatan cahaya, meninggalkan Aran yang kaget dan akhirnya tertawa lucu karena salah satu tersandung sebelum lari menjauh lagi.
"Haha, kalian ini, padahal aku sudah bilang, kalau aku sudah menikah tapi kalian tidak percaya." Aran menutup mulut sambil melirik laki-laki disampingnya. "Hehe, Kak. Mereka juga cuma iseng kok."
Krek..krek
Rasanya Aran bisa mendengar suara sesuatu yang patah, walaupun Han cuma menekuk kepala ke kanan dan ke kiri. Membuat Aran merinding.
"Mana es cream mu?"
"Hehe, aku belum beli Kak, maaf karena aku bertemu mereka duluan."
Sebelum wajah murka itu muncul lagi, Aran menarik lengan suaminya untuk mengikutinya. Dia harus segera membeli es cream, supaya bisa melumerkan suasana.
"Haha, Kakak! Jangan bilang kau cemburu lagi. Mereka itu cuma tiang penyangga gedung Kak. Buat ku mereka itu cuma tiang penyangga gedung. Aaaaa! Berapa kali harus aku bilang." Aran nyerocos sambil menggelayut manja sambil menggengam tangan Han. Menuju penjual es cream.
Ah, sialan! Saking mempesonanya istriku, banyak sekali serangga berkeliaran di sekitarnya. Ini karena kau cantik dan menggemaskan Aran. Tidak sadar, dia juga dulu pernah menjuluki istrinya serangga.
Ah, laki-laki seperti Han, kalau sudah jatuh cinta, bucin dan kegilaannya memang tidak jauh berbeda dari Tuan yang dia layani.
"Jangan tertawa di depan laki-laki lain, aku tidak suka."
__ADS_1
"Eh, baik Kak. Kakak juga jangan tertawa di depan perempuan lain." Saat Han melirik sambil menunjukkan ekspresi dingin dan alis terangkat. "Haha, ia Kak, ia, Kakak juga tidak pernah tersenyum kecuali pada Tuan Saga. Memang aku yang harus berhati-hati ke depannya."
Hah! Tidak perlu diminta begitu, setelan wajahnya kan memang begitu. Aran terkikik, sambil menarik tangan Han.
Setelah memesan es cream mereka duduk di bangku-bangku panjang yang banyak di taman Danau Hijau. Sengaja tidak mendekat ke arah ayah dan ibu, karena orangtua Arah terlihat terlalu manis untuk diganggu. Akhirnya mereka memilih melipir mencari tempat duduk lain.
Jangan membahas masalah dua orang tadi, gumam Aran. Jadi dia malah menyuapi Han, sampai laki-laki itu tergelak kecil dan mencium Aran karena diserang sendok berisi es cream.
"Ayah dan ibu sangat antusias dengan rencana kita memiliki anak."
Suap, suapan es cream.
"Kita harus bekerja keras untuk mewujudkan harapan mereka kan." Tersenyum meledek, lalu menjilat es cream yang ada di jari Aran, membuat wajah gadis itu langsung memerah.
"Kakak!"
Han merangkul bahu Aran, lalu menunduk dan mengecup bibir Aran.
"Terimakasih karena memberiku banyak hal. Setelah menikah dengan mu, banyak hal luar biasa yang terjadi. Aku bahkan merasakan piknik bersama keluarga."
"Kakak..."
Sejujurnya Aran tersentak, karena kata-kata Han maknanya sangat dalam. Keluarga Tuan Saga memang keluarga baginya, tapi walaupun begitu, dia pasti duduk sendirian saat Tuan Saga dan Nona Daniah pergi piknik. Aran meraih tangan Han, menciumnya.
"Ayo lakukan banyak hal menyenangkan bersama ku Kak, hal remeh remeh yang belum pernah kakak lakukan selama menjadi Sekretaris Han. Aku akan melakukan apa pun. Kakak kan sudah merealisasikan hal-hal yang aku impikan setelah menikah, sekarang giliran ku. Apa yang mau Kakak lakukan duluan."
Han tergelak sambil mengusap kepala Arah. Dia berbisik ditelinga.
"Ayo buat anak."
"Kakak!"
Aran memukul bahu Han berulang-ulang, yang dipukuli malah tertawa senang. Setelah lelah memukul Aran menjatuhkan kepala ke lengan berotot milik Han.
"Aku mencintaimu Kak, sangat mencintaimu, aku sangat menyukai Kakak. Bagaimana ini, hari ini aku jatuh cinta entah ke berapa juta kali pada Kakak."
"Masih lebih banyak aku, aku jatuh cinta padamu setiap detik."
"Lebih banyak aku, aku mencintai Kakak lebih banyak dari air Danau Hijau." Saking bingungnya membuat pengandaian, jadi asal nyomot yang ada di depan mata. "Pokoknya, aku lebih banyak mencintai Kakak."
Han tertawa lagi, ketika Aran menghujani pipinya dengan ciuman. Angin yang berhembus seperti berusaha menyadarkan mereka kalau dunia ini bukan hanya ditempati mereka berdua saja. Tapi maaf ya angin, sepertinya kedua orang itu memang sedang dimabuk cinta. Adik-adik Aran yang kebetulan menghindari orangtua mereka yang sedang asik berdua malah mendapati sejoli yang merasa menjadi menjadi pemilik bumi. Mereka berdua malu sendiri jadinya.
Piknik keluarga setelah hari yang mendung, semakin memantapkan hati Aran dan Han, kalau mereka telah siap menjadi orangtua bagi anak-anak mereka kelak. Semangat dan untaian doa yang bukan hanya dipanjatkan keduanya, melangit tinggi.
Aran mengusap perutnya.
Han mencium bibir Aran dua kali, lalu menunduk dan mencium perut Aran.
"Datanglah segera Nak, ayah dan ibu menantikan mu."
Aran tersenyum, mengusap pipi Han, dan bersandar di bahu suaminya. Menatap Danau hijau yang tenang, sambil merasakan tangan suaminya yang hangat mengusap perutnya. Hari ini, gadis itu diliputi perasaan bahagia yang teramat sangat.
...๐Lihat Aku Seorang๐...
...Tamat...
__ADS_1