Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
CALON ISTRI MASA DEPAN


__ADS_3

"Bagas, siapa dia?"


Seorang wanita yang tidak lagi muda tetapi masih terlihat cantik mendekati Bagas dan Sandra. Liana merasa heran melihat putranya hanya berdiri saja di sana dengan seorang perempuan.


Bagas yang mendengar namanya disebut langsung menoleh, sementara Sandra terlihat gugup.


"Mama." Bagas menarik tangan Sandra. Lelaki itu melepaskan Sandra setelah sampai di depan mamanya.


"Dasar anak nakal! Pulang nggak bilang-bilang tahu-tahu sudah sampai di rumah bawa perempuan." Liana mencubit pinggang Bagas membuat lelaki itu meringis pelan.


Sementara Sandra tidak dapat menahan tawa saat melihat interaksi ibu dan anak itu. Tidak menyangka kalau pria di depannya itu ternyata begitu dekat dengan ibunya.


"Kamu nggak mau ngenalin mama sama dia?" Liana melirik ke arah Sandra.


Bagas menggenggam tangan Sandra kemudian mengenalkannya pada Liana.


"Mama, kenalin ini Sandra. Calon istri masa depan."


Kedua mata Sandra membola mendengar ucapan Bagas. Sementara pria itu terkekeh. Sedangkan Liana melongo mendengar ucapan putranya.


"Istri masa depan? Apa maksudmu?" Liana menatap Bagas dan Sandra bergantian.


"Ma–maaf, Tante. Apa yang dikatakan Bagas itu tidak benar. Kita hanya berteman." Sandra menjawab dengan gugup. Dalam hati, Sandra merasa kesal dengan Bagas.


Bisa-bisanya laki-laki itu mengatakan kalau dirinya adalah calon istri masa depannya. Membayangkannya saja, Sandra bergidik. Bukannya apa-apa, semenjak berpisah dengan Sean, Sandra belum pernah terpikirkan untuk menikah lagi.


"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu?" Bagas tampak tidak terima.

__ADS_1


"Jangan bertingkah seolah-olah aku ini adalah kekasihmu, Bagas. Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu padaku!" Sandra kehilangan kontrol. Mendengar ucapan Bagas, membuat Kekesalannya muncul kembali.


Pria di hadapannya itu, dari semenjak bertemu selalu saja memaksanya. Beberapa menit lalu dia memaksakan kehendaknya dengan membawanya keluar dari restoran.


Lalu, Bagas membawanya ke rumah orang tua lelaki itu tanpa meminta persetujuan darinya, dan sekarang, dengan begitu percaya diri mengatakan pada ibunya kalau dirinya adalah calon istri masa depan pria itu.


"Benar-benar keterlaluan!" Sandra berucap dalam hati.


"Sebaiknya kita bicara di dalam saja. Mama sangat penasaran dengan kalian. Jangan bilang, kamu kembali memaksakan kehendakmu sampai-sampai membuatnya marah." Liana melirik Sandra kemudian meraih tangan perempuan itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Sandra yang sedikit terkejut dengan reaksi ibu dari Bagas itu terpaksa menurut. Sandra mengira, wanita itu akan marah karena ia berdebat dengan Bagas di depannya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.


"Mama baru saja menyiapkan makan siang. Bagaimana kalau kita makan bersama?" Liana menatap wajah cantik Sandra yang terlihat ragu-ragu.


"Tenang saja. Tidak usah pedulikan Bagas. Dia memang begitu, senengnya maksa-maksa orang. Mama aja kesel sama dia." Liana mencebik kesal sambil melirik putranya.


"Mama." Bagas berdecak kesal melihat kelakuan sang mama.


"Ayo duduk, Sandra." Liana menatap wanita yang diklaim anaknya sebagai istri masa depan. Kalau dari penampilannya, Sandra memang sangat sopan. Perempuan itu juga sangat cantik. Wajar jika Bagas terlihat begitu menyukai gadis itu.


"Terima kasih, Tante." Sandra tersenyum canggung.


"Panggil mama saja. Mama lebih suka dengan panggilan itu." Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tersenyum.


"Tapi, Tan–"


"Mama, Sayang ...." Liana tersenyum mengingatkan.

__ADS_1


"Ba–baiklah!" Sandra pasrah. Sepertinya sekarang dia tahu kenapa Bagas juga pemaksa.


Sandra menatap Bagas yang saat ini juga sedang menatapnya.


"Bagas tidak pernah membawa wanitanya pulang ke rumah. Mama cukup terkejut karena hari ini dia pulang dengan membawa wanita cantik sepertimu." Liana tersenyum pada Sandra yang terlihat canggung.


Entah mengapa, Liana langsung menyukai Sandra meskipun ini adalah pertemuan pertama kalinya. Sementara Sandra tersenyum mendengar ucapan Liana.


Netranya menatap Bagas yang tak berhenti menatapnya. Cukup merasa terkejut dengan kenyataan jika pria di hadapannya itu tidak pernah membawa kekasihnya sama sekali.


Bukankah, dia itu seorang cassanova? Laki-laki yang hidupnya selalu dikelilingi oleh wanita?


"Makanlah! Setelah makan, kita bisa ngobrol-ngobrol di taman nanti. Mama sungguh penasaran dengan calon istri masa depannya Bagas."


Sandra melongo mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Kenapa dia harus berhadapan dengan orang-orang seperti mereka?


Sandra menatap ke arah Bagas yang terlihat tersenyum karena ternyata sang mama setuju menyebut Sandra sebagai calon istri masa depannya.


"Calon istri masa depan aku itu orangnya baik, Ma. Mama nggak bakalan kecewa sama dia. Jadi, sebaiknya Mama simpan dulu keinginan Mama untuk mengobrol dengannya."


"Memangnya kenapa mama tidak mengobrol dengannya?" Liana merasa tidak terima dengan ucapan putranya.


"Ma, aku itu mau menghabiskan waktu sama Sandra. Aku kangen sama dia, Ma. Sudah sebulan aku tidak bertemu dengannya." Bagas menatap sang mama dengan kesal. Sementara Sandra hampir saja menjatuhkan sendok yang ia pegang.


"Aku mencintainya, Ma. Hari ini aku ingin melepas rindu dengannya."


"Bagas!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


Maaf, baru sempat update 🙏🙏


__ADS_2