
Sandra perlahan membuka matanya. Semalam, dirinya tidur hampir menjelang pagi karena Bagas terus mengerjainya. Lelaki mantan cassanova itu benar-benar sangat tangguh di atas ranjang. Sampai-sampai, Sandra merasa kewalahan mengimbanginya.
Sandra mendesis saat merasakan perih pada bagian tubuh bawahnya. Wanita itu ingin bangun, tetapi, dekapan erat lengan Bagas membuatnya susah bergerak.
Sandra menatap dada bidang Bagas. Wajahnya merona saat melihat beberapa tanda merah di sana. Semalam, dirinya begitu terbuai dengan perlakuan Bagas sampai-sampai ia pun ikut menunjukkan sisi luarnya untuk memuaskan sang suami.
Tangan Sandra bergerak turun mengusap perut kotak-kotak milik suaminya. Tubuh Bagus dan Sean hampir sama. Mereka berdua mempunyai bentuk tubuh yang sangat bagus sebagai seorang lelaki.
Bahkan kehebatan mereka di atas ranjang pun hampir setara. Bagas dan Sean sama-sama mempunyai stamina yang kuat saat memuaskannya di atas ranjang.
Sandra menepuk kepalanya sendiri saat tiba-tiba dirinya tanpa sadar sedang membandingkan kedua pria itu. Bagas dan Sean adalah kedua orang yang berbeda. Sean adalah pria masa lalunya dan Bagas adalah masa depannya.
Sandra tidak boleh membandingkan satu sama lain. Apalagi, saat ini dirinya adalah istri dari Bagas, lelaki yang sangat dicintainya saat ini.
Sandra menatap wajah tampan Bagas. Wanita itu menyunggingkan senyum saat melihat betapa tampannya pria yang sedang berada di hadapannya itu.
"Bahkan saat dia tertidur pun, terlihat sangat tampan," ucap Sandra dalam hati. Seolah baru menyadari jika pria di hadapannya itu begitu tampan. Selama ini Sandra memang tidak terlalu memperhatikan Bagas.
Keegoisan dan gengsi yang tinggi membuat Sandra merasa jika apa yang ada pada diri Bagas adalah hal biasa. Tidak ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Sandra memeluk Bagas erat saat menyadari kalau dirinya saat itu begitu mati-matian menolak Bagas. Namun, saat tahu pria itu tidak mengingatnya, Sandra merasa tidak terima.
Hatinya hancur saat pria itu dengan tegas menolaknya. Hatinya terasa sakit saat Bagas mengatakan kalau dia hanya mencintai Shena. Sandra sungguh tidak terima saat Bagas tidak mengenalinya sama sekali dan kini, Sandra tidak ingin kembali mengalami apa yang telah terjadi kemarin.
Wanita itu tidak ingin kehilangan Bagas. Ia sadar, jika dirinya sudah jatuh cinta pada pria itu.
__ADS_1
Bagas membuka mata saat merasakan kehangatan yang menempel pada tubuhnya. Hatinya menghangat saat merasakan dekapan erat dari wanita yang saat ini berada dalam pelukannya.
Manik mata cokelat itu menatap wajah perempuan yang kini juga sedang menatapnya.
"Rasanya masih seperti mimpi bisa sedekat ini denganmu." Bagas mengusap wajah cantik Sandra. Wanita yang kini resmi menjadi istrinya.
Pria itu melabuhkan bibirnya pada kening Sandra berulang kali. Mengucapkan terima kasih karena akhirnya Sandra memberinya kesempatan untuk menikahinya.
"Aku sungguh sangat bahagia. Terima kasih, Sayang."
"Aku juga sangat bahagia. Terima kasih karena sudah sabar menungguku selama bertahun-tahun." Sandra menatap pria itu dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Aku mencintaimu, Bagas. Sangat mencintaimu. Berjanjilah padaku, kalau kamu tidak akan pernah berpaling dariku. Berjanjilah padaku kalau kamu hanya akan terus melihatku seorang."
"Terima kasih, Sayang," ulang Bagas sambil menghadiahi banyak ciuman pada wajah sang istri.
"Aku berjanji padamu, kalau selamanya, aku hanya akan melihatmu seorang. Begitupun dengan kamu, Sandra. Lihat aku seorang. Jangan lagi melihat ke pria lain selain aku." Bagas mendekap erat tubuh istrinya.
Mereka berdua merasakan perasaan lega karena telah mengungkapkan perasaannya masing-masing. Pagi itu, mereka kembali mengulangi pergulatan semalam. Kedua pengantin baru itu seolah tidak mengenal lelah mengejar kepuasan surga dunia.
***
"Sayang, aku sudah menyiapkan obat untukmu." Bagas baru keluar dari kamar mandi. Saat Sandra sedang mandi, lelaki itu memesan obat pencegah kehamilan.
Bagas mengingat saat Sandra menceritakan pernikahannya yang dulu. Meskipun ingin, tetapi, Bagas tidak ingin memaksa seandainya saat ini wanita itu belum menginginkan anak seperti pernikahan terdahulunya.
__ADS_1
"Obat?" Sandra mengernyit heran karena dirinya merasa tidak sedang sakit kecuali pada area sensitifnya.
Bagas mendekati Sandra sambil membawa obat yang baru saja diberikan petugas hotel karena Bagas memesannya lewat telepon.
Kedua mata Sandra membola saat melihat Bagas memberikan obat itu.
"Kamu–"
"Aku tidak akan memaksamu jika kamu belum siap, Sayang, aku akan menunggu. Seberapapun lamanya aku menunggu, aku akan siap. Bahkan seandainya kamu tidak ingin memilikinya pun, aku tidak masalah," sela Bagas membuat wanita di hadapannya itu semakin terkejut.
"Bagas, kamu–"
"Sayang, aku mencintaimu. Aku tidak akan pernah memaksamu untuk memiliki–"
"Bagas, aku ingin hamil. Aku ingin mempunyai anak denganmu!" Sandra berteriak kesal. Ia sangat kesal karena Bagas tidak mau mendengar ucapannya.
"Sayang, kamu serius?" Bagas menatap Sandra dengan tidak percaya.
"Bagas, apa yang pernah terjadi pada masa laluku adalah sebuah kesalahan. Dulu, aku sangat egois dan bodoh karena ambisiku. Kini, aku tidak akan lagi mengulangi kebodohanku. Aku akan mengabdikan diriku padamu. Aku akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti."
"Sayang, terima kasih. Maafkan aku karena telah berprasangka buruk padamu." Bagas kemudian membuang obat pencegah kehamilan yang baru dibeli itu ke tong sampah.
Pria itu kemudian kembali memeluk Sandra. Merasa bahagia karena wanita itu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti masa lalunya.
"Terima kasih, Sayang, aku mencintaimu."
__ADS_1