Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
SIAPA DIA?


__ADS_3

Sandra terdiam. Sesekali netranya menatap ke arah Bagas yang masih menyunggingkan senyum. Pria itu benar-benar terlihat tampan. Bahkan rasanya, lebih tampan dari Sean.


Sandra mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa gugup yang melandanya. Apalagi, saat Bagas dengan tidak tahu malu menggenggam tangannya dan meletakkannya di dada bidang pria itu.


Detak jantung Bagas yang memburu begitu terasa di telapak tangan Sandra. Entah apa yang dirasakan oleh Sandra saat ini, yang jelas debaran di dadanya semakin terasa. Begitupun detak jantungnya yang menggila.


Lebih setengah jam kemudian mobil yang dikendarai Bagas sampai di halaman sebuah rumah besar berpagar tinggi. rumah yang Bahkan jauh lebih besar dari rumah yang ditempatinya bersama Sean dulu.


Rumah di depannya ini hampir sama dengan rumah mertuanya, sangat mewah dan luas. Seorang penjaga keamanan buru-buru membuka pintu gerbang saat melihat mobil Bagas di depan pintu.


"Ini rumah siapa?" Sandra yang masih kebingungan kembali bertanya setelah beberapa saat lalu Bagas tidak menjawab pertanyaannya.


"Ini rumah kedua orang tuaku," jawab Bagas santai. Sementara Sandra sangat terkejut mendengar ucapan pria di hadapannya.


Apa dia bilang? Ini adalah rumah orang tuanya?


Sandra menatap tajam ke arah Bagas. Entah kenapa dia sangat kesal saat mengetahui lelaki itu justru membawanya ke rumah kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu membawaku ke sini?"


"Sebentar saja, Sayang. Aku ingin ketemu mama sebentar sebelum aku pulang ke apartemen." Bagas menatap Sandra sambil tersenyum.


"Jangan memanggilku sayang karena aku bukan sayangmu!" Kekesalan Sandra memuncak. Kenapa pria di hadapannya itu selalu berlaku seenaknya saja?


Bagas mengembuskan napas panjang. Ternyata tidak mudah membuat wanita di depannya ini menurut.


"Hanya sebentar. Lagipula kita sudah sampai bukan? Masa iya mau balik lagi." Bagas membuka seatbelt kemudian turun dari mobilnya.


Sementara itu, Sandra tidak tahu harus mengatakan apa. perempuan itu terdiam saat rasa gugup mulai kembali menyerangnya.


Sandra tersentak kaget saat Bagas tiba-tiba sudah ada di hadapannya dengan jarak yang cukup dekat.


"Jangan marah, aku janji, cuma sebentar saja. Tapi kalau kamu memang tidak ingin masuk, kamu boleh tunggu di mobil," ucap Bagas dengan lembut.


Tangannya membuka seatbelt. Setelahnya, lelaki itu membiarkan Sandra berpikir sejenak. Ia tidak ingin memaksa Sandra untuk ikut dengannya kalau perempuan itu memang tidak mau.

__ADS_1


Sandra menghela napas panjang. Netranya menatap Bagas yang masih berdiri di hadapannya.


"Kamu tidak mau masuk ke dalam? Kalau memang tidak mau, kamu tunggu di sini jangan kemana-mana. Aku hanya ingin mengantarkan beberapa berkas dan juga beberapa hadiah pesanan mama." Bagas kembali berucap.


Ia tidak mau kalau Sandra marah kemudian berubah pikiran. Laki-laki itu bermaksud meninggalkan Sandra tetapi, dengan sigap tangan Sandra mencekal lengannya.


"Aku ikut denganmu."


Bagas tersenyum, tangannya meraih tangan Sandra ke dalam genggamannya. Sandra tidak menolak, meskipun dia sangat marah karena Bagas bersikap seenaknya. Namun, ikut bersama masuk ke dalam bukankah masih jauh lebih baik daripada menunggu di mobil?


Setidaknya Sandra masih punya pilihan daripada pasrah dan berujung penyesalan.


"Maafkan aku karena aku tidak bertanya dulu padamu." Bagas menatap wajah cantik Sandra yang terlihat cemberut. Wanita itu terdiam membuat Bagas kembali menghela napas panjang. Entah apa yang dirasakannya saat ini.


"Lain kali bersikaplah layaknya orang dewasa. Apa yang kamu lakukan ini membuatku sangat kesal. Kau sangat tahu apa yang terjadi pada kita bukanlah sesuatu yang bisa menjadi alasan untuk membawaku bertemu dengan keluargamu bukan?" Sandra menatap tajam. ke arah Bagas.


Sementara itu, tanpa sepengetahuan mereka, seorang wanita yang kini berdiri tidak jauh dari mereka terus memperhatikan interaksi antara Bagas dan Sandra.

__ADS_1


"Bagas, siapa dia?"


BERSAMBUNG ....


__ADS_2