Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
AWASI TERUS


__ADS_3

Sandra menatap Liana dengan tatapan tak percaya. Ia sungguh tidak menyangka kalau wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu mengusirnya.


Sandra bahkan masih ingat jelas bagaimana wanita itu memperlakukannya dengan begitu baik saat Bagas membawanya ke rumah besar milik kedua orang tuanya.


"Saya hanya ingin mengetahui keadaan Bagas, Tante. Saya janji, saya tidak akan macam-macam. Saya hanya ingin melihatnya." Sandra terlihat memohon. Biarlah sekali ini saja dirinya merendahkan diri di hadapan wanita itu agar tetap mengijinkan dirinya melihat Bagas.


"Saya tidak mau kamu mendekati putraku. Jangan ganggu dia lagi karena sebentar lagi Bagas akan menikah!" Liana berucap penuh penekanan.


Sementara Sandra, wanita itu mengembuskan napasnya berkali-kali. Mencoba menetralkan perasaan dan emosinya saat mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Liana.


Rasa sakit kembali menjalar ke seluruh ruang hatinya. Sungguh! Sandra tidak pernah menyangka kalau semuanya akan berakhir seperti ini.


Andai saja beberapa hari yang lalu dirinya tidak menolak Bagas, lelaki itu pasti tidak akan pergi. Seandainya saja ia tidak menolak saat pria itu memintanya untuk menerima lamarannya, mungkin kedua orang tua Bagas juga tidak akan memaksa pria itu untuk melamar perempuan lain.


Menyesal?


Tentu saja. Kini, Sandra sungguh sangat menyesali semuanya. Ia menyesal karena dirinya terlalu banyak pertimbangan untuk menerima pria itu.


Sandra jelas sadar kalau dirinya juga mempunyai perasaan yang sama dengan Bagas. Wanita itu mencintai Bagas, hanya saja, dirinya ragu untuk mengakuinya.


"Saya tidak mengijinkan orang lain untuk menemui putraku. Pergilah sebelum saya menyuruh orang-orang saya untuk mengusirmu secara paksa." Liana masih menatap tajam ke arah Sandra. Perempuan itu tidak segan-segan menunjukkan ketidaksukaannya pada Sandra.


Sandra melirik ke arah orang-orang bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam yang berjejer tidak jauh dari mereka.


Perempuan itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Anisa dan Bimo yang menganggukkan kepala sebagai isyarat agar wanita itu segera pergi dari sana.

__ADS_1


Sandra menurut. Wanita itu juga tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dengan diusir secara paksa dari sana. Apalagi, saat ini dirinya sedang berada di rumah sakit.


Sandra menatap Liana dan Bimantara secara bergantian. Wanita itu tersenyum tipis ke arah pasangan suami istri itu.


"Saya permisi Om, Tante," ucap Sandra, kemudian berlalu dari tempat itu.


Anisa dan Bagas menatap Sandra yang melangkah pergi dengan perasaan tidak menentu. Mereka merasa bersalah karena mereka berdualah yang telah membawa Sandra ke rumah sakit untuk bertemu dengan Bagas.


***


Setelah kepergian Sandra, pintu ruangan terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" Liana mendekati sang dokter dengan wajah panik.


"Keadaan pasien baik-baik saja sekarang. Dia sudah melewati masa kritisnya," sahut dokter sambil tersenyum.


"Tapi, karena kondisi pasien yang cukup parah, kami akan segera memindahkan pasien ke ruang ICU sampai kondisinya stabil." Ucapan dokter laki-laki itu membuat Liana dan yang lainnya kembali diserang rasa panik.


"Tapi anak saya baik-baik saja kan, Dokter?"


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin agar putra Anda kembali pulih seperti biasanya."


"Terima kasih, Dokter." Bimo dan Anisa berucap bersamaan saat sang dokter berlalu dari hadapan mereka. Sementara Liana sudah kembali menangis dalam pelukan Bimantara.


***

__ADS_1


"Apa yang terjadi sebenarnya, Bim?" Bimantara menatap orang kepercayaannya Bagas dengan tatapan tajam.


Walaupun Bimantara sudah berpisah cukup lama dengan Bagas, tetapi, dirinya sangat tahu bagaimana putranya. Setelah Bagas kembali ke rumah, Bimantara begitu dekat dengan Bagas.


Jadi, dirinya sangat tahu kalau Bagas tidak mungkin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi kalau tidak ada sesuatu yang memicunya.


"Bagas tidak mungkin melakukan hal konyol yang akan menyebabkan dirinya mati sia-sia. Apalagi, kita semua sangat tahu kalau dia begitu tergila-gila pada wanita yang bernama Sandra itu bukan?"


"Tuan benar. Putra Anda memang tidak dalam keadaan baik-baik saja saat kepulangannya dari Bali." Bimo menundukkan kepalanya.


"Maafkan saya karena saya gagal menjaga putra Anda dengan baik." Suara Bimo bergetar. Laki-laki itu sungguh tidak tega melihat keadaan Bagas yang saat ini sedang dalam perawatan intensif di ruang ICU.


Dalam hati, ia bersumpah akan membalas apa yang sudah dilakukan Shena pada Bagas.


Bimo kemudian mengatakan semua kebenarannya pada Bimantara. Menurut Bimo, tuan besarnya itu harus tahu siapa sebenarnya calon menantu yang sudah mereka pilih.


"Gadis itu sangat licik. Dia menggunakan Nona Sandra untuk mengancam Tuan Muda." Bimo berucap dengan amarah yang tertahan.


"Saya sudah menduganya. Dari awal saya sudah tidak yakin dengan Ratna dan Chandra yang tiba-tiba menyodorkan putrinya pada Liana." Bimantara mengepalkan tangannya.


Dari awal, dirinya memang tidak pernah menyetujui sang istri untuk menjodohkan Bagas dengan putri sahabat istrinya itu. Bimantara sangat tahu bagaimana perasaan Bagas pada Sandra.


Meskipun Bimantara baru melihat Sandra beberapa jam yang lalu, ia sudah bisa menilai kalau wanita itu memang pantas untuk Bagas terlepas dari statusnya yang memang seorang janda. Apalagi, Sandra adalah mantan menantu dari rekan bisnisnya, yaitu Ibrahim.


"Kamu awasi terus perempuan itu. Jika dia masih berani macam-macam, saya sendiri yang akan menghancurkannya!"

__ADS_1



__ADS_2