
Bagas mengulum senyum saat wajah cantik Sandra tampak pada layar ponselnya. Wanita itu terlihat cemberut. Namun, tidak melunturkan kecantikannya.
Bahkan terlihat sangat menggemaskan. Seorang wanita dewasa dengan wajah cantik dan bibir mengerucut. Rasanya, Bagas ingin sekali menerkamnya saat itu juga.
"Aku mau tidur, kepalaku pusing dari tadi nahan kantuk." Suara Sandra terdengar lirih, detik berikutnya, layar ponsel itu menggelap.
Sandra mematikan panggilan videonya secara sepihak. Bagas tersenyum. Laki-laki itu sangat senang karena Sandra mau mengikuti keinginannya.
Entah mimpi apa dia semalam sampai-sampai perempuan galak itu mau menuruti kemauannya. Biasanya, mengangkat teleponnya saja dia tidak mau.
Bagas masuk ke dalam kamar mandi dengan senyum mengembang pada wajah tampannya. Ia ingin membersihkan diri kemudian mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.
Setelahnya, ia ingin tidur. Semoga saja, perempuan cantik tadi bisa menemaninya di dalam mimpi.
Beberapa menit kemudian, lelaki itu keluar dari kamar mandi. Setelah mengganti bajunya dengan baju tidur, Bagas kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Lelaki itu ingin beristirahat lebih cepat agar ia bisa kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Bagas sangat berharap, urusan pekerjaannya cepat selesai agar ia bisa segera pulang ke negaranya dan bertemu dengan wanita pujaannya.
Bagas meraih ponselnya. Laki-laki itu memotret wajahnya yang terlihat segar. Setelah itu mengirimkan foto itu ke nomor Sandra.
"Selamat tidur, Sayang, semoga mimpi indah." Tulisan yang Bagas kirim di bawah fotonya yang terlihat sangat tampan.
Setelah mengirimkan foto itu, Bagas kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas. Pria itu memejamkan mata saat rasa kantuk menyerangnya. Bagas tertidur dengan senyum mengembang pada wajah tampannya.
Sementara itu, di negara yang berbeda, Sandra baru saja keluar dari kamar mandi. Perempuan itu memutuskan bangun dari tidur karena satu jam lagi sudah masuk waktu subuh.
Gara-gara meladeni pria brengsek itu, Sandra menghabiskan waktu tidurnya dua jam lebih. Lelaki itu terus bercerita panjang lebar, yang anehnya justru ia dengarkan dengan sabar.
Lebih gilanya lagi, Sandra justru menuruti keinginan Bagas untuk melakukan panggilan video. Sandra sampai menepuk kepalanya berkali-kali saat menyadari kalau dirinya telah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.
*Sepertinya aku sudah gila. Kenapa aku bisa menurut begitu saja dengan semua ucapannya?
Apa yang sebenarnya terjadi padaku*?
__ADS_1
Sandra meraih ponselnya. Terlihat sebuah pesan masuk dari nomor pria brengsek.
Sandra membuka pesan itu. Sejenak, wajah perempuan itu terpaku melihat wajah tampan Bagas. Lelaki itu berpose sangat imut dengan senyum sedikit mengembang pada wajah tampannya.
Sial! Kenapa dia tampan sekali?
Sandra menutup mulutnya yang baru saja memuji Bagas.
'Selamat tidur, Sayang, semoga mimpi indah.'
"Mimpi indah gundulmu! Aku bahkan tidak bisa tidur karena kamu mengganggu tidurku." Sandra mencebik kesal saat melihat kalimat yang tertulis di bawah foto itu.
Niat hati ingin bangun karena waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi lebih, Sandra justru kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Kedua tangannya memegangi ponsel. Menatap wajah tampan Bagas yang entah kenapa membuatnya penasaran.
Beberapa menit kemudian, Sandra melempar ponselnya ke atas ranjang. Wanita itu menutup tubuhnya sampai kepala dengan wajah merona.
Entah mengapa, setelah membaca berkali-kali kalimat yang ditulis Bagas di bawah foto itu, Sandra merasa ada sesuatu yang membuat hatinya berbunga-bunga.
***
Anisa tersenyum sambil melambaikan tangannya saat melihat seseorang yang ditunggunya kini tampak di depan matanya.
"Sandra!"
Sandra menoleh ke arah suara. Di sana, terlihat sahabat baiknya yang beberapa jam lalu menolak ia jemput di rumahnya.
Entah karena apa, Anisa tidak memperbolehkannya datang ke apartemen yang ditinggali perempuan itu.
Anisa memilih bertemu di restoran yang cukup ternama di ibukota. Restoran langganan Sandra saat dirinya masih berstatus sebagai istri pengusaha kaya, Sean Ibrahim.
"Anisa."
__ADS_1
"Sandra. Akhirnya aku bertemu denganmu di sini." Anisa memeluk sahabatnya dengan erat. Perempuan itu tersenyum bahagia karena akhirnya bisa kembali bertemu dengan wanita itu.
Sebenarnya, sejak pertama menginjakkan kaki di ibukota, Anisa ingin sekali menemui Sandra, tetapi, suami dan bosnya melarang.
"Maaf, aku terlambat." Sandra melepaskan pelukannya.
"Tidak apa-apa. Aku juga baru saja datang." Anisa tersenyum.
"Aku senang sekali bertemu denganmu di sini."
"Aku juga. Semenjak pulang ke sini, aku tidak punya teman untuk mengobrol." Sandra mencebikkan bibirnya.
"Sepertinya, keputusanku untuk berhenti dan memilih pulang adalah keputusan yang salah. Kamu benar, seharusnya aku memikirkannya baik-baik."
"Benarkah kamu menyesal?" Anisa menatap wajah Sandra yang terlihat tidak ceria. Perempuan itu mengangguk dengan tidak bersemangat.
"Apa yang membuatmu menyesal?" selidik Anisa.
"Aku kesepian. Pengangguran nggak punya kerjaan." Sandra menjawab dengan lesu.
Sementara Anisa tertawa mendengar ucapan wanita di depannya. Apalagi, melihat mimik wajah Sandra yang terlihat lucu.
"Kamu ingin kembali ke Paris?"
Sandra mengangguk.
"Kamu merindukan Paris?"
Wajah cantik itu kembali mengangguk.
"Kamu rindu Paris apa rindu seseorang yang sedang merindukanmu di Paris?"
"Aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengan dia."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....