Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
LUPA INGATAN


__ADS_3

"Si–siapa kamu?" Suara Bagas membuat wanita yang saat itu sedang menangis di hadapannya merasa terkejut.


"Bagas ...." Sandra berucap lirih. Netranya menatap pria di hadapannya yang saat ini sedang menatapnya datar.


"Akhirnya kamu sadar juga." Sandra bermaksud memeluk Bagas. Wanita itu sungguh senang melihat Bagas membuka matanya. Bukan hanya Bagas, Bimo dan Anisa yang sedari tadi berdiri di belakang Sandra pun merasa senang.


"Jangan menyentuhku!" Suara Bagas membuat gerakan tangan Sandra terhenti. Senyum pada wajah Sandra pudar begitupun Bimo dan Anisa.


Sementara itu, Bagas justru menatap Sandra dengan tajam.


"Ka–kamu tidak mengingatku? Aku Sandra–"


"Aku tidak mengenalmu," sela Bagas membuat Sandra kembali terkejut.


"Bagas, aku Sandra. Kita–"


"Pergi dari sini. Aku tidak ingin melihatmu." Bagas menatap Sandra dengan dingin. Sementara itu, Sandra menggeleng pelan. Merasa tidak percaya jika Bagas tidak mengingatnya.


Anisa dan Bimo membawa Sandra menjauh dari Bagas saat melihat wajah Bagas yang terlihat kesakitan. Bimo menekan tombol di samping ranjang untuk memanggil petugas medis. Sementara Anisa membawa Sandra keluar dari ruangan.


Meskipun Sandra menolak, tetapi, saat melihat Bagas memegangi kepalanya dan meringis kesakitan membuat Sandra mau tidak mau menurut. Wanita itu menangis dalam pelukan Anisa.


"Apa dia benar-benar melupakan aku, Nis?" Sandra berucap dengan pelan. Hatinya terasa sakit saat mendengar ucapan Bagas yang mengatakan tidak mengenalnya.


Kenapa di saat aku ingin membuka hati untuknya, dia justru melupakan aku?

__ADS_1


"Dia baik-baik saja kan, Nis? Aku tidak mau terjadi sesuatu sama dia. Aku sungguh sangat–"


"Kamu mencintainya, tapi kamu tidak mau mengungkapkannya padanya. Apa kurangnya Bagas selama ini, Sandra? Kamu sangat tahu bagaimana besarnya cinta lelaki itu bukan?" Anisa memotong ucapan Sandra.


Tidak habis pikir dengan jalan pemikiran Sandra yang sangat mencintai Bagas tetapi justru menolak mentah-mentah pinangan pria itu. Apa dia pikir, Bagas adalah orang yang tidak punya perasaan hingga rela terus menunggunya dan tidak merasa sakit hati?


"Aku tahu, dia adalah orang yang pernah bersalah di masa lalu kamu. Tapi kamu lihat sendiri kalau sekarang dia sudah berubah bukan? Dia mencintaimu, Sandra. Sangat mencintaimu!" Anisa berucap dengan penuh emosi. Ia ingin wanita di depannya itu sadar jika dia sudah keterlaluan.


Apa Sandra tidak tahu bagaimana tersiksanya Bagas selama bertahun-tahun memendam perasaan cintanya?


Apa dia tidak sadar jika kedekatannya dengan Bagas selama ini membuat lelaki itu semakin berharap padanya? Seandainya dia memang tidak menyukai Bagas, seharusnya Sandra tidak memberikan harapan terhadap Bagas bukan?


Berbagai pertanyaan muncul berbarengan di kepala Anisa. Awalnya dirinya memang tidak menyukai Bagas yang memaksa Sandra agar menjadi kekasih pria itu. Namun, seiring berjalannya waktu, Anisa bisa melihat bagaimana bosnya itu begitu mencintai Sandra.


"Seharusnya kamu mengatakan dengan jujur bagaimana perasaan kamu terhadapnya. Bukannya malah memberinya banyak harapan kemudian menghempaskannya ke dalam jurang." Anisa kembali mengatakan kekesalannya pada Sandra membuat perempuan di dalam pelukannya itu semakin menangis.


"Setiap kali aku ingin mengatakan perasaanku padanya, lidahku kelu. Bayangan kegagalan pernikahanku yang dulu kembali terlintas. Aku–"


"Kau meragukannya?" Anisa menggeleng tak percaya. Sedangkan Sandra semakin menangis membuat Anisa tidak tega. Perempuan yang pernah menjadi asisten pribadinya itu kembali memeluk Sandra.


Untuk pertama kalinya, selama ia mengenal Sandra baru kali ini dirinya melihat Sandra begitu rapuh karena masalah cinta. Selama Sandra di Paris, wanita itu tidak pernah berdekatan dengan pria manapun. Sandra selalu membangun benteng tinggi pada setiap pria yang mendekatinya.


"Dia sangat mencintaimu. Aku dan suamiku adalah saksi bagaimana dia begitu mencintaimu, Sandra." Anisa kembali berucap. Berharap semoga hati perempuan itu terbuka dan menerima Bagas sebagai kekasihnya.


Dalam hati Anisa berdoa semoga apa yang dikatakan oleh Bagas tadi tidaklah benar. Bagas sangat mencintai Sandra. Tidak mungkin dia melupakan wanita yang sangat dicintainya bukan? Namun, seandainya benar Bagas melupakan Sandra karena amnesia akibat kecelakaan itu, maka, sepertinya mereka berdua harus kembali berjuang saat cinta mereka kembali diuji.

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintainya, Nisa. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaanku padanya."


***


"Bagaimana keadaannya, Dokter?" Bimo dengan wajah panik menatap dokter yang memeriksa Bagas.


"Untuk sementara, biarkan pasien beristirahat dulu dengan tenang. Jangan memaksanya untuk mengingat semua ingatannya sebelum kecelakaan."


"Apa dia benar-benar mengalami amnesia, Dok?"


"Untuk hal ini, kita akan tunggu penjelasan dari dokter spesialis bedah syaraf yang akan memeriksanya sebentar lagi." Sang dokter menepuk bahu Bimo dengan pelan.


"Tenanglah! Selain cedera di kepala, kondisi pasien baik-baik saja. Berdoa saja semoga kondisinya segera membaik."


"Terima kasih, Dokter. Tolong lakukan apapun yang terbaik untuk sahabat saya."


Sang dokter tersenyum kemudian meninggalkan Bimo yang masih dilanda cemas memikirkan keadaan Bagas.


"Semoga kamu baik-baik saja. Seandainya benar kamu hilang ingatan, aku akan membantumu sekuat tenaga agar ingatanmu kembali pulih. Kamu tidak boleh melupakan Sandra, Bagas. Pengorbananmu akan sia-sia jika kamu melupakannya sekarang."


BERSAMBUNG ....



S

__ADS_1


__ADS_2