
"Sandra, maukah kamu menikah denganku?" Bagas menatap Sandra dengan penuh cinta. Kedua tangannya menggenggam erat tangan wanita yang sangat dicintainya itu.
Sementara itu, Sandra merasa terkejut saat Bagas dengan begitu percaya diri mengatakan kalau dia ingin menikahinya.
"Jangan bercanda, Bagas." Alih-alih menjawab pertanyaan Bagas. Sandra malah melepaskan kedua tangannya, wanita itu justru menutupi kegugupannya dengan mengucapkan kalimat lain.
Mendengar ucapan Bagas, detak jantungnya menggila. Pria itu benar-benar membuat hatinya tidak aman.
"Sayang, aku serius." Bagas menatap Sandra dengan tatapan memohon.
"Serius?" Sandra menatap Bagas dengan detakan jantungnya yang menggila.
Lelaki berwajah tampan itu mengangguk.
"Serius ngelamar aku di sini?" Sandra menatap Bagas tak percaya.
Bagas kembali mengangguk semangat.
"Iya, Sayang. Aku serius." Bagas tersenyum dengan penuh percaya diri.
Sementara Sandra berdecak sebal.
"Katanya cinta. Masa melamar tidak pakai modal."
"Di sini? Tanpa persiapan apapun? Memangnya kamu bawa apa untuk melamarku?"
"Hah?" Bagas melongo. Namun, detik berikutnya laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ucapan Sandra sangat menohok hatinya.
Wanita itu benar. Saat ini, dirinya bahkan tidak membawa apapun untuk melamar perempuan itu.
Bagas tersenyum canggung. Namun, pria itu tidak kehilangan akal.
__ADS_1
"Aku cuma punya cinta. Jadi aku ngelamar kamu pakai cinta saja. Gimana?" Bagas tersenyum menatap wajah cemberut Sandra yang justru terlihat semakin cantik.
Wanita itu tersenyum, saat mendengar ucapan Bagas. Namun, senyumnya langsung menghilang. Wanita itu menundukkan wajahnya, menghalau rasa yang semakin lama mengalir ke dalam hatinya. Jantungnya semakin berdetak dengan cepat melihat lelaki itu tersenyum kepadanya.
"Jangan menggangguku. Aku mau makan." Sandra menatap makanannya yang baru saja diletakkan di atas meja oleh pelayan.
"Baiklah! Aku akan menemanimu makan." Bagas bermaksud mengambil makanan punya Sandra. Namun, perempuan itu melarangnya.
"Ini makanan kesukaanku. Kalau kamu mau, aku akan memesan lagi untukmu." Sandra menjauhkan makanan miliknya dari tangan Bagas.
"Pelit!"
"Biarin!"
Bagas mencebik. Namun, tak urung, seulas senyuman menghiasi wajah tampannya.
"Sepertinya kita memang jodoh." Bagas tersenyum menatap Sandra.
"Makanan kesukaan kita sama."
"Ini? Makanan kesukaanmu?" Sandra menunjuk ke arah sup iga di hadapannya.
Bagas mengangguk.
"Aku heran sama kamu. Kamu ini model, tapi makanan kesukaanmu seperti itu. Herannya lagi, bentuk tubuhmu bahkan tidak berubah sama sekali." Bagas berdecak kagum sambil memperhatikan Sandra dari bawah sampai ke atas. Untung saja, saat ini Sandra menggunakan baju longgar yang jelas tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Jangan macam-macam. Aku tusuk nanti matamu pakai ini." Sandra memperlihatkan garpu ditangannya. Sementara itu, Bagas terbahak.
"Kamu benar-benar menyebalkan!" Sandra menggerutu dengan kesal.
Mereka berdua akhirnya makan bersama siang itu. Waktu makan siang yang seharusnya dihabiskan Bagas dengan Shena, berubah menjadi makan siang bersama sang pujaan hati.
__ADS_1
***
"Kenapa kamu tidak kembali ke kantor? Bukannya ini jam kantor?" Sandra berucap tanpa menatap ke arah pria di hadapannya.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya, Bagas berhasil membawa Sandra ke suatu tempat. Kini, mereka sedang duduk menikmati pemandangan di sekitar mereka.
"Ke kantor itu bisa tiap hari. Tapi ketemu kamu itu sebulan sekali. Jadi, aku lebih memilih ketemu kamu daripada ke kantor sekarang."
Sandra melongo mendengar jawaban pria di hadapannya.
"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu." Sandra menarik napas panjang.
"Kalau kamu jatuh cinta padaku, kamu pasti tahu dan mengerti apa yang ada di pikiranku sekarang." Bagas menatap Sandra dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Kamu tahu tidak?" Bagas membelai rambut Sandra yang berantakan tertiup angin pantai.
"Setiap hari, aku memikirkan cara untuk bertemu denganmu. Aku ingin mendekatimu tapi aku takut kamu marah. Tidak mendekatimu, aku tersiksa rindu. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan? Melupakanmu? Jelas aku tidak akan mampu."
Sandra menatap tak berkedip mendengar ucapan Bagas. Semua ucapan yang keluar dari mulut lelaki itu begitu manis. Apa Sandra harus mempercayai semua ucapannya?
Entahlah! Perasaan Sandra saat ini tidak menentu. Pria di hadapannya itu membuat sesuatu yang telah lama terkubur dalam hatinya kembali bangkit. Cinta, cinta yang dulu hanya ia rasakan pada Sean kini ....
"Sayang, jika kamu bersedia, aku benar-benar akan melakukan apapun untukmu. Aku akan berusaha menjadi lelaki yang terbaik untukmu. Aku tahu, aku salah di masa lalu. Tapi, tidakkah kamu ingin memberikan aku kesempatan untuk membuktikan cintaku padamu?"
"Bagas aku–"
"Aku janji, aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakitimu seperti sakit yang pernah kamu rasakan akibat perbuatan suamimu yang dulu. Aku janji, aku akan setia. Aku–"
"Aku tidak perlu janjimu, Bagas. Aku hanya perlu bukti. Silakan kamu buktikan jika kamu benar-benar mencintaiku."
"Sayang, kamu?"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....