
Bagas memutuskan pulang dari rumah Sandra saat perempuan itu tidak mengatakan apapun saat dirinya memberinya pilihan. Rasa kecewa Bagas pada Sandra membuat pria itu pergi begitu saja, bahkan tanpa pamit.
Bagas bukan ingin menyerah. Tetapi, memaksa perempuan itu juga bukan ide bagus. Bukankah cinta tidak bisa dipaksakan?
Rasa cintanya terhadap Sandra membuat Bagas tidak ingin menyakiti perempuan itu. Meskipun kecewa karena Sandra selama ini seolah memberi harapan padanya, tetapi, Bagas sadar, memaksa wanita itu agar tetap berada di sisinya pun bukanlah hal yang bagus.
Bagas ingin, Sandra mencintainya dengan tulus. Bukan karena terpaksa karena dirinya yang selama ini selalu memaksakan kehendaknya pada perempuan itu.
Bagas mengembuskan napas panjang. Meredam emosi yang kini menguasai hatinya. Rasanya, Bagas sudah bekerja keras untuk merubah dirinya agar pantas bersanding dengan Sandra meskipun dirinya sadar jika kesalahan di masa lalunya jelas tidak bisa dimaafkan oleh Sandra.
Akan tetapi, bukankah selama ini Sandra baik-baik saja saat bersama dengannya? Perempuan itu bahkan tidak canggung membalas pelukannya setiap kali Bagas memeluknya.
Lalu, apa yang membuat wanita itu menolaknya? Walaupun Sandra tidak mengatakan apapun saat di rumahnya tadi, tetapi, diamnya Sandra Bagas anggap sebagai penolakan dari wanita itu.
"Sepertinya aku perlu berlibur untuk mendinginkan hatiku," gumam Bagas.
Bagas meraih benda pipih yang berada dalam saku kemejanya. Pria itu memencet nomor asistennya.
"Bimo, tolong kamu siapkan tiket berlibur untukku."
"Tiket berlibur? Apa Tuan muda sedang bercanda?" kesal Bimo di ujung telepon. Pasalnya, sudah beberapa hari ini Bagas mengabaikan pekerjaannya. Lelaki itu tidak fokus karena terus saja memikirkan wanita pujaannya. Ditambah lagi, kini lelaki itu juga sedang menghadapi masalah keluarga.
Bagas dijodohkan dengan putri dari rekan bisnis keluarganya. Sahabat baiknya yang begitu mencintai Sandra itu jelas kesal dengan ulah kedua orang tuanya.
Padahal, waktu itu, Bimantara dan Liana pernah menyetujui saat putranya mengatakan akan mengejar Sandra. Bagas juga mengatakan kalau ibunya pun sudah pernah bertemu Sandra dan terlihat menyukainya. Namun, demi perusahaan, mereka berdua kemudian mengingkari janji mereka pada putranya sendiri.
"Lagian aneh-aneh saja. Jaman sudah modern pake main jodoh-jodohan." Bimo menggerutu dalam hati.
__ADS_1
Kalaupun demi bisnis, tapi apa mereka tidak memikirkan sedikitpun perasaan dan kebahagiaan putranya? Padahal, Bagas sudah bekerja keras selama ini.
"Apa aku terdengar bercanda, Bim? Jangan membuatku kesal!"
Bimo berdecak kesal mendengar ucapan Bagas.
"Pekerjaanmu sedang banyak, Bagas. Kamu tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Apa kamu tahu, aku hampir gila mengerjakan semua tugasmu dua hari ini!" Bimo merasa kesal dengan sikap Bagas.
"Kamu seharusnya tetap profesional, Bagas. Jangan campur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan."
"Tidak usah cerewet, Bimo. Pesankan saja tiket untukku. Aku akan mengerjakan tugasku nanti setelah sampai di sana." Bagas mematikan sambungan teleponnya setelah menyebutkan nama tempat yang akan dijadikannya sebagai tempat liburan untuk menenangkan diri.
Akan tetapi, Bagas berjanji pada Bimo untuk mengerjakan semua pekerjaannya di kantor meskipun dirinya sedang berlibur. Ucapan Bagas membuat sahabat sekaligus asisten pribadinya itu merasa kesal.
Apapun alasan yang dikatakan oleh Bagas, tetap saja, pria itu akan membuatnya sibuk setengah mati.
Bagi Bimo, Bagas bukan hanya sekedar bos dan sahabat saja. Pria itu bahkan sudah menganggap Bagas seperti saudaranya. Bimo akan melakukan apapun demi kebahagiaan Bagas.
"Apa model itu benar-benar tidak menyukai Bagas sama sekali? Padahal, jika dibandingkan dengan suami Sandra sebelumnya, Bagas juga tidak berbeda jauh. Sama-sama tampan dan sukses di usia muda," batin Bimo.
Seandainya benar Bagas memutuskan liburan karena mendapatkan penolakan dari Sandra, berarti saat ini Bagas tidak dalam kondisi baik-baik saja.
Bimo sangat tahu bagaimana pria itu begitu mencintai Sandra, hingga rela melakukan apapun demi bisa bersanding dengan wanita itu. Bagas bahkan sudah merubah dirinya menjadi orang lain hanya demi mendapatkan perhatian dari wanita itu.
"Semoga kamu baik-baik saja, Bagas. Aku tahu, masalah ini pasti sangat berat untukmu. Namun, aku janji, aku akan berada di sampingmu apapun yang terjadi."
***
__ADS_1
Sandra berulang kali menelepon nomor Bagas. Tetapi, lelaki itu tidak mengangkat panggilan teleponnya. Sandra juga beberapa kali mengirimkan pesan, tetapi, pesannya tidak ada yang dibaca satupun oleh Bagas.
"Apa dia marah padaku?"
"Apa dia kesal karena aku tidak mau membalas perasaannya?"
Berbagai pertanyaan timbul di benak Sandra. Wanita itu sadar, Bagas marah karena dirinya tidak memberikan tanggapan tentang masalah yang sedang dihadapi oleh pria itu.
Sandra bahkan dengan terang-terangan mengabaikan lelaki itu. Sandra sendiri tidak tahu kenapa dirinya begitu susah untuk mengungkapkan semua perasaannya pada Bagas.
Sandra tidak pernah jatuh cinta selain jatuh cinta pada Sean dulu. Jadi, jangan salahkan Sandra yang terus saja meragukan perasaannya sendiri saat Bagas beberapa kali mengungkapkan perasaan cintanya.
Apa yang dirasakan oleh Sandra terhadap Bagas sangat berbeda dibandingkan saat dirinya jatuh cinta pada Sean. Perbedaan itulah yang membuat Sandra melakukan perasaannya sendiri pada Bagas.
Katakanlah Sandra bodoh dalam hal percintaan karena lelaki yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya adalah lelaki yang dulu menikahinya.
Sandra tidak pernah menjalin hubungan percintaan selama hidupnya selain dengan Sean. Pengalaman percintaannya membuat Sandra tidak bisa mengartikan perasaannya sendiri terhadap Bagas.
Sandra kembali menghubungi nomor Bagas, tetapi, masih seperti tadi. Panggilannya tersambung, tetapi, Bagas sepertinya sengaja mengabaikannya.
Saat Sandra kembali ingin menelepon Bagas, lelaki itu mengirimkan pesan padanya.
"Jangan lagi menelepon atau mengirimiku pesan. Mulai hari ini, aku tidak akan mengganggumu dan juga menemuimu lagi."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1