
Sekretaris Han selalu bisa diandalkan dalam segala hal. Begitulah, seperti yang bisa dilihat hari ini di halaman rumah utama. Kalau bukan Han, mana mungkin sampai bisa memikirkan dan merealisasikan hal tidak masuk akal seperti replika jalan raya.
Ya mungkin dia terinspirasi dari permainan barby anak-anak, atau malah permainan bongkar pasang yang keberadaannya sudah nyaris punah sekarang ini.
Bagaimana dengan para penghuni rumah utama, apakah tidak ada yang tertarik untuk melihat ini semua, tentu saja mereka sangat antusias untuk melihat Tuan Saga menyetir mobil sendiri. Namun, mereka mendapat larangan untuk keluar dan menonton secara langsung.
"Kalau semuanya turun tuan muda pasti akan merasa canggung, jadi saya harap kalian semua tidak ikut ke luar ke halaman rumah saat akhir pekan ini." Kata pengharapan Han diucapkan dengan tegas seperti larangan. "Silahkan menonton di jendela kamar kalian masing-masing." Setelah mengatakan itu, tanpa memberi kesempatan tanya jawab Han pergi begitu saja.
Ini semua demi tuan muda mendapat pengalaman yang tidak terlupakan begitu Han menjelaskan pada penghuni rumah utama. Kalau orang-orang menonton berderet-deret di halaman rumah, semuanya akan terlihat dibuat-buat. Ya, padahal replika jalan saja itu sebenarnya sebuah keanehan. Tapi bagi Han itu bukan aneh, itu adalah usahanya merealisasikan keinginan Tuan Saga. Dan tidak ada yang aneh jika itu untuk Tuan Saga.
Jadi sekarang, para penghuni rumah utama menonton dari jendela kamar masing-masing. Jen berisik membangunkan Amera saat melihat Aran turun dari mobil Sekretaris Han tadi. Walaupun dengan bola mata masih mengerjap, Amera turun dari tempat tidur. Melihat saingannya yang sudah sukses menikah dengan orang yang dia cintai. Ibu bahkan ikut menonton di tepi jendela. Begitulah kondisi yang sebenarnya orang-orang di rumah utama.
Sekarang kita kembali ke halaman rumah. Meninggalkan para penghuni rumah utama.
Aran sedang bicara dengan Nona Daniah, selama Han sedang melakukan persiapan dengan Tuan Saga.
"Aran, aku tahu kau ingin tertawa. Aku bahkan sudah memohon padanya untuk tidak melakukan ini." Aran tidak bisa membayangkan bagaimana percakapan Tuan Saga dan Nona Daniah saat itu, tapi jujur dia memang menahan tawa sekarang. "Padahal aku bilang tidak usah membuat replika jalan segala, cukup menyetir. Tapi dia bilang Han sudah membuatnya, supaya terlihat nyata kalau dia sedang berkendara di jalan raya."
Ah, jadi yang lebih tidak waras sepertinya kakak ya.
Mau tidak mau Aran mengakui itu, semua ini ide suaminya. Tidak, ini bukan tidak waras, ini adalah keistimewaan Sekretaris Han yang selama ini dikagumi Aran. Sosok sekretaris Tuan Saga yang bisa melakukan apa pun untuk Tuan yang dia layani.
"Nona coba lihat." Aran menunjuk mobil yang sedang melaju, berhenti di lampu merah. "Paling tidak Tuan Saga tahu rambu lalu lintas." Daniah tergelak sambil memukul bahu Aran. Mereka berdua tertawa bersama menikmati satu putaran kendaraan yang melaju dibawah kendali Tuan Saga. "Tuan Saga sudah sangat bekerja keras Nona." Walaupun jujur, Aran masih geli dan ingin tertawa.
Mobil yang dikendarai Tuan Saga berhenti, tidak jauh dari kedua gadis itu berdiri. Kaca mobil diturunkan, lalu sang sopir melambaikan tangan sambil memanggil nama Daniah. Aran melirik nona di sebelahnya, sepertinya nona ikut seru-seruan juga. Dia tertawa sambil melambaikan tangan. Setelah adegan saling melambaikan tangan mobil berdecit menepi.
Tuan Saga turun dari mobil, berjalan menghampiri istrinya. Aran menggeser tubuhnya menjauh, dia tidak mau menggangu jalannya udara di sekeliling Tuan Saga. Tapi dia memperhatikan semua itu dengan seksama. Tidak ada yang luput dari pandangannya.
Kalau aku meliputnya, kejadian seharian ini bisa menimbulkan kehebohan di internet. Ah, kalau saja boleh. Rasanya sayang sekali hal-hal manis seperti ini hanya diketahui segelintir orang saja.
Nona Daniah sudah menggendong Erina, saat Tuan Saga mendekat dan memberikan kecupan manis di pipi istrinya.
"Ayo naiklah, aku akan menunjukkan kemampuan menyetir ku padamu dan Erina." Tuan Saga menoel pipi Daniah dan Erina bergantian.
"Ia sayang, ia, aku percaya kok, kemampuan menyetirmu luar biasa. Ayo Erin sayang, kita naik mobil bersama ayah."
Daniah pun terlihat sangat hebat, dia bisa mengikuti adegan-adegan dengan natural. Sepertinya dia ikut berakting supaya semua menjadi semakin sempurna.
Keduanya berjalan menuju mobil, Saat Daniah menunduk masuk tangan Saga menempel di atas kepalanya. Melindungi kepala Daniah terkantuk pintu. Han berdiri tidak jauh dari mobil, dia menundukkan kepala saat Saga mengibaskan tangannya.
Kejadian di dalam mobil yang hanya bisa ditonton Aran dari kejauhan.
__ADS_1
"Sayang, ayo berdoa dulu."
"Kenapa? Kau tidak percaya padaku?" Sang suami sedikit tersinggung ketika Daniah mengajaknya berdoa.
"Bukan begitu sayang, berdoa sebelum melakukan perjalanan supaya perjalanan kita selamat sampai tujuan. Bukan karena aku tidak percaya padamu." Padahal ya, tingkat kepercayaan Daniah memang tidak sampai di angka 100 persen.
Mendengar penjelasan itu Tuan Saga sudah bisa tersenyum. Lalu dia memimpin doa dan diamini istrinya.
Saga menjentikkan jemarinya di kemudi setelah berdoa. Lalu menyetel musik lagu anak-anak yang sering di putar di kamar Erina.
Bayi kecil dalam pelukan Daniah tidak tertidur, dia bangun. Bola matanya menatap ayahnya dengan antusias. Seperti tahu ayahnya sudah bekerja keras, dia menatap ayahnya dengan penuh cinta memberi semangat.
"Erin sudah siap? kita berangkat ya." Saga menoel dagu istrinya. Tetep, yang ditoel istrinya bukan anaknya. "Niah, biasanya aku tidak suka suasana berisik di dalam mobil, tapi karena Erina, aku memutar musik dan." Memutar Dagu Daniah untuk melihat ke arahnya. "Cium aku dulu Niah, sebelum kita berangkat." Meminta suplai energi supaya perjalanan lancar.
Sumpah, banyak sekali dramanya Tuan Saga. Padahal cuma mau berkeliling pelataran rumah, lalu piknik di taman ðŸ¤
Hah! Ada saja mau mu ini sayang, begitu yang dipikirkan di kepala Daniah. Tapi kalau tidak dituruti, bisa-bisa mobil nggak jalan-jalan. Sedangkan para figuran sudah dari tadi mondar mandir seperti orang nggak punya pekerjaan.
"Sayang, cium pipi saja ya?"
"Mobil perlu bensin, aku perlu tenaga untuk menyetir." Serius sekali Saga bicara, seperti yang dia katakan itu adalah fakta dan kebenaran.
Daniah tergelak dengan nada serius suara Saga. Dia menarik baju Saga, membuat tubuh dan kepala Saga mendekat ke arahnya. Tubuh merek merapat, Erina malah tertawa melihat kedua orangtuanya berciuman.
"Aku mencintai kalian berdua." Saga merangkul bahu Daniah, mencium kening istrinya. Lalu mendaratkan dua kali kecupan di pipi Erina.
"Aku juga mencintaimu sayang, sekarang ayo kita berangkat."
Karena mobil Tuan Saga belum bergerak dari tempatnya, Aran sampai menunduk demi melihat ada kejadian apa di dalam mobil. Dia langsung menutup mulutnya sambil menahan tawa. Sepertinya bukan hanya dia yang merasa aneh kenapa mobil Tuan Saga belum bergerak juga, orang-orang yang lain juga memicingkan mata sekilas, lalu memutar kepala setelah melihat dua orang di dalam mobil sedang melakukan apa.
Bisa-bisanya kakak tidak bergeming di tempatnya berdiri.
Sekretaris Han tetap berdiri tegak di tempatnya.
Suara mesin mobil mulai terdengar, Saga tersenyum sambil matanya naik ke atas. Melihat itu Daniah yang tergelak dengan gaya sombong suaminya. Terserahlah sayang, asalkan kau senang begitulah Daniah ikut senang melihat kebahagiaan suaminya menyetir.
Mobil melaju dengan kecepatan rendah, melewati belokan di mana ada pejalan kaki lewat. Saga membunyikan klakson, Erina tertawa. Senang mendengar bunyi klakson. Hal itu membuat Saga membunyikan klakson berulang-ulang. Para figuran agak kebingungan karena ini tidak ada di skenario. Setelah melihat isyarat dari Sekertaris Han untuk tetap berada di posisi, secara natural mereka kembali ke perannya masing-masing. Tanpa sadar yang menonton di tepi jendela ikut bertepuk tangan.
Mobil melaju lagi, masih dengan kecepatan rendah, dengan satu tangan Saga memegang kemudi. Sementara tangan satunya menggengam tangan Daniah. Ini yang katanya ingin dilakukan Daniah kan. Berpegangan tangan sambil mengemudi. Mobil berjalan sesuai dengan jalur yang dibuat Han.
Keromantisan dan kehangatan yang tercipta secara natural hanya karena sedikit sentuhan fisik. Jemari yang beradu, senyum yang terkembang bersamaan. Mereka berdua tertawa saat melihat Erina yang terlihat senang.
__ADS_1
"Menyenangkan pergi berdua bersama kalian. Niah, bagaimana denganmu. Kau suka?" Saga tersenyum, melihat istrinya dengan penuh cinta.
Rasanya dari mobil mereka keluar, Tuing, Tuing, tanda-tanda cinta, bertebaran di udara.
"Ia sayang, ini pengalaman yang luar biasa untukku." Daniah menjatuhkan kepala di lengan Saga. "Aku senang sekali, nanti bisa jadi cerita buat Erina."
Sekedar info, ada juru foto dan vidio yang merekam semua kejadian hari ini.
"Sayang, kalau nanti sesekali kita keluar rumah sungguhan ya. Pasti menyenangkan."
Deg, kenapa suasananya jadi aneh, Daniah melihat raut wajah Saga.
Mobil berhenti tiba-tiba saat Daniah selesai bicara. Han sudah berlari dari tempatnya berdiri karena mobil berhenti mendadak. Namun saat melihat tangan Saga keluar, dia menghentikan langkah.
"Kenapa sayang?"
"Niah, kau percaya dengan kemampuan menyetir ku?"
"Ia sayang."
"Sungguh percaya?"
"Ia sayang."
"Kau percaya sampai mau aku menyetir dijalan sungguhan."
"Ia sayang, aku percaya."
"Niah, kau memang Niahku. Han sialan itu bahkan tidak percaya padaku dan membuat replika jalan ini. Kemarilah, aku mau memelukmu."
Ah, kenapa aku jadi takut ya. Daniah malah jadi was-was karena Saga mengatakan Han tidak percaya dengan kemampuan Saga menyetir. Tapi mau meralat kata-katanya sudah terlambat, karena Saga senang sekali dengan kata-katanya barusan.
Mereka kembali mesra-mesraan tidak memikirkan para figuran yang kebingungan.
Akhirnya di bawah satu komando tangan Sekretaris Han, para figuran di tarik keluar, mereka sudah melakukan tugas dengan baik dan sudah tidak dibutuhkan lagi.
"Kak, sudah selesai?"
Padahal kan baru berputar dua kali, kenapa juga mobilnya berhenti lagi. Aran menutup mulutnya. Jangan bilang mereka berciuman lagi. Aaaaa, bisa-bisanya. Hah, memang ya Tuan Saga dan Nona Daniah ini. Padahal Aran juga ingin menggelayut manja di lengan suaminya.
Karena lama menunggu mobil berjalan, Aran pelan-pelan menggeser kakinya, lalu menggelayut manja di lengan suaminya.
__ADS_1
"Hehe." Aran nyengir sambil merangkul lengan lebih erat. Ingin ikut bermesraan seperti yang ada di dalam mobil.
Bersambung