
Bagas menatap Sandra yang tiba-tiba saja sudah berada dalam ruangan itu. Netranya memindai wajah cantik Sandra yang terlihat sendu. Kedua mata wanita itu berembun. Bagas melihat dengan jelas bagaimana wanita itu mengusap wajahnya dengan kasar saat air matanya turun membasahi wajah cantiknya.
Bagas merasakan sesuatu dalam hatinya. Rasa sakit tiba-tiba menjalar ke ruang hatinya. Melihat Sandra menangis, laki-laki itu merasakan sakit di hatinya.
"Jangan membual! Aku tidak mengenalmu. Bagaimana mungkin aku mengatakan padamu kalau aku mencintaimu?" Bagas menatap Sandra dengan tajam.
"Sebelum ingatanmu bermasalah, aku adalah orang yang sangat spesial di hatimu. Aku sendiri tidak tahu kenapa kamu begitu jahat. Kamu mencampakkan aku setelah kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku." Sandra membalas tatapan Bagas tak kalah tajam.
Hatinya berdenyut sakit saat dirinya tak lagi melihat tatapan penuh cinta dari manik mata cokelat milik pria itu. Sepertinya, apa yang dikatakan oleh pria itu memang benar. Lelaki yang bernama Bagas itu memang benar-benar telah melupakannya.
"Dasar tidak tahu malu! Kamu bilang, Shena adalah wanita ular yang berusaha menghancurkan hubungan kita. Tapi apa yang aku lihat sekarang?" Bagas tersenyum mencibir Sandra.
"Melihatmu seperti ini aku jadi merasa yakin, jika kamu sendirilah yang saat ini sedang berusaha merusak hubunganku dengan Shena." Kali ini kedua tangan Bagas mengepal. Lelaki itu sangat marah melihat Sandra yang terus berusaha memisahkan dirinya dengan Shena.
Mendengar ucapan Bagas, Sandra membuka mulutnya. Ia sungguh tidak percaya jika Bagas malah memutar balikan fakta.
Sandra menarik napas panjang. Sepertinya, perjuangannya untuk mendapatkan perhatian dan cintanya Bagas tidak akan mudah. Selagi pria di hadapannya itu masih mengalami amnesia, Sandra sangat yakin jika cepat atau lambat, dirinya pasti akan kehilangan Bagas.
Akan tetapi, bukankah dirinya sudah berjanji tidak akan menyerah? Kedua orang tuanya Bagas bahkan terus menyemangatinya agar terus berjuang agar bisa mendapatkan kembali cintanya Bagas.
"Bagas, mungkin saat ini kamu memang benar-benar melupakan aku. Tapi aku ... aku tidak akan pernah melupakanmu begitu saja, brengsek!" Sandra menatap Bagas yang terlihat terkejut mendengar ucapannya.
"Apa kamu tahu? Aku sudah susah payah melupakan kesalahan besar yang telah kamu perbuat padaku. Aku juga sudah mengakui semua perasaanku padamu. Tapi kenapa kamu masih tidak mengingatku?" Sandra menatap laki-laki di hadapannya itu dengan marah.
"Ingat, Bagas! Jika suatu saat ingatanmu kembali, aku pastikan kamu akan berjuang lebih dari ini untuk mendapatkan aku lagi!" Sandra mendekati Bagas dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Saat waktu itu tiba, aku pastikan, kalau kamu hanya akan melihatku seorang. Melihatku seorang, Bagas!" Sandra menatap wajah Bagas yang saat ini begitu dekat dengannya.
Setelah puas menatap wajah lelaki yang hanya terdiam menatapnya itu, Sandra kemudian bergegas pergi dari hadapan Bagas. Sandra bahkan hanya menundukkan kepala sebentar di hadapan Liana dan Bimantara. Mulutnya tidak lagi bisa berkata-kata apa-apa karena air mata yang terus mendesak keluar.
Sementara itu, Bagas menatap kepergian Sandra dengan berbagai pertanyaan yang tersimpan dalam benaknya.
Benarkah Sandra adalah wanita yang sangat dicintainya? Benarkah wanita itu yang selama ini menjadi kekasihnya? Kalau memang Sandra adalah wanita yang sangat dicintainya, lalu siapa Shena? Kenapa hanya wanita itu yang diingatnya?
Bagas memegangi kepalanya yang terasa berdenyut saat semua kalimat yang diucapkan oleh Sandra beberapa saat lalu kembali terngiang di telinganya.
Bayangan-bayangan wajah seorang perempuan yang terlihat samar melintas di kepalanya.
"Lihat aku seorang."
***
Setelah hari itu, Sandra memutuskan untuk tidak menemui Bagas lagi. Bukan karena dirinya menyerah. Ia hanya ingin menenangkan diri. Meredam rasa sakit dan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Sama seperti saat Bagas juga ingin menenangkan diri setelah ditolak oleh Sandra waktu itu.
"Kamu sungguh curang, Bagas. Kamu membalasku dengan balasan yang lebih sakit."
"Dasar pria brengsek!"
"Sialan!"
__ADS_1
"Kalau tahu akhirnya akan seperti ini, aku pasti tidak akan membuka hatimu untukmu!"
Sandra berteriak memaki Bagas. Makian yang sama seperti saat dirinya baru bertemu dengan Bagas saat itu.
Sandra terus memaki sambil memukuli bantal yang saat ini ada di hadapannya. Perempuan berwajah sembab itu meluapkan amarahnya dengan memukuli bantal dan membayangkan bantal itu adalah wajah tampan Bagas yang begitu menyebalkan.
"Sialan!"
"Brengsek!"
"Tukang PHP!"
"Awas saja jika ingatanmu pulih. Aku pasti akan membalasmu!"
Sandra terus berteriak. Wanita itu terus memukuli bantal yang tak bersalah itu. Napasnya memburu. Naik turun seiring emosi yang menguasai hatinya.
Sudah dua minggu sejak hari itu, Sandra memilih mengurung diri di kamar untuk menenangkan pikiran. Sandra bahkan menolak untuk berbicara pada siapapun termasuk Anisa dan Kanaya.
Untuk kesekian kalinya, ponsel miliknya yang berada di atas nakas itu berdering. Mendengar suara dering ponsel yang tak kunjung berhenti membuat amarah Sandra semakin naik.
Sialan!
"Halo, Sandra. Aku Shena. Jangan lupa datang ke pernikahan aku dengan Bagas ya?"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1