
Sandra mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Wanita itu baru saja pulang setelah pertemuannya dengan Anisa. Beberapa jam bercengkrama, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Sebenarnya Sandra belum puas melepas rindu dengan Anisa, tetapi, mantan asistennya itu tiba-tiba mendapatkan telepon dari keluarganya untuk segera pulang.
"Seharusnya aku mengajaknya menginap di sini agar aku bisa mengalihkan pikiranku dari pria brengsek itu," gerutu Sandra kesal.
Pertemuannya dengan Anisa membuatnya melupakan sejenak rasa galau di hatinya. Galau karena pikirannya hanya tertuju pada seseorang yang mengiriminya foto semalam.
Sandra kembali mengacak-acak rambutnya dengan kesal ketika bayangan pria itu terus menari-nari di kepalanya. Bukan hanya itu, suara Bagas juga sedari tadi terngiang si telinganya.
Sepertinya aku memang sudah gila. Kenapa pikiranku terus saja tertuju pada pria brengsek itu?
Sandra kembali mengacak-acak rambutnya. Merasa kesal dengan dirinya sendiri karena otaknya terus tertuju pada pria itu.
Perempuan itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Mencoba memejamkan mata, mengusir wajah tampan Bagas yang kembali menari-nari di kepalanya.
Tangan Sandra memukul kepalanya sendiri saat senyum Bagas terlintas.
Sandra berteriak kesal. "Kenapa kamu terus saja muncul di kepalaku?" Sandra terlihat frustasi.
Dering suara ponsel menyapa pendengarannya. Tanpa melihat siapa si pemanggil, Sandra langsung mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo, Sayang ...." Suara lembut yang terdengar di ujung telepon membuat Sandra seketika menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Wanita itu menatap layar ponselnya.
__ADS_1
Dia?
Sandra menutup mulutnya. Perempuan itu sungguh tidak menyangka, Lelaki yang sedari tadi merusak moodnya justru menelepon. Entah bagaimana perasaannya saat ini, yang jelas, sebuah senyuman terukir pada wajah cantiknya.
"Ada apa lagi? Memangnya kamu belum puas semalam sudah meneleponku sampai pagi? Aku bahkan tidak bisa beristirahat dengan benar karena kamu!"
Bagas terkekeh mendengar ucapan Sandra.
"Maaf, Sayang, abisnya aku kangen. Makanya aku menelepon," ucap Bagas tanpa dosa.
"Aku hanya ingin mendengar suaramu, agar aku bersemangat untuk bekerja lembur malam ini. Aku ingin mempercepat pekerjaanku agar aku bisa segera pulang untuk bertemu denganmu," lanjut Bagas saat tak terdengar jawaban di ujung sana.
Sandra terdiam mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Bagas. Marah dan kesal karena pria tidak tahu malu itu seenaknya saja memanggil sayang padahal di antara mereka tidak ada hubungan apapun.
Jangankan hubungan sepasang kekasih, teman saja bukan. Musuh iya.
"Sayang ...." Suara Bagas kembali menyapa. Entah kenapa, suara itu terdengar lembut menyapa pendengaran Sandra. Rasa kesal yang sedari tadi dirasakan olehnya seketika menghilang membuat perempuan itu seperti orang linglung.
"Sayang, aku benar-benar merindukanmu. Aku tidak akan menutup panggilan teleponku jika kamu tetap tidak mau bersuara." Bagas masih belum menyerah. Rasa rindunya pada perempuan itu membuat Bagas memaksa menelepon Sandra padahal saat ini dia sedang sibuk dengan tumpukan berkas di atas meja kerjanya.
"Kalau kamu memang mau kerja, tinggal kerja saja, kenapa kamu harus menggangguku? Aku tidak ada hubungannya dengan pekerjaanmu, Brengsek!"
"Sayang ...." Suara Bagas begitu lembut membuat Sandra sesaat linglung dengan dada berdebar. Detak jantungnya berdetak dengan kencang.
__ADS_1
Pria brengsek itu bukannya marah karena Sandra memakinya, tetapi justru memanggilnya dengan lembut. Sandra terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku mencintaimu." Sandra hampir saja menjatuhkan ponselnya saat kalimat itu terdengar di ujung sana.
"Baiklah, kalau kamu tidak ingin bicara denganku juga tidak apa-apa. Terima kasih sudah mendengarkan aku bicara. Aku kerja dulu ya." Bagas kembali bicara, tetapi, Sandra tetap mengabaikannya.
"Aku mencintaimu. Doakan aku agar semua pekerjaanku lancar, biar aku bisa segera menemuimu." Bagas mengakhiri panggilan teleponnya. Namun, sebelum panggilan telepon itu benar-benar berakhir, Bagas memberikan ciuman jarak jauh untuk Sandra.
"I love u, Sayang, mmuuaach!"
Tut!
Panggilan berakhir. Wajah Sandra merona dengan senyum menghias wajah cantiknya. Perempuan itu menatap layar ponselnya yang menggelap.
"I love u too." Sandra memukul mulutnya.
Sepertinya, aku memang benar-benar sudah gila!
BERSAMBUNG ....
Maafkan Author baru sempat update hari ini 🙏
Sambil nunggu update, kepoin cerita milik temen Author yuk! Dijamin bikin penasaran deh!
__ADS_1