Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
RENCANA PERNIKAHAN


__ADS_3

"Sandra!"


Sandra menoleh ke arah suara. Terlihat Anisa dan Bimo berjalan dengan tergesa menghampiri mereka.


"Kenapa dia bisa ada di sini?" Anisa dengan kesal menatap ke arah Shena. Begitupun dengan Bimo.


" Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba dia masuk ke ruangan Bagas." Sandra mendengus kesal.


"Apa kamu yang memerintahkan para penjaga itu pergi dari sini? Kenapa mereka tidak terlihat satupun? Kalau mereka ada di sini, wanita ular ini tidak akan mungkin bisa masuk ke ruangan Bagas." Anisa menatap suaminya dengan kesal.


"Aku menyuruh mereka pergi karena aku pikir dia tidak akan berani lagi datang ke sini." Bukan hanya Anisa, Bimo pun merasa kesal karena melihat Shena ada di sana. Namun, selain Shena, ada Sean juga di sana.


Laki-laki itu terlihat sedang marah.


"Kamu menyuruh penjaga pergi dari sini sementara kamu sangat tahu kalau wanita berbahaya ini bisa kapan saja beraksi." Sean menatap Bimo tajam.


"Apa kamu tahu, dia hampir saja melukai Sandra."


"Apa?" Anisa dan Bimo berucap bersamaan.


"Tidak usah melebih-lebihkan. Aku bahkan tidak melakukan apapun." Shena berucap dengan angkuh. Menatap satu-persatu orang-orang di hadapannya.


"Buatmu mungkin berlebihan. Tapi, tidak buatku. Sedikit saja kau menyentuh Sandra, aku tidak akan segan-segan menghabisimu!" Tatapan mata Sean tajam menatap Shena. Untuk beberapa saat, Shena membeku. Ia sungguh tidak menyangka ada seseorang yang begitu memperhatikan Sandra sama seperti Bagas.

__ADS_1


Shena sangat iri karena Sandra dikelilingi oleh pria-pria tampan dan hebat. Entah apa kelebihan Sandra hingga membuat wanita itu terlihat begitu menarik di mata semua pria.


"Sebaiknya kau cepat pergi dari sini, Shena." Bimo menatap wanita itu dengan penuh amarah. Hari ini dirinya gagal menghalangi wanita itu bertemu Bagas.


"Aku tidak akan pergi dari sini kecuali Bagas yang mengusirku," ucap Shena penuh percaya diri. Ia yakin, kalau Bagas pasti akan menurutinya. Apalagi, saat ini Bagas hanya mengenalinya saja.


"Aku tidak peduli, yang jelas, kamu harus segera pergi dari sini!" Bimo kembali memperingati Shena.


"Aku tidak akan pergi!"


"Shena, sebaiknya kamu jangan macam-macam. Aku akan–"


Suara pintu ruangan terbuka. Dokter Reza keluar bersama dua orang perawat yang bersamanya.


"Apa di sini ada yang bernama Shena?"


"Saya, Dokter." Shena tersenyum manis. Netranya menatap remeh ke arah Bimo.


"Pasien ingin sekali bertemu dengan Anda." Dokter Reza tersenyum menatap Shena.


"Saya tidak menyangka, amnesia pasien ternyata tidak berlaku untuk kekasihnya." Dokter Reza kembali tersenyum membuat senyum Shena semakin mengembang. Ia tahu siapa kekasih yang dimaksud Dokter Reza.


"Apa maksud, Dokter?" Bimo menatap dokter di depannya dengan penasaran.

__ADS_1


"Pak Bagas mengenali Nona Shena, kekasihnya."


"Apa?" Kedua mata Bimo membela.


"Pasien mengingat kekasihnya. Ini adalah satu hal yang cukup Bagus. Pak Bagas tidak mengenali semua orang termasuk kedua orang tuanya. Tapi, dia mengingat Nona Shena dengan baik. Pak Bagas bahkan mengatakan pada saya jika sebenarnya dia dan Nona Shena akan segera menikah. Dia mengatakan kalau kecelakaan terjadi saat dia ingin menuju rumah Shena untuk melakukan lamaran," jelas Dokter Reza panjang lebar.


Shena tersenyum penuh kemenangan. Sementara Bimo dan Anisa juga Sean merasa terkejut. Sedangkan Sandra menepuk dadanya berkali-kali berharap rasa sesak yang ia rasakan saat ini sedikit berkurang.


Apa Bagas benar-benar melupakannya? Atau jangan-jangan, wanita yang dia cintai itu memang Shena bukan dirinya? Jika benar Bagas mencintainya, kenapa wanita yang dia ingat justru Shena, wanita yang mati-matian Bagas tolak?


"Dokter, Shena bukanlah kekasih Bagas. Wanita itu adalah wanita yang telah membuat Bagas celaka," ucap Anisa kesal. Ia sungguh tidak terima mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut dokter yang memeriksa Bagas.


"Aku tidak mencelakai Bagas. Kecelakaan itu murni karena Bagas yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi!"


"Jika kau tidak mengancam Bagas untuk mencelakai Sandra, Bagas tidak akan melakukan hal gila yang jelas-jelas bisa membuatnya kehilangan nyawa, Shena. Dasar perempuan brengsek!" Anisa mengepalkan tinjunya.


Dokter Reza dan kedua perawat itu menatap perdebatan orang-orang di hadapannya tanpa berkomentar apa-apa. Namun, ucapan dari salah satu perawat yang berada di di belakang dokter Reza langsung menghentikan perdebatan mereka.


"Pak Bagas meminta kalian semua pergi dari sini kecuali Nona Shena. Pak Bagas mengatakan, dia ingin bersama Nona Shena karena ingin membahas tentang rencana pernikahan mereka."


BERSAMBUNG ....


"

__ADS_1


__ADS_2