
Sandra mengerucutkan bibir seksinya saat ia membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
"Mau ngapain kamu ke sini?"
"Mau ketemu calon istri. Memangnya nggak boleh?" Bagas tersenyum manis membuat jantung Sandra dag-dig-dug. Berdekatan dengan Bagas lama-lama membuat kinerja jantung Sandra tidak aman.
Entah sejak kapan, yang jelas, Sandra saat ini bak remaja yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya. Wajahnya yang bersemu merah ia sembunyikan dengan menundukkan kepala. Namun, berapa detik berikutnya ia kembali menatap lelaki di hadapannya itu.
"Siapa yang kamu sebut calon istri?" Sandra menatap pria dengan kesal.
"Ya, kamulah! Memangnya siapa lagi?" Bagas menerobos masuk ke dalam rumah tanpa menunggu persetujuan Sandra.
"Sejak kapan aku menjadi calon istrimu? Jangan ngarang deh! Lagian pede banget sih, ngaku-ngaku calon suamiku," ucap Sandra kesal. Namun, di dalam hatinya menghangat. Sandra tidak menampik kalau saat ini dirinya merasa tersanjung dengan ucapan Bagas.
Mendengar ucapan Sandra, Bagas berdecak kesal. Lelaki itu kemudian meraih tangan Sandra, menghadapkan wajah wanita itu agar menatapnya.
"Sayang, bisa nggak sih, kamu bilang iya saja? Memangnya susah ya, nerima aku? Jangan buat aku makin tersiksa, San, aku mohon." Bagas menatap wanita itu penuh permohonan.
__ADS_1
"Aku ... aku hanya takut kamu menyesal. Aku bukanlah orang baik seperti yang kamu pikirkan. Kamu belum mengenalku dengan baik, Bagas."
"Aku tidak peduli. Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak peduli dengan masa lalumu? Aku hanya ingin kamu, Sandra. Sekarang dan sampai nanti. Aku mohon." Bagas berusaha meyakinkan Sandra. Entah dengan cara apalagi dirinya meyakinkan wanita itu.
Bagas yakin sebenarnya Sandra pun mempunyai perasaan yang sama terhadapnya. Hanya saja, wanita itu terlalu gengsi mengakuinya.
Sandra menghela napas panjang. Wanita itu mempersilakan Bagas duduk. Sandra sungguh tidak tahu mau menjawab apa. Dirinya ingin mengakui perasaannya, tetapi, ia merasa tidak yakin kalau apa yang dirasakannya adalah cinta.
"Aku akan mengambilkan minum untukmu. Tunggu sebentar." Sandra melangkah menuju dapur. Sang asisten rumah tangganya baru saja pergi keluar untuk berbelanja kebutuhan rumah. Jadi, mau tidak mau, Sandra sendirilah yang harus membuatkan minuman untuk Bagas.
"Sepertinya kamu sudah hapal minuman kesukaanku." Bagas menghampiri Sandra. Mengunci tubuh perempuan itu dari belakang.
"Jangan macam-macam," peringat Sandra saat tubuh lelaki itu berdiri di belakangnya. Hembusan napas Bagas bahkan terasa menerpa belakang telinganya.
"Aku tidak macam-macam. Aku hanya sedang memperhatikan calon istriku membuatkan minuman untukku."
"Tidak usah lebay!"
__ADS_1
"Siapa yang lebay? 'Kan emang kenyataannya begitu." Bagas meletakkan dagunya pada bahu Sandra.
Pria itu mengembuskan napasnya, membuat Sandra menghentikan aktivitasnya saat hembusan napas Bagas menerpa lehernya.
Sandra merasa dejavu. Dulu, dia pernah dan terbiasa dengan posisi seperti itu. Berada di dapur, membuatkan minuman dan seseorang yang berdiri di belakangnya sambil memeluk hangat. Bayangan wajah Sean terlintas saat sebaris kenangan itu berputar di kepalanya.
"Dulu aku pernah dalam posisi seperti ini saat bersama Sean. Aku pikir, hanya Sean lah yang akan tetap memelukku seperti ini sampai seumur hidup. Namun, tidak disangka kalau aku saat ini berada di posisi yang sama, tetapi dengan lelaki yang berbeda." Sandra berucap dalam hati.
"Aku hanya ingin menikah denganmu, tidak dengan orang lain. Apalagi Shena. Gadis itu benar-benar membuatku kesal." Suara Bagas terdengar kesal.
"Kenapa kamu tidak mau bersama Shena? Bukankah dia gadis yang cantik?"
"Aku tidak peduli. Bagiku, tidak ada yang lebih cantik darimu." Tangan Bagas yang awalnya berada di samping, langsung berpindah memeluk perempuan itu.
"Sayang, bisakah kamu mendengarkan aku kali ini saja? Aku sungguh-sungguh tidak ingin bersamanya. Aku hanya ingin bersamamu. Aku tidak ingin menikah dengan siapapun kecuali menikah denganmu."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1