
"Sean?" Sandra dan Kanaya berucap bersamaan.
Sean menatap kedua wanita cantik di hadapannya. Kedua wanita yang sama-sama menjadi istrinya. Dulu. Sebelum Sandra akhirnya menyerah dan memilih berpisah dengannya.
Kedua netra Sean menatap Sandra dengan penuh rindu. Rindu yang tak lagi sama seperti dulu. Kini, rindu itu hanya Sean rasakan sebatas seorang teman saja. Bukan rindu pada seseorang yang spesial di hatinya.
Cinta yang pernah begitu besar bertakhta di hatinya sudah tidak lagi terasa getarannya saat bertemu dengan wanita itu. Wanita yang pernah membuatnya melakukan segalanya untuk memenuhi ambisinya.
"Siapa yang jatuh cinta padamu saat di rumah sakit?" Sean kembali mengulangi pertanyaannya.
"Apaan sih dia, datang-datang kepo!" Sandra memutar bola matanya. Entah kenapa hatinya sedikit bergetar saat kedua matanya bertemu pandang dengan kedua mata Sean.
Ah! Bukankah rasa cinta itu sudah hilang bertahun-tahun lalu? Kenapa hanya dengan melihatnya saja hatinya bergetar?
Sadar, Sandra. Kamu sudah melangkah jauh untuk melupakannya. Kamu juga sudah bertahun-tahun berkorban untuk melupakannya. Jangan jadikan pengorbananmu itu sia-sia Sandra.
Sandra mencoba menyakinkan dirinya.
"Hai, Bee. Maaf menunggu lama." Mendengar jawaban Sandra, Sean mendekati Kanaya kemudian mengecup pipi perempuan itu secara bergantian.
"Heh, Sean! Apa kamu pikir aku akan merasa cemburu melihatmu bermesraan dengan istrimu?" Sandra masih menatap Sean dengan sengit.
Semenjak perpisahannya dengan Sean, Sandra memang memutuskan untuk memusuhi pria itu. Bukan memusuhi dalam arti sesungguhnya. Akan tetapi, Sandra hanya sedang mendirikan benteng yang cukup tinggi untuk melindungi hatinya.
Sandra sangat sadar, saat dirinya masih berstatus sebagai istri Sean, cinta pria itu sudah terbagi. Sean tidak lagi mencintainya sepenuh hati. Pria itu mencintai sahabatnya. Sahabat yang ia jadikan madu dalam pernikahannya secara sadar.
Sahabat yang ternyata adalah cinta masa lalu dari Sean sebelum pria itu akhirnya memilihnya dan menjadikannya sebagai seorang istri.
"Siapa yang ingin membuatmu cemburu? Bukankah, kamu juga sudah tidak mencintaiku lagi? Lagipula, seharusnya kamu masih ingat bagaimana cara aku memperlakukan istriku bukan?" Sean menatap Sandra yang menatapnya dengan jengah. Sementara Kanaya terkikik geli.
Semenjak mereka berdua berpisah, Sean dan Sandra memang seringkali berdebat. Setiap kali Kanaya menelepon Sandra, Sean pasti akan bergabung dan akhirnya memperdebatkan sesuatu yang tidak penting.
Namun, Kanaya sangat bersyukur karena dibalik kisah yang sudah mereka bertiga alami, Sandra dan Sean masih mau berteman.
Kanaya sangat tahu, semuanya tidak mudah untuk Sandra. Perempuan itu melepaskan orang yang sangat dicintainya demi dirinya dan Nathan, juga demi Sean yang perlahan mulai mencintainya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Sandra. Siapa pria itu? Siapa pria yang mengatakan jatuh cinta padamu saat di rumah sakit?" Sean masih sangat penasaran dengan pembicaraan Sandra dan Kanaya tadi.
Sandra berdecak kesal. "Kenapa kamu ingin sekali tahu tentang pria itu?"
"Aku hanya ingin memastikan kalau pria itu pria yang baik. Orang seperti kamu itu harus mendapatkan orang yang baik. Bahkan kalau bisa, orang yang jauh lebih baik dari aku. Iya, 'kan, Bee?" Sean menatap ke arah istrinya dengan penuh cinta.
__ADS_1
Kanaya mengangguk. Menyetujui apa yang dikatakan oleh suaminya. Sandra adalah orang baik, terlepas dari keegoisan yang dulu pernah dia lakukan.
"Kenapa sekarang kamu mengurusi hidupku? Mau seperti apa pria yang bersamaku nantinya, itu tidak ada hubungannya denganmu. Naya! Kenapa kamu juga ikut-ikutan menyebalkan seperti dia?" Sandra menatap sepasang suami istri itu dengan kesal.
Sementara yang ditatap justru tertawa melihat kekesalan Sandra.
"Kalian berdua benar-benar menyebalkan!" Sandra meraih gelas berisi jus di depannya. Meminumnya hingga tandas. Sementara itu, kedua orang di depannya masih terlihat tertawa.
"Aku bukannya mau ikut campur urusan kamu, Sandra. Aku hanya ingin tahu, seperti apa pria yang akan bersamamu kelak. Jangan sampai kamu salah memilih," ucap Sean dengan serius.
"Aku dan Kanaya hanya ingin yang terbaik buat kamu, Sandra." Sean kembali berucap. Sedangkan Sandra hanya menatap datar pada pria itu. Namun, dalam hati ia sangat bersyukur karena Sean dan Kanaya masih mau memperhatikannya setelah semua yang pernah ia lakukan di masa lalu.
"Kenapa kamu memutuskan kembali di saat karirmu sedang memuncak? Bukankah, itu sama saja kamu melepaskan impianmu selama ini?"
BERSAMBUNG ....
Mampir juga di karya punya temen Author yuk! Dijamin nggak kalah keren deh!
JUDUL: LOST LOVE
NAPEN: SUSANTI 31
Samuel tersungkur ke tanah karena pukulan keras dari seseorang. Bisa saja laki-laki berusia 17 tahun itu melawan, tapi dia urungkan karena merasa dirinya bersalah.
"Bangun lo sialan! Dasar pengecut!" bentak laki-laki berusia 22 tahun.
"Gue ngaku salah karena ingkar janji, tapi gue jamin bakal jaga dia dan nggak buat dia sakit hati!" ucap Samuel lantang berusaha berdiri walau kakinya sudah tidak bisa menopang tubuhnya.
"Halah omong kosong. Kalimat lo udah gue dengar beberapa bulan yang lalu ... cuih!" Sagara meludah tepat si samping kaki samuel.
Sagara kembali menarik kerah baju Samuel cukup kuat. "Kalau sampai lo buat pipi adek gue tersentuh satu tetas air mata, maka lo, geng lo dan seluruh orang-orang yang lo sayang, mati ditangan gue!" ucap Sagara penuh ancaman, setelah itu melepaskan kerah baju Samuel.
Laki-laki berwajah datar dan dingin itu mengusap darah di sudur bibirnya. "Ini semua karena salah lo!" geram Samuel.
***
Suara deruman motor saling bersahut-sahutan memecahkan kesunyian malam. Geng motor kurang lebih 200 anggota itu terus melaju dengan kecepatan sedang menguasai jalan.
Jam 12 malam, waktunya semua orang tidur tapi tidak dengan mereka yang baru saja pulang dari balapan liar.
__ADS_1
"Avegas jaya-jaya-jaya!" teriak sang ketua yang berada paling depan.
Lagi dan lagi Avegas memenangkan pertandingan melawan Wiltar yang sama sekali tidak ada apa-apanya.
"Avegas pasti bisa!" sahut para anggota membuat kesunyian malam semakin pecah.
Samuel yang berada di barisan paling belakang segera menambah kecepatan motornya. Perisai Avegas tersebut mensejajarkan motornya dengan sang ketua.
"Gue balik dulu, nggak ikut pesta!" teriak Samuel.
"Kemana lo? Ngebucin lagi?" ledek Rayhan salah satu inti Avegas.
"Hati-hati!" sahut Azka sang ketua tanpa bertanya lebih lanjut lagi.
Mendapat pesersetujuan dari ketuanya, Samuel memisahkan diri dari teman-teman yang lain. Putar arah menuju mansion.
Samuel baru saja mendapat telpon dari wanita yang sangat dia cintai. Samuel tahu itu tanpa melihat siapa pemanggil karena memang dia memasang nada dering yang berbeda. Ya seselektif itulah perisai Avegas mengatur hidupnya.
Tidak ingin menganggu penghuni mansion, Samuel mamatikan motornya setelah memasuki gerbang pertama, kemudian mendorong hingga mencapai gerbang kedua mansion milik keluarga Adhitama.
Setelah menyimpan motor dengan aman, dia berniat akan memanjat tembok menuju kamar, namun gagal ketika mendengar deheman seorang wanita.
"Ekhem."
Samuel berbalik seraya mengaruk tengkuknya. "El baru balik Mam." Samuel mencium punggung tangan wanita yang sejak tadi menelponnya.
"Papi kamu belum pulang, jadi masuklah lewat pintu utama. Malam ini mami maafkan kamu!" ucap Fany mami Samuel sebelum pergi.
Samuel menghembuskan nafas panjang, segera berjalan memasuki mansion mewah dengan minim pencayaan, mungkin karena sudah sangat larut.
Dia merebahkan tubuhnya tanpa menganti baju lebih dulu, memejamkan mata sejenak hingga sudut bibirnya terangkat.
Bayangan saat bertemu gadis pujaanya sejak dulu mulai terbayang-bayang di ingatan Samuel. Senyuman dan segala tingkah Sasa membekas di hatinya.
Siapa yang mengira, perisai Avegas yang ditakuti banyak orang. Laki-laki dingin, wajah datar dan tatapan tajam selalu menyertai jika menatap seseorang jatuh cinta pada seorang gadis yang bahkan sangat sulit dia dapatkan karena mempunyai kakak yang sangat posesif.
"Lo benar-benar gemesin Ca," gumam Samuel tanpa membuka matanya lebih dulu.
Selain bertemu Sasa tadi, Samuel juga bertemu Sagara kakak dari gadis yang Samuel cinta.
Gue kesini mau ngomong, kalau gue suka sama adek lo, terima atau tidak gue bakal tetap suka sama dia!
__ADS_1
Itulah yang Samuel katakan tanpa rasa sopan pada Sagara.
Jangan lupa mampir di cerita baru otor. Otor tunggu kedatangan kalian, sampai jumpa🤗