
"Aku tidak ingin pulang sekarang, Ma. Aku juga tidak mau melamar dia."
"Bagas!" teriak Liana kesal.
"Mama tidak mau tahu, kamu harus tetap melamar Shena besok. Kita sudah berjanji pada keluarga mereka, Bagas. Mau ditaruh di mana muka mama dan papa kalau kamu tiba-tiba mengingkari janji untuk melamar Shena?" Liana sungguh merasa kesal dengan sikap putranya.
"Aku tidak mencintai Shena, Ma. Aku mencintai Sandra. Hanya dia wanita yang aku cintai di dunia ini. Lagipula, lamaran itu 'kan mama dan papa yang mau bukan aku."
"Sandra lagi, Sandra lagi! Mama muak mendengar alasan kamu, Bagas. Kalau wanita itu benar-benar mencintai kamu, kamu pasti sudah mendapatkannya dari dulu. Tapi nyatanya apa? Perempuan itu tidak pernah mencintai kamu bukan?" Liana berucap dengan geram.
Entah harus bagaimana lagi cara untuk membujuk Bagas agar menyetujui rencananya untuk menikah dengan Shena. Liana memang pernah bertemu Sandra karena Bagas pernah membawanya ke rumahnya waktu itu.
Liana mengakui, Sandra memang sangat cantik. Wanita itu juga terlihat sopan. Liana dan Bimantara juga sudah mengetahui kalau Sandra adalah perempuan yang sangat dicintai Bagas.
Mereka juga sudah tahu kalau Sandra adalah wanita yang dulu pernah dilecehkan oleh Bagas hingga membuat putra satu-satunya itu berakhir di penjara.
Akan tetapi, saat Liana tahu kalau perempuan itu menolak putranya, rasa sukanya terhadap Sandra menguap begitu saja. Liana merasa kecewa karena wanita itu hanya mempermainkan Bagas.
__ADS_1
"Aku mencintai Sandra, Ma. Aku yakin, Sandra juga sangat mencintaiku. Aku hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membawa Sandra ke rumah untuk bertemu dengan mama dan papa." Bagas mencoba menjelaskan. Dirinya sungguh sangat khawatir seandainya mama dan papanya tetap bersikeras untuk menjodohkannya dengan Shena.
"Mama tidak peduli, pokoknya kamu harus menikah dengan Shena, titik!"
"Ma! Aku tidak mencintai Shena. Aku bahkan muak melihat sikapnya yang begitu manja. Wanita seperti dia tidak cocok menjadi istriku." Bagas benar-benar kesal mendengar ucapan mamanya.
"Mama tidak mau tahu. Pokoknya kamu harus pulang. Mama sudah mempersiapkan semuanya untuk lamaran besok, Bagas. Mama mohon, jangan permalukan mama dan papa di depan keluarga Shena." Suara Liana sedikit merendah di akhir kalimat.
"Tapi aku tidak mencintai Shena, Ma. Aku tidak mungkin hidup bersama dengan orang yang tidak pernah aku cintai."
"Mama tidak mau tahu, pulang sekarang juga! Keputusan mama dan papa tidak akan berubah!"
"Kamu akan kehilangan perusahaan yang kamu pimpin sekarang jika kamu menolak keinginan mama dan papa!" Liana mematikan panggilan teleponnya secara sepihak.
Bagas melempar ponselnya dengan kesal. Pria itu menggeram kesal, merasa marah dengan keputusan yang mereka ambil tanpa memikirkan perasaannya.
Seandainya kamu mau menerima cintaku, mungkin nasibku tidak akan seperti ini Sandra. Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menikah dengan wanita itu karena aku tidak mencintainya.
__ADS_1
Bagas mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Ia sungguh tidak menyangka kalau nasibnya akan berakhir seperti ini. Perjodohan, menikah karena bisnis demi kemajuan perusahaan.
"Sial! Kalau aku tahu nasibku akan seperti ini, lebih baik aku tidak kembali pada keluargaku. Aku bisa mengejar Sandra dengan caraku sendiri. Tapi, seandainya aku tidak kembali pada keluargaku, aku tidak mungkin bisa bersaing dengan Sean," ucap Bagas lirih. Pria itu benar-benar merasa kesal pada dirinya sendiri.
Meskipun Sandra mengatakan tidak pernah melihat pria dari kekayaan, tetapi, Bagas juga sadar, orang seperti Sandra bukanlah wanita yang mudah ditaklukkan. Dirinya perlu kekuasaan agar bisa terus mengawasi wanita yang dicintainya itu meskipun sampai sekarang ia belum bisa mendapatkan cintanya.
"Aku heran, kenapa mama dan papa tiba-tiba berubah pikiran. Padahal, dulu aku sudah jelas-jelas meminta restu pada mereka untuk mengejar Sandra. Mereka juga tahu, kalau Sandra adalah perempuan yang dulu pernah dilecehkannya. Mama bahkan sudah bertemu langsung dengan Sandra saat aku membawanya ke rumah," batin Bagas.
"Mama juga terlihat sangat menyukai Sandra, tapi kenapa sekarang dia juga merasa tidak setuju saat aku ingin bersama Sandra?" Bagas kembali mengacak-acak rambutnya kesal.
Telepon dari sang mama membuat moodnya hancur seketika. Bagas melirik beberapa berkas dan laptopnya yang masih dalam keadaan menyala. Lelaki itu mendesah lelah kemudian memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya meskipun pikirannya benar-benar kacau sekarang.
Liburannya gagal karena Bimo tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat. Bagas bahkan belum menikmati liburannya sama sekali.
Ingatannya kembali pada Sandra. Rasa rindunya yang membuncah dan masalah yang sedang dihadapinya kini membuat Bagas ingin sekali bertemu dengan wanita itu untuk meluapkan rasa rindu.
"Aku tidak mungkin menikah dengan dia, karena aku sangat mencintai Sandra. Tetapi, bagaimana caranya agar aku bisa membatalkan acara lamaran besok?"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....