Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
ANCAMAN SHENA


__ADS_3

Bagas mematikan ponselnya karena kesal. Setelah selesai meneleponnya, sang mama kemudian mengirimkan pesan padanya agar segera pulang ke Jakarta. Perempuan yang telah melahirkannya itu mengancam kalau dirinya tidak mau bertemu dirinya lagi selamanya seandainya Bagas masih bersikeras tidak pulang dan tetap memilih Sandra.


Bagas yang sangat mengetahui bagaimana tabiat sang mama jika keinginannya tidak dipenuhi, akhirnya mengalah. Saat itu juga, lelaki yang tadinya berniat menikmati liburannya di Pulau Dewata itu akhirnya memutuskan untuk pulang.


Lelaki itu menyuruh Bimo untuk memesan tiket pesawat agar dirinya bisa pulang besok pagi. Baru saja Bagas berniat istirahat dan memejamkan matanya, wanita yang menjadi biang masalahnya tiba-tiba menelepon.


Shena, wanita itu menelepon Bagas agar segera pulang malam itu juga. Shena merasa tidak percaya pada Bagas. Perempuan itu ketakutan kalau Bagas mengingkari janjinya dan tidak jadi datang untuk melamarnya.


Pada awalnya, acara lamaran itu hanya akan melibatkan dua keluarga saja, yaitu kedua orang tua Bagas dan orang tua Shena. Namun, Shena dan ibunya yang begitu antusias tiba-tiba justru mengundang kerabat dan teman-teman sosialitanya untuk ikut menghadiri acara lamaran tersebut. Akhirnya, pertemuan yang tadinya bersifat pribadi itu berubah menjadi acara yang bisa dikonsumsi publik.


Bukan hanya Shena dan Ratna, ibunya, yang begitu antusias menyambut kedatangan keluarga besar Bimantara, Chandra Hilmawan, ayah Shena bahkan lebih antusias lagi.


Bimantara adalah pengusaha yang sangat sukses. Perusahaannya ada di mana-mana. Kedatangan keluarga Bimantara adalah suatu kebanggaan buat Chandra, apalagi, kedatangan mereka berniat untuk melamar putrinya.


Oleh karena itu, lelaki paruh baya itu dengan begitu percaya diri mengundang teman dan kolega bisnisnya untuk menjadi saksi lamaran sang putri tercintanya. Bukan hanya itu, Chandra bahkan dengan tidak tahu diri menyebutkan tentang hari pernikahan Shena dan Bagas yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat.


Keluarga besar Hilmawan begitu bahagia dan sangat bangga karena akhirnya putri mereka bisa bersanding dengan Bagas, seorang pengusaha muda yang sedang naik daun di dunia bisnis. Pemuda itu bahkan mampu bersaing dengan Sean Ibrahim, pria muda yang sama-sama sukses di dunia bisnis dalam usia muda.


"Aku akan bunuh diri jika kamu tidak datang. Aku tidak mau kamu mempermalukan aku dan keluargaku karena kamu tidak datang." Suara Shena terdengar di ujung sana. Nada suara gadis itu terdengar penuh ancaman.

__ADS_1


Sementara itu, Bagas justru berdecak kesal. Merasa tidak peduli dengan apapun yang akan dikatakan oleh wanita itu.


"Kalau kamu mau bunuh diri, silakan saja. Aku bahkan tidak peduli meskipun kau mati."


"Bagas!" Shena berteriak saat mendengar suara Bagas yang tidak pernah ia duga sebelumnya.


Sebegitu bencikah lelaki itu kepadanya? Sampai-sampai dia tidak peduli sama sekali meskipun dirinya mati?


Sialan!


Shena mengumpat dalam hati. Shena adalah wanita yang selalu menjadi rebutan para lelaki. Wajahnya yang cantik selalu mampu menghipnotis kaum Adam yang melihatnya. Ditambah lagi, Shena juga mempunyai bentuk tubuh yang ideal. Kegemarannya berbaju seksi membuat setiap pria yang melihatnya menelan saliva karena melihat kemolekan tubuh Shena.


Akan tetapi, kenapa semua itu tidak berlaku untuk Bagas? Shena bahkan sudah seringkali merayu Bagas, memakai baju seksi di depan pria itu untuk menguji jiwa kelelakiannya, tetapi, wanita itu tidak pernah berhasil.


Alhasil, dengan terpaksa Shena akhirnya memanggil kekasih gelapnya untuk meredam gairahnya yang menggila.


Kenapa sangat susah sekali menaklukkan seorang Bagas? Bukankah, rumor yang ia dengar selama ini, Bagas adalah seorang cassanova? Lalu, kenapa pria itu terlihat tidak menyukainya sama sekali?


"Baiklah, kalau kamu memang tidak peduli dengan kematianku. Tapi, aku yakin, kamu pasti akan peduli dengan kematiannya bukan?" Shena tersenyum smirk di ujung telepon.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Shena?" Bagas meradang mendengar ucapan wanita itu.


"Dia, si janda gatal mantan model itu–"


"Jangan macam-macam, Shena!" Suara Bagas meninggi saat mendengar ucapan Shena yang menyebut tentang Sandra.


Shena tertawa terbahak-bahak mendengar kemarahan Bagas.


"Aku tidak akan macam-macam jika kamu datang besok. Tapi, aku akan bertindak kejam jika kamu benar-benar tidak datang, Bagas."


"Brengsek! Sedikit saja kau menyentuhnya, aku tidak akan mengampunimu, Shena!" teriak Bagas dengan penuh amarah sekaligus khawatir.


"Kita lihat saja nanti. Semuanya tergantung kamu, Bagas. Jika kamu benar-benar tidak datang melamarku besok, aku pastikan wanita yang telah menyebabkanmu masuk penjara itu hanya akan tinggal nama."


"Brengsek, kau, Shena. Dasar wanita ular! Aku akan–"


Tut!


"Shitt!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....



__ADS_2