
Entah karena firasat atau apa, ayah Aran menelepon saat gadis itu masih berada di kantor. Sudah lama tidak bertemu, Aran keceplosan mengadu tentang pertengkarannya dengan Han. Tadinya dia mengelak dan cuma berkata, kalau dia bercanda, namun saat ayah terus bertanya akhirnya dari mulut Aran berceceran juga cerita lengkap, alasan kenapa dia sampai bertengkar dengan suaminya. Dan kalau sudah bicara dengan ayah, kadang rem di bibir Arab blong dengan sendirinya.
Dan akhirnya, dia mendapat ceramah dari ayahnya.
"Kepercayaan pasangan itu dalam menjalin hubungan Nak. Jangan mengkhianati kepercayaan yang sudah diberikan suamimu." Ayah, walaupun akan membela anaknya, tapi ayah juga bersikap netral, tidak membenarkan anaknya. "Suamimu percaya padamu, memberi izin bekerja kepadamu, dia juga selalu mendukung mimpi dan cita-citamu kan, jadi jangan mengkhianatinya dengan perasaan sepele, seperti kamu yang terpesona sesaat dengan perhatian teman."
Aran tahu maksudnya, jangan coba menabur benih ataupun umpan. Karena bisa menjeratmu dalam hubungan yang tidak semestinya. Saat kau akrab dengan laki-laki lain selain suamimu, kau akan melihat banyak celah kekurangan suamimu. Mungkin seperti itulah nasehat yang coba disampaikan ayah. Jangan sampai laki-laki lain terlihat lebih hebat dari suamimu sendiri.
Aran sempat berkilah sebenarnya, kalau dia lupa, benar-benar lupa dalam arti sebenarnya. Bukan karena dia menyembunyikan perihal Jero dari suaminya. Tapi karena Jero memang bukan hal yang penting untuk di ingat, jadi dia lupa tentang masalah itu.
Lagian, Jero itu cuma tiang penyangga gedung, bagaiman bisa dibandingkan dengan kakak, yang tampan, dan seksi. Plak! Memukul pipi sendiri, sedang teleponan dengan ayahnya malah memikirkan tubuh suaminya.
"Ayah tahu Nak, kamu tidak akan mengkhianati suamimu, setelah perjuangan kalian mendapatkan restu dari ibumu, ayah sangat percaya padamu."
Aran adalah anak baik, bukan karena aku ayahmu. Namun, aku percaya, kalau kau memang anak yang baik. Begitulah, cara ayah menumbuhkan bunga di hati anaknya. Anak gadis yang akan selalu menjadi buah hati kecilnya sampai kapan pun.
"Ayah, aku kangen kalian. Akhir pekan nanti, aku akan mengajak kakak pulang ke rumah ya."
Sekalian Aran juga mau curhat dengan ibu. Tentang bagaimana kalau anak perempuannya ini mau berencana memiliki anak. Entah apa reaksi ibu nanti gumam Aran.
"Ia, nanti ayah bilang ke ibumu. Mau dimasakan apa? Menantu Han suka makan apa? Kamu sering memasak untuknya kan?"
Dueng! Seperti sedang dipukul Aran menggoyangkan kepala. Masak apanya, malah Kakak yang lebih pintar.
"Hehe, aku mencuci buah dan mengupas buah Yah." Ayah tertawa sambil bilang, kau ini belum berubah juga. Sekarang giliran Aran yang tergelak.
Begitulah gadis yang sudah menikah itu akan selalu menjadi gadis kecil ayahnya, ayah masih selalu menjadi tempat mengadu bagi Aran. Ayah akan selalu membelanya dalam situasi bagaimana pun. Tapi tetap menasehati Aran dengan caranya yang bijak.
Saat mau menutup panggilan, satu ceramah panjang di dengar Aran lagi.
"Kalau bertengkar jangan sampai menginap pertengkarannya, kalau bisa diselesaikan hari itu juga, tidak perlu menunggu besok." Ayah bicara dengan suara lembut lagi. Memberi sedikit nasehat dari pengalamannya sudah makan asam garam kehidupan pernikahan. "Seperti itu ayah dan ibu dulu menyelesaikan masalah pertengkaran di antara kami. Kami juga dulu sering bertengkar karena masalah sepele. Dan mengalah, minta maaf duluan bukan berarti dia yang kalah."
Hehe, ayah pasti yang minta maaf duluan, walaupun ibu yang salah. Aran menutup mulutnya terkikik.
"Baik Yah, aku akan ingat itu. Terimakasih banyak nasehatnya ya Yah, salam sayang untuk ibu dan adik-adik."
Ayah menjawab lagi dengan doa panjang untuk putrinya sebelum menutup panggilan.
Setelah bicara dengan ayah, perasaan Aran menjadi jauh lebih lega. Aran senang karena ayahnya meneleponnya.
Berkaca dengan masalah Jero, sekarang Aran bahkan memperkenalkan rekan kerjanya yang baru langsung kepada suaminya. Rekan kerja baru Aran awalnya takut-takut, tapi karena Aran memaksa akhirnya dia memberanikan diri. Berjabat tangan langsung dengan Han. Saat berjabat tangan itu wajahnya langsung pucat. Aliran darah seperti terputus seketika sampai ke lehernya.
Aran tersenyum geli, karena rekan barunya saat itu seperti mau menangis.
"Dia meremas tanganku Aran! Rasanya seperti mau patah Aran! Suamimu menyeramkan!"
__ADS_1
Mengingat kejadian itu Aran jadi terkikik geli sendiri.
Aku merindukan Kakak.
...🍓🍓🍓...
Suasana di kantor semakin tenang setelah kepergian Jero. Laki-laki itu belum menimbulkan kesan mendalam sampai membuat orang merindukan kepergiannya. Hanya ada beberapa orang yang sambil lalu membicarakan alasannya mengundurkan diri, selebihnya tidak ada yang terlalu penasaran.
Untung saja tidak ada yang bertanya padaku. Apa tidak ada yang melihat pertengkaran hari itu ya. Hah! syukurlah kalau tidak ada yang melihat. Itu malah lebih baik kan. Gumam Aran sambil berjalan menuju cofeeshop. Dia mau membeli kopi setelah makan siang.
Sebenarnya bukan tidak ada yang melihat kejadian itu, ada yang melihat. Tapi, karena melihat langsung tendangan sekretaris Han yang seperti melayang di udara, membuat mereka pura-pura tidak melihat dan berusaha melupakan kejadian itu. Tidak ada yang membicarakannya baik di depan Aran atau pun dibelakang Aran. Sekretaris Han yang marah bisa melakukan apa pun gumam mereka yang melihat kejadian itu, jadi menutup mulut adalah jalan terbaik. Demi keselamatan mereka masing-masing.
Begitulah, akhirnya gosip tendangan maut Han menghilang begitu saja.
Aran sedang berdiri di depan kasir, menunggu kopinya selesai dibuat. Sambil melamun dia melihat gambar-gambar gelas kopi aneka macam di dekat menu.
"Aran!"
Panggilan seorang wanita tertangkap pendengaran Aran. Saat gadis itu mencari tahu siapa yang memanggil, ternyata Sandrina yang sedang duduk sendiri sambil meneguk es kopi.
"Kak San!"
Sandrina melambaikan tangan meminta Aran mendekat. Setelah menerima pesanan kopinya, Aran duduk di depan Sandrina. Mereka sudah cukup akrab sekarang dan merubah panggilan.
"Kak San sendirian?"
"Ah, Dokter Harun baru dari sini ya?"
Sandrina terkekeh, sambil menyeruput sisa kopi dalam gelasnya. Lalu menutup wajahnya malu.
"Ia, katanya dia lewat di dekat kantor dan mau bertemu denganku, seminggu ini dia sibuk sekali."
Halah, alasan, pasti dia sengaja. Seperti kakak yang selalu bilang mampir dan selalu bilang tidak sengaja. Hehe.
"Kami makan bersama tadi lalu minum kopi sebentar." Sandrina menjelaskan tanpa diminta.
Pernikahan mereka bahkan diundur karena kesibukan Dokter Harun. Itulah info yang Aran terima dari Han. Kalau Sandrina masih bisa menyesuaikan diri dengan jadwal siarannya, toh gadis itu memang bekerja di dalam ruangan. Kalau Dokter Harun, beberapa Minggu ini memang sedang sangat sibuk katanya begitu. Bahkan sampai harus pergi ke luar negri.
"Kalian pasti jarang bertemu ya kak? Pernikahan juga mundur."
"Aran, kami nggak masalah si dengan diundurnya pernikahan ini, ya mau bagaimana lagi, Kak Harun juga kan tanggung jawabnya besar sebagai kepala RS." Sandrina menatap lurus, melihat mobil yang berhenti di depan gedung. "Tapi, aku terkadang merasa was-was dan takut." Sandrina mulai curhat kegalauan hatinya.
Bohong, kalau saat sendirian setelah pulang kerja dia tidak memikirkannya. Terkadang saat sedang mandi dia kepikiran, saat sedang makan juga terpikirkan lagi, bagaimana kalau batalnya pernikahan mereka, penundaan hari pernikahan ini seperti jalan Tuhan untuk menunjukkan mereka tidak berjodoh. Dan Sandrina takut akan hal itu.
"Dulu, waktu mau menikah bagaimana perasaanmu Aran?"
__ADS_1
Aran tersenyum sebentar, lalu menyeruput kopinya. Meraih tangan Sandrina.
"Kak San, perasaan aku waktu mau menikah itu bahagia, bahagia dan cuma bahagia. Hehe, fokus saja pada kebahagiaan Kak San. Kakak kan mau menikah dengan laki-laki yang kakak cintai."
Wahhh, aku pintar sekali bicara.
"Jangan pikirkan hal-hal yang yang membuat takut Kak, fokuslah pada kebersamaan yang membuat Kak San bahagia."
Karena rasa takut hanya akan membuat hati was-was. Bahkan melahirkan pikiran buruk. Begitulah kenyataannya. Semakin dipikirkan semakin membuat takut.
Sandrina mengangkat gelas kopinya sambil menganggukkan kepala, Aran juga lalu mereka membenturkan gelas itu sambil tersenyum. Perasaan gadis itu semakin tenang. Walaupun kecemasan tidak seratus persen hilang.
Mereka saling pandang, lalu tertawa kecil.
"Jujur ya Aran, aku masih merinding setiap memikirkan siapa suamimu. Hehe. Tapi, kalau dari ceritamu, sepertinya Sekretaris Han pria yang hangat berbeda dengan yang dikenal orang."
"Hehe."
"Dokter Harun juga, agak-agak nyebelin kok dulu."
"Hei! Sekretaris Han itu yang menakutkan."
Lagi-lagi mereka tertawa.
Mereka menghabiskan kopi di gelas masing-masing. Sambil memikirkan orang yang mereka cintai. Sampai waktunya kembali bekerja.
Saat Aran dan Sandrina berjalan keluar dari cofeeshop, hp yang dipegang Aran bergetar. Dia langsung memutar kepala, saat melihat siapa yang memanggil. Di area parkir, Han sedang berdiri sambil melambaikan tangan.
"Wahhh, dia datang. Jangan bilang aku membicarakannya ya, aku pergi dulu." Sandrina menundukkan kepala sebentar ke arah Han, lalu segera memutar tubuh dan kabur masuk ke dalam gedung. Sementara Aran berlari mendekat ke pelukan suaminya.
"Kakak! Kok bisa di sini?"
"Kebetulan aku ada pekerjaan di sekitar sini, jadi mau melihatmu."
Hehe, kan, alasan kalian tidak kreatif. Padahal tadi dia menertawakan alasan Dokter Harun. Eh, ternyata suaminya juga begitu. Tapi, Aran benar-benar senang melihat Han.
"Masuk ke mobil." Tubuh Arah bergerak sendiri karena di dorong dari belakang, dibukakan pintu mobil juga. Saat dia sudah masuk, Han menutup pintu sambil tersenyum dan menoel dagunya.
"Kak! Aku sudah harus bekerja."
"Sebentar saja, cuma cium sebentar, aku merindukanmu."
Akan kuserahkan semuanya padamu Kak, mendengar kerinduan suaminya, Aran langsung pasrah, mau diapakan juga boleh, lebih dari sekali ciuman juga boleh banget. Malah dia yang jadi agresif.
Matahari siang masih bersinar dengan terang di langit.
__ADS_1
Bersambung