Lihat Aku Seorang

Lihat Aku Seorang
RUMAH SAKIT


__ADS_3

Suara sirine ambulans saling bersahutan membelah jalanan. Mobil berwarna putih itu melaju kencang menuju rumah sakit terdekat.


Beberapa petugas medis berlarian saat beberapa orang menurunkan para korban kecelakaan dari mobil ambulans. Mereka dengan sigap mendorong brankar kemudian meletakkan korban di atas brankar. Setelah itu, beberapa orang petugas berlari mendorong brankar menuju ruang IGD agar segera mendapatkan pertolongan.


Di tempat lain, Bimo yang baru saja mendapatkan kabar kecelakaan yang melibatkan bosnya dari pihak kepolisian langsung berlari menuju rumah sakit. Polisi menghubungi laki-laki itu karena nomor Bimo adalah nomor urutan panggilan teratas yang polisi temukan pada ponsel Bagas.


Bimo langsung menghubungi Anisa, istrinya. Laki-laki itu juga menyuruhnya untuk memberitahukan Sandra tentang kecelakaan yang menimpa Bagas.


Anisa sungguh terkejut mendengar kabar tersebut. Wanita itu sungguh khawatir dengan apa yang menimpa Bagas.


Meskipun terkadang Anisa merasa kesal pada Bagas yang seringkali bersikap seenaknya, tetapi, biar bagaimanapun, Bagas adalah bosnya. Pria itu adalah lelaki baik yang membuat dirinya dan sang suami mendapatkan uang.


"Semoga dia baik-baik saja." Anisa berdoa dalam hati.


Anisa menelepon Sandra. Wanita itu mengajak Sandra bertemu. Setelah mereka berdua bertemu, Anisa menceritakan pada Sandra tentang kecelakaan yang menimpa Bagas.


Jangan tanyakan bagaimana terkejutnya Sandra saat mengetahui kalau ternyata Anisa juga mengenal Bagas. Dirinya tentu saja sangat marah karena merasa dibohongi oleh Anisa. Sandra ingin sekali meminta penjelasan pada mantan asistennya itu, tetapi, tentu saja waktunya saat ini sungguh tidak tepat.


Rasa panik dan khawatir Sandra pada laki-laki yang sudah seminggu ini tidak mengabarinya lebih menguasai hatinya hingga membuat Sandra menahan kemarahan dan rasa penasarannya tentang Anisa yang ternyata adalah orang suruhan Bagas.


Mereka berdua menuju rumah sakit di mana Bagas dirawat. Sebelum berangkat tadi, Bimo menelepon memberitahukan di rumah sakit mana Bagas dirawat.

__ADS_1


Sementara itu, di rumah besar keluarga Bimantara, Liana yang baru saja mendengar kabar dari Bimo tentang kecelakaan yang menimpa putranya terlihat begitu panik. Wanita paruh baya itu menangis. Tidak menyangka kalau Bagas yang beberapa jam lalu ia telepon untuk segera pulang ke rumahnya justru sekarang mengalami kecelakaan.


Mungkinkah Bagas terburu-buru pulang karena takut dengan ancamannya? Atau, putranya itu benar-benar khawatir keluarga besarnya merasa malu jika besok dia menolak untuk melamar Shena?


Liana berlari kecil menuju mobil yang terparkir di depan rumahnya. Wanita itu bergegas masuk ke dalam mobil. Di sana, terlihat Bimantara yang sudah menunggunya. Lelaki itu juga terlihat panik dan gelisah.


Biar bagaimanapun, Bagas adalah penerusnya. Bimantara tidak mau terjadi sesuatu pada putranya. Bimantara merangkul istrinya. Membiarkan wanita yang telah membersamainya selama bertahun-tahun itu menangis dalam pelukannya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Liana terus menangis. Menangisi kebodohannya yang sudah mengancam putranya sendiri demi nama baik keluarganya.


"Ini salah mama, Pa. Seharusnya mama tidak memaksanya untuk pulang." Liana menangis dalam pelukan suaminya. Wanita itu benar-benar sangat menyesal karena dirinya sudah memaksa Bagas untuk pulang dan melamar Shena besok pagi.


Sementara Bimantara hanya menghela napas panjang.


Tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi pada istrinya. Perempuan itu sangat ngotot menjodohkan Bima dengan Shena hanya karena gadis itu adalah anak dari sahabatnya.


Apalagi, perusahaan keluarga Shena saat ini juga sedang menjalin kerjasama dengan perusahaan Bimantara.


Pria paruh baya itu sudah menasihati Liana untuk tidak ikut campur dengan kehidupan asmara Bagas. Apalagi, saat itu mereka berdua tahu jika anaknya sedang mengejar cintanya sang mantan model yang pernah dilecehkannya dan membuat putranya itu di penjara.


"Papa sudah peringatin Mama berapa kali untuk tidak mengurusi urusan pribadi Bagas, tapi Mama tidak mau dengar. Seharusnya Mama mikirin perasaan Bagas kalau Mama tidak mau kehilangan putra kita lagi seperti dulu."

__ADS_1


Mendengar ucapan suaminya, Liana semakin menangis. Perempuan baya yang masih terlihat cantik itu sangat menyesali semua keputusannya yang memaksa Bagas untuk melamar Shena padahal dirinya tahu kalau Bagas tidak menyukai Shena sama sekali.


Namun, entah keyakinan dari mana sampai-sampai Liana berpikir jika suatu saat Bagas pasti bisa menerima Shena dan jatuh cinta pada gadis itu.


***


Sandra dan Anisa sudah terlebih dahulu sampai di rumah sakit. Saat mereka datang, Bagas masih berada di ruang operasi.


Bimo tersenyum saat melihat istrinya datang bersama dengan wanita pujaannya Bagas. Lelaki itu mendekati Anisa kemudian memeluknya dengan erat.


Anisa memejamkan mata. Merasa lega saat melihat sosok pria yang dicintainya itu terlihat baik-baik saja.


"Aku hampir saja gila karena aku pikir, kamu juga berada dalam mobil yang sama dengan Bagas."


Anisa awalnya sangat takut saat mendengar kalau mobil yang dikendarai suaminya untuk menjemput bosnya ke Bandara mengalami kecelakaan.


"Bagas merebut kunci mobil dariku saat aku baru saja sampai di Bandara. Dia kabur meninggalkan aku beserta koper miliknya di Bandara."


BERSAMBUNG ....


__ADS_1


__ADS_2